Sukses

Vladimir Putin dan Xi Jinping Saling Dukung Lawan Konfrontasi AS

Liputan6.com, St Petersburg - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menjadi "pemandu wisata utama" timpalannya dari China, Xi Jinping, saat bertemu di kampung halamannya di St Petersburg.

Pada Kamis malam, Kremlin merilis foto-foto tentang Putin yang memperlihatkan Xi di kota kelahirannya itu, yang merupakan bekas ibu kota Kekaisaran Rusia.

Dikutip dari CNN pada Minggu (9/6/2019), Xi diajak oleh Putin untuk mengamati berbagai karya seni dari koleksi Renaissance di museum pusaka setempat, dan menikmati hidangan makan malam di atas kapal pesiar.

Namun, menurut pengamat, kedekatan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin bukan hanya sebatas pertemuan yang disertai agenda jalan-jalan dan santap bersama.

Melalui forum ekonomi yang dihadiri keduanya di St Petersburg, pertemuan tersebut merupakan kesempatan bagi pemimpin China dan Rusia untuk bersatu dalam menghadapi konfrontasi lebih luas dari Amerika Serikat (AS).

Pada hari Rabu, sebelum berlangsungnya forum tersebut, kedua negara merilis sebuah pengumuman besar: Huawei menandatangani kesepakatan dengan MTS --operator telekomunikasi terbesar Rusia-- untuk mengembangkan teknologi 5G.

Kesepakatan itu terjadi ketika Huawei, salah satu perusahaan paling penting di China, berada di pusat perang dagang yang meningkat antara Beijing dan Washington.

Pemerintahan Donald Trump telah melarang Huawei dari keterlibatan apa pun dalam jaringan 5G Amerika, karena khawatir digunakan untuk memata-matai.

AS juga mendesak para sekutunya untuk mengikuti langkah boikot tersebut, sementara Huawei menyangkal bahwa produk-produknya menimbulkan risiko keamanan nasional.

Pertemuan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin berakhir pada hari Sabtu waktu setempat.

2 dari 3 halaman

Putin Mendukung Huawei

Di forum ekonomi St Petersburg, Putin dengan tegas mengatakan berada di sisi Huawei, memperingatkan bahwa tindakan AS mempertaruhkan "perang teknologi" pada era digital.

"Mari kita ambil situasi di sekitar Huawei, misalnya, yang tidak hanya diusir tetapi juga didorong keluar dari pasar global," katanya. "Beberapa sudah mengatakan ini adalah perang teknologi pertama di era digital."

Putin juga mengeluhkan hal yang lebih luas, yakni unilateralisme AS, sesuatu yang telah lama dituduhkan oleh pemimpin Kremlin kepada Washington.

Ditambahkan oleh Putin, Washington ingin mengganti sistem berbasis aturan, di mana negara diperlakukan sebagai aktor yang setara dan berdaulat, dengan situasi ketika AS dan negara-negara ekonomi kuat lainnya mendikte persyaratan.

"Inilah yang dilakukan AS sekaang, berusaha memperluas yurisdiksi mereka ke seluruh dunia," katanya di St Petersburg.

3 dari 3 halaman

Perekonomian Rusia Mengalami Tantangan

Rusia juga mendapat sanksi AS setelah aneksasi semenanjung Laut Krimea di peissir Laut Hitam pada 2014.

Hal itu menghalangi banyak investasi asing masuk ke Rusia, dan pemerintah Moskow telah menggembar-gemborkan investasi China sebagai alternatif yang lebih andal dibandingkan Barat.

Tetapi iklim investasi Rusia menunjukkan sedikit harapan untuk berubah. Bahkan ketika Putin bersiap untuk mendukung kemitraan dengan China, para peserta di forum tersebut menerima beberapa berita negatif.

Salah satunya adalah ketidakhadiran investor AS Michael Calvey, yang saat ini dalam tahanan rumah sehubungan dengan tuduhan penipuan kontroversial di Rusia.

Calvey, yang telah menjadi promotor investasi di Rusia, ditahan di Moskow sehubungan dengan investigasi penipuan skala besar pada Februari lalu.

Dia dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah pada bulan April menyusul protes dari para CEO dan pejabat pemerintah Rusia yang terkenal, dan harapan semakin tinggi bahwa dia mungkin diizinkan untuk menghadiri forum tersebut.

Menurut pengamat, langkah seperti itu akan secara luas dilihat sebagai sinyal bahwa Rusia siap untuk memperbaiki citranya dengan investor. Tapi itu, pada akhirnya, tidak terwujud, meski ada banyak dukungan untuk Calvey.

Loading
Artikel Selanjutnya
Sebut AS Egois, Vladimir Putin Bela China dalam Perang Dagang
Artikel Selanjutnya
Jaga Hubungan Baik, China - Rusia Teken Kerja Sama Ekonomi Senilai Rp 284 Triliun