Sukses

Asap Beracun 'Mengancam' Hidup Seorang Eks Pramugari

Liputan6.com, London- Seorang mantan pramugari mengatakan bahwa ia menderita gangguan kesehatan akibat menghirup asap beracun ketika bekerja di British Airways. Truddie Dadd, nama eks awak kabin itu mengaku, kini ia merasa lelah berkepanjangan, mengalami gangguan ingatan, dan masalah perut.

Seperti dikutip dari News.com.au, Senin (5/12/2016), perempuan 56 tahun yang bekerja selama 20 tahun di maskapai penerbangan British Airways itu juga mengeluh mati rasa pada kakinya dan terkadang linglung, akibat menghirup asap beracun tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa dalam kurun waktu satu tahun, ia dua kali 'keracunan'.

Kejadian yang sama tak hanya dialami oleh Truddie. Sebuah laporan menyebutkan bahwa 4 maskapai penerbangan Inggris dituntut oleh 74 pramugari karena mengakibatkan awak kabin itu menghirup udara beracun saat melakukan penerbangan.

Laporan tuntutan itu disampaikan oleh Unite, yang mengurus 60 kasus serupa. Pada umumnya penuntut merupakan mantan awak kabin British Airways, beberapa di antaranya Virgin Atlantik, easyJet, dan Jet2.

Bocornya kasus tersebut menguak adanya 292 insiden yang terjadi akibat asap beracun dari dalam pesawat yang dioperasikan oleh maskapai Inggris selama juni 2014 hingga Mei 2015.

"Ini merupakan masalah kesehatan yang seharusnya sudah menjadi fokus utama perusahaan penerbangan. Dan ini berkaitan dengan dampak penggunaan asbestos (bagian tahan api dalam pesawat) oleh industri pembuatan burung besi," kata Howard Beckett yang bekerja untuk Unite.

Truddie berhenti bekerja untuk Bristish Airways pada September 2016 karena gangguan kesehatan yang dialaminya. Menurut keterangannya, bau asap tersebut tercium seperti cairan penghapus cat kuku dicampur dengan bau tak sedap kaki.

"Beberapa bulan terakhir kesehatanku semakin memburuk...Aku jadi pikun, tak bisa mengingat hal-hal kecil seperti nama seseorang ... Aku tak 'berfungsi' lagi," kata mantan pramugari itu.

Perempuan yang bercita-cita menjadi pramugari sejak kecil itu terpaksa harus dirawat di rumah sakit setelah menghirup asap beracun tersebut.

Pada 2015, Truddie mengalami gangguan kesehatan serupa. Kala itu ia dilarang terbang selama 6 bulan oleh maskapai penerbangannya.

Setelah melakukan pemeriksaan, Truddie malaporkan insiden asap beracun itu kepada pihak British Airways. Namun pihak maskapai tidak mengindahkan laporan tersebut.

"Di mata mereka hal seperti ini tak 'terjadi'," ujar Truddie. "Aku terpaksa meninggalkan pekerjaan yang aku cintai, yang selalu aku mimpikan sejak usia 10 tahun. Aku sangat marah dengan keputusan ini."

Menanggapi hal tersebut pihak British Airways mengatakan mereka 'tidak akan mengoperasikan pesawat yang membahayakan penumpang ataupun awak kabin'.