Bursa Saham Asia Melemah, Investor Cermati Potensi Kenaikan Suku Bunga

Bursa saham Asia lesu pada Senin pagi di tengah negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Diterbitkan 22 Juni 2026, 08:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar bursa saham di Asia merosot pada Senin, (22/6/2026). Koreksi bursa saham Asia terjadi seiring keraguan tentang proses perdamaian di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dan imbal hasil obligasi naik. Ini menyebabkan investor memperhitungkan lebih banyak risiko kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Mengutip Channel News Asia, Senin (22/6/2026), pound sterling melemah di tengah laporan Perdana Menteri Keir Starmer sedang mempertimbangkan masa depan politiknya. Hal ini setelah kemenangan telak Andy Burnham dalam pemilihan parlemen mendorong lebih banyak menteri di Partai Buruh yang berkuasa untuk menyerukan agar ia mundur.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan Starmer akan mengundurkan diri, sekaligus mengancam serangan baru terhadap Iran bahkan ketika Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat Iran untuk pembicaraan pertama di bawah kesepakatan perdamaian sementara.

Pembicaraan tersebut dibayangi oleh pengumuman Teheran kalau mereka kembali menutup Selat Hormuz. Situs pelacakan menunjukkan lebih sedikit kapal yang melintas setelah 32 kapal melewati selat tersebut pada Jumat dan 26 kapal pada Sabtu.

Ancaman Iran cukup mendorong harga minyak mentah Brent naik 1,1 persen menjadi US$ 81,43 per barel, masih jauh dari puncaknya pada Mei sebesar US$ 126,41. Harga minyak mentah AS menguat 2,7 persen menjadi US$ 78,70 per barel, tetapi tetap di atas level US$ 67 yang diperdagangkan sebelum perang dimulai.

Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq turun 0,7 persen. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 0,5 persen, sementara kontrak berjangka DAX turun 0,3 persen dan kontrak berjangka FTSE turun 0,1 persen.

 

 

Indeks Acuan di Asia

Indeks Nikkei Jepang naik tipis 0,7 persen, setelah naik hampir 8 persen pekan lalu ke level tertinggi sepanjang masa. Pasar saham Korea Selatan turun 0,9 persen, setelah melonjak lebih dari 11 persen pekan lalu karena permintaan saham semikonduktor.

Indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang turun 0,4 persen.

Obligasi pemerintah tetap berada di bawah tekanan setelah perubahan kebijakan yang agresif oleh Federal Reserve pekan lalu yang membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 75 persen paling cepat pada September.

Kontrak berjangka mengimplikasikan pengetatan sebesar 38 basis poin pada akhir tahun, sementara imbal hasil obligasi 2 tahun naik 4 basis poin ke level tertinggi sejak awal 2025 di 4,2276 persen.

"Prediksi dasar kami adalah kesabaran dan kenaikan pertama pada paruh kedua tahun 2027, tetapi kami percaya margin kesalahan dan toleransi terhadap inflasi lebih lanjut terbatas, dengan risiko nyata kenaikan lebih awal," kata Head of Cross-Asset Strategy JPMorgan, Fabio Bassi.

"Kami tetap optimistis terhadap aset berisiko karena membaiknya pasar tenaga kerja akan menjaga suku bunga tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, mendukung kepemimpinan yang sempit di sektor pertumbuhan berkualitas, kapitalisasi besar, dan teknologi," ia menambahkan.

"Kami melihat risiko kenaikan untuk target S&P yang condong ke arah 8.000,” demikian seperti dikutip.

Indikator inflasi inti yang disukai The Fed akan dirilis pada Kamis dan diperkirakan naik sedikit menjadi 3,4 persen pada Mei, yang menggarisbawahi risiko kebijakan yang lebih ketat.

 

Pergerakan Mata Uang

Para pembicara dari bank sentral termasuk Gubernur Christopher Waller dan Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams.

Pandangan hawkish The Fed membuat dolar tetap didukung pada 161,44 yen, dengan hanya ancaman intervensi Jepang yang mencegah pengujian resistensi di 161,96, puncak dari pertengahan 2024.

Euro melemah menjadi US$ 1,1462, setelah mencapai level terendah tiga bulan pada Jumat di US$ 1,1418. Ketidakpastian politik mendorong poundsterling turun 0,2 persen menjadi US$ 1,3210.

"Di tengah ketidakpastian seputar potensi tantangan terhadap PM Inggris dan apa artinya bagi prospek fiskal, kemungkinan besar obligasi pemerintah Inggris akan tetap berada di bawah tekanan jual di awal pekan," ujar Kepala Riset Pasar di NAB, Skye Masters.

Di pasar komoditas, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menekan harga emas yang tidak memberikan bunga, yang turun 0,1 persen menjadi US$ 4.154 per ons.