Sukses

Bocah 9 Tahun Asal Pakistan Ungkap Fakta Polisi Bunuh Keluarganya

Liputan6.com, Islamabad - Sebuah keluarga di Pakistan dibunuh oleh aparat kepolisian setempat. Tragedi penembakan ini berhasil diabadikan oleh beberapa saksi mata yang berada di dekat lokasi kejadian.

Hal tersebut terjadi dalam sebuah operasi berbasis intelijen untuk melawan terorisme di bagian barat daya Lahore, sebagaimana dikutip dari BBC pada Rabu (23/1/2019).

Polisi menyampaikan bahwa sebelumnya mereka telah menangkap empat teroris yang berafiliasi dengan ISIS, namun tiga teroris lainnya berhasil melarikan diri ke daerah pinggiran kota Sahiwal dengan mengendarai sepeda motor.

Adalah Umair Khalil, anak laki-laki berusia 9 tahun yang dengan gagah berani menyampaikan apa yang terjadi terhadap keluarganya. Kisah Khalil ini menjadi perhatian publik internasional setelah banyak pengguna media sosial di Pakistan menjadikannya viral.

Ia menyampaikan bahwa keluarganya tengah bepergian dari Lahore --sebuah kota di Provinsi Punjab, Pakistan--, menuju tempat pernikahan salah seorang kerabat dengan menggunakan mobil. Mobil itu dikemudikan oleh seorang teman ayahnya.

Khalil melanjutkan bahwa secara tiba-tiba seorang polisi menghentikan mobil mereka tepat di gerbang tol. Sang ayah mengatakan bahwa ia bersedia memberikan uang, asal tidak ditembak oleh aparat.

"Ayahku mengatakan kepada mereka untuk mengambil uang kami dan tidak untuk menembakkan pistol mereka. Namun mereka mulai menembak," tuturnya.

Dalam penembakan tersebut empat orang menjadi korban. Di antara mereka adalah kedua orangtua Khalil, kakak perempuannya yang berusia 12 tahun, serta pengemudi mobil.

Khalil dan dua adik perempuannya selamat dari penembakan tersebut, dan ditemukan terlantar di sebuah pom bensin yang jauh dari tempat kejadian.

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Tanggapan Pemerintah Pakistan

Menanggapi kasus yang telah viral ini, Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menulis bahwa ia sangat terkejut mengetahui kisah anak-anak kecil menyaksikan orangtua mereka dibunuh. Ia kemudian menambahkan bahwa pemerintah akan melindungi warga negara dan mengatakan bahwa hukum harus diberlakukan secara adil.

"Sementara counter-terrorism department (CTD) (Departemen Penanggulangan Terorisme) telah melaksanakan tugas dengan baik dalam menanggulangi terorisme, setiap orang harus bertanggung jawab di depan hukum. Segera setelah laporan tersedia, akan segera ditindak. Prioritas pemerintah adalah melindungi seluruh warga negara," tulisnya di akun Twitter pribadi.

Sebelumnya, sejumlah polisi telah ditahan pada Sabtu 19 Januari 2019, untuk kemudian proses investigasi dimulai. Hasil dari investigasi tersebut diumumkan pada Selasa kemarin, dan beberapa pejabat senior Departemen Penanggulangan Terorisme telah dipecat dari jabatannya. Lebih lanjut, lima petugas yang terlibat dalam penembakan juga akan diadili.

Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2018 silam. Seorang petinggi kepolisian wilayah bagian selatan Karachi, dipercaya oleh publik telah membunuh Naqeebullah Mahsud. Mahsud adalah korban yang salah diduga sebagai militan kala itu. Kasus tersebut kemudian meluas sejak adanya kampanye kemanusiaan bernama Pashtun Protection Movement (PTM).

Dari hasil penyidikan polisi, Rao Anwar terbukti membunuh Naweebullah namun tidak pernah diadili.

Meskipun keadilan susah dicapai, namun tindakan brutal aparat kepolisian semacam itu akan sangat sulit untuk ditutupi dalam era digital saat ini.

Beruang Sirkus Dilecehkan, Warga Unjuk Rasa

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Kiprah Polisi Ganteng Blasteran Belanda Menolong Istri Teroris Melahirkan
Artikel Selanjutnya
Cara Polisi Jaga Palang Pintu Tol Bikin Gagal Fokus