Sukses

Donald Trump Mengaku Bahagia Selama Korea Utara Hentikan Tes Senjata

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada para gubernur di Gedung Putih pada Minggu 24 Februari, bahwa dia senang selama Korea Utara melanjutkan penghentian sementara uji coba senjata.

Sebelumnya, pemerintahan Trump telah mendesak Kim Jong-un untuk menghentikan program senjata nuklir, sebelum negara sosialis di Semenanjung Korea itu mengharapkan konsesi apa pun.

Namun dalam beberapa hari terakhir, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Senin (25/2/2019), Trump telah mengisyaratkan kemungkinan pelunakan, dengan mengatakan ia akan senang untuk dapat menghapus sanksi jika ada kemajuan berarti dalam denuklirisasi.

Menurut beberapa pengamat, Donald Trump tampaknya terbuka untuk mencari kesepakatan terbatas pada pertemuan puncak dengan Kim Jong-un, pekan ini.

Hal itu disebut sebagai sebuah pendekatan yang mungkin menghasilkan hasil kecil, namun berpotensi signifikan.

Tidak jelas seberapa jauh persiapan kedua belah pihak, tetapi para pejabat di Washington dan Seoul mengatakan KTT di Hanoi memungkinkan para pengawas mengamati pembongkaran reaktor nuklir Yongbyon --salah satu fasilitas utama Korea Utara-- dan membuka kantor penghubung AS-Korea Utara.

Beberapa kemungkinan lain, di antaranya adalah berakhirnya permusuhan teknis antar dua negara Korea sejak 1950-an, dan menjalin beberapa proyek kerja sama, seperti menjalin zona pariwisata di Semenanjung Korea.

"Selama beberapa bulan terakhir, posisi AS telah banyak berubah, memainkan berbagai insentif yang telah dianggap di luar batas, bahkan oleh pemerintahan sebelumnya," kata Adam Mount, analis pertahanan di Federasi Ilmuwan Amerika.

Di lain pihak, para senator dan pejabat keamanan dari kubu Demokrat AS memperingatkan Donald Trump, agar tidak membuat kesepakatan yang tidak akan banyak berpengaruh untuk mengekang ambisi nuklir Korea Utara.

"Saya tidak terburu-buru. Saya tidak ingin memburu siapa pun," kata Trump. "Saya hanya tidak ingin pengujian (senjataP). Selama tidak ada pengujian, kami senang. "

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Tidak Terburu-Buru

Kedua pemimpin akan bertemu di Hanoi pada Rabu dan Kamis esok, delapan bulan setelah pertemuan puncak bersejarah mereka di Singapura, yang pertama antara presiden berkuasa AS dan seorang pemimpin Korea Utara.

Di Singapura, pada 12 Juni 2018, keduanya berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh semenanjung Korea.

Saat itu, Kim Jong-un berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi semenanjung Korea, dan kedua belah pihak sepakat bahwa langkah-langkah membangun rasa saling percaya dapat mempromosikan harapan tersebut.

Tetapi segera menjadi jelas bahwa kedua belah pihak memiliki gagasan yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan denuklirisasi.

Pembicaraan lanjutan terkendala tuntutan AS untuk denuklirisasi Korea Utara yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah, di mana oleh Pyongyang dianggap sebagai unilateral dan "tindakan serupa gangster".

Kini, Donald Trump mengatakan denuklirisasi penuh tetap menjadi tujuan "utama", tetapi tidak terburu-buru untuk untuk mewujudkannya.

Dia juga meminta Korea Utara uuntuk melanjutkan penghentian uji senjata yang telah berlangsung di Korea Utara sejak 2017 lalu.

Trump juga disebut akan mengendurkan jerat sanksi pada Korea Utara, jika negara itu melakukan "sesuatu yang bermakna" pada denuklirisasi.

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Fakta Unik Kim Jong-un KW Jelang KTT Pemimpin Korut dan Trump di Vietnam
Artikel Selanjutnya
Mengulik Isi Kereta Antipeluru Kim Jong-un yang Melaju 60 Jam ke Vietnam