Tiga Faktor Ini Jadi Sorotan Investor di Bursa Saham

Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS)-Iran menjadi angin segar bagi pasar keuangan global.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 18:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan global didukung sentimen yang membaik seputar kesepakatan damai Amerika Serikat (AS)-Iran pekan ini. Namun, investor tetap hati-hati karena pemulihan di Selat Hormuz belum lengkap.

Harga minyak berfluktuatif pada Jumat pekan ini karena perundingan damai Swiss dibatalkan, dan ketidakpastian ketahanan gencatan senjata meningkat. Namun, harga minyak Brent turun 9% pekan ini.

Koreksi harga minyak ini telah membantu meredakan kekhawatiran inflasi global. Akan tetapi, pasar kemungkinan tidak akan sepenuhnya menghilangkan premi risiko geopolitik hingga arus pengiriman aktual, kondisi aruansi dan ekspor energi kembali normal dengan lebih jelas.

“Perbedaan utama dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya adalah investor sekarang beralih dari risiko eskalasi perang ke risiko implementasi. Memorandum perdamaian antara AS dan Iran telah meredakan kekhawatiran terburuk, dan beberapa lalu lintas kapal tanker mulai bergerak melalui Hormuz lagi,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (21/6/2026).

Akan tetapi, normalisasi penuh mungkin membutuhkan waktu, beberapa rute tetap dibatasi dan ketegangan regional belum sepenuhnya hilang.

“Oleh karena itu, investor global kemungkinan akan terus mengamati harga minyak dengan cermat sebagai indikator utama apakah ekspetasi inflasi dan imbal hasil global dapat mereda lebih lanjut,” demikian seperti dikutip.

Pertemuan The Fed

Di sisi lain, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan the Federal Reserve (the Fed) terbaru menunjukkan tetap lebih khawatir tentang inflasi dari pada pelemahan pertumbuhan jangka pendek.

The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi dot plot menunjukkan pergerakan lebih agresif. 9 dari 19 pembuat kebijakan memperkirakan, satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Hal ini berbeda dari prediksi sebelumnya yang tidak ada kenaikan suku bunga.

“Hal ini mencerminkan dampak kenaikan harga energi akibat perang Iran, peningkatan lapangan kerja yang tangguh, dan inflasi yang tetap di atas target 2% the Fed,” demikian seperti dikutip.

Akibatnya, pasar telah bergerak lebih jauh dari narasi penurunan suku bunga sebelumnya. Saat ini, kebijakan diprediksi lebih ketat, dengan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan dolar AS tetap sensitive terhadap kejutan kenaikan inflasi.

 

 

Sentimen BI Rate dan MSCI

Sementara itu, dari domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) lagi menjadi 5,75% sesuai dengan harapan. Di mana langkah itu memperkuat pendekatan stabilitas Bank Indonesia.

Selain itu, MSCI baru-baru ini menurunkan kriteria arus informasi menjadi negatif. Hal ini dengan alasan kekhawatiran yang berkelanjutan atas transparansi dalam struktur kepemilikan saham, da tanda-tanda aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

"Namun, komponen lain tidak berubah, dan masih dinilai lebih baik daripada negara-negara pasar berkembang dan maju lainnya,” demikian seperti dikutip.

Hal ini terjadi menjelang keputusan klasifikasi pasar MSCI yang akan datang, di mana investor mengamati apakah Indonesia akan mempertahankan status emerging market. Penurunan peringkat penuh menjadi frontier market atau pasar perbatasan bukanlah skenario dasar, tetapi kepercayaan asing, aliran pasif, dan premi likuiditas pasar ekuitas akan bergantung pada rilis resmi.

“Lingkungan saat ini masih mendukung pendekatan yang hati-hati, tetapi yang lebih penting, selektif. Untuk ekuitas, penurunan harga minyak global dan dukungan rupiah yang lebih stabil mendukung sentimen, tetapi kekhawatiran kebijakan domestik berarti investor cenderung fokus pada saham yang likuid dan fundamentalnya kuat,” demikian dikutip.

 

Fokus Pasar

Ke depan, Ashmore melihat, pasar akan fokus pada tiga hal utama, yaitu apakah gencatan senjata AS-Iran mengarah pada normalisasi aktual pengiriman Hormuz dan menjaga harga minyak tetap rendah.

Selanjutnya, apakah bauran kebijakan Indonesia dapat menstabilkan rupiah tanpa menciptakan terlalu banyak tekanan pada pertumbuhan, dan apakah MSCI dan penyedia indeks global lainnya menjadi lebih nyaman dengan reformasi transparansi Indonesia.

“Jika ketiga area ini membaik, aset Indonesia dapat mengalami pemulihan kepercayaan asing. Kami lebih memilih untuk tetap selektif pada aset yang secara fundamental kuat, sambil mempertahankan diversifikasi di antara kelas aset dalam volatilitas saat ini,” demikian seperti dikutip.