Sukses

Latar Belakang Pergerakan Massa dengan Kekerasan Menurut Sains

Liputan6.com, Jakarta - Ketika kita melihat pergerakan-pergerakan massa, seringkali kita melihat perkataan, tindakan, atau pendapat yang terdengar sangat kejam, sadis dan tanpa nurani.

Misalnya, kita mendengar ancaman-ancaman untuk membunuh, menggantung, atau mencincang seseorang lain yang berbeda ras atau agama dari kelompok pergerakan-pergerakan massa.

Mengapa demikian?

Dikutip pada Jumat (4/11/2016) dari ulasan Joe Navarro M.A. dalam Psychology Today, ternyata hal-hal yang sebenarnya bukan baru tersebut memiliki beberapa alasan yang mendasarinya.

Pada 1951, Eric Hoffer menerbitkan "The True Believer", suatu tulisan klasik yang kemudian banyak dibaca dan dipelajari.

Sebagai seorang pengamat pergerakan-pergerakan massa, Hoffer memaparkan bahwa pergerakan-pergerakan massa menarik orang-orang karena memberikan harapan bagi mereka.

Bagi kelompok seperti ISIS, misalnya, harapan itu adalah pendirian kekhalifahan global yang sekali lagi berkuasa dan memerintah atas seluruh negara dan masyarakat Muslim.

Hoffer maju selangkah dalam analisisnya dan menjelaskan bahwa orang-orang yang terpinggirkan, putus asa, pengangguran, terluka secara sosial, atau mengalami trauma secara alamiah tertarik kepada pergerakan massa karena afiliasi kolektif yang menghadirkan makna ke dalam hidup mereka, berbarengan dengan prospek adanya harapan.

Tapi, yang lebih menggentarkan, Hoffer menemukan suatu jenis lain individual yang tertarik dengan pergerakan-pergerakan massa. Bahkan, partisipasi orang-orang itulah yang seringkali diperlukan untuk menyuburkan pergerakan-pergerakan demikian.

Ia menyebut orang-orang demikian sebagai "The Sinners." Kita harus maklum dengan pemilihan kata oleh Hoffer karena ia tidak dididik dalam psikologi. Tapi jangan biarkan istilah atau terminologi yang dipakainya menarik kita dari ketepatannya menguak pergerakan-pergerakan massa.

Eric Hoffer mendapati bahwa pergerakan-pergerakan massal menarik orang-orang yang sekarang ini bisa disebut kepribadian psikopatik.

2 dari 2 halaman

Psikopat, Mati Rasa dan Tanpa Penyesalan

Pada hakekatnya, mereka adalah pemangsa, yaitu orang-orang yang mendapat kepuasan setelah menyebabkan kerusakan hebat, yang mungkin saja sadistik, dan tidak mawas sedikitpun dengan hal yang dia lakukan. Temuan ini seringkali terluput oleh banyak ahli sosiologi, apalagi masyarakat umum.

Pengamatan Hoffer sebenarnya tidak mengejutkan karena bukankah Nazi beranggotakan banyak psikopat? Di bawah panji-panji dan seragam coklatnya, mereka melakukan kejahatan-kejahatan tanpa penyesalan sama sekali.

Pergerakan-pergerakan massa yang menggunakan kekerasan sebagai bagian dari solusi mereka menarik para psikopat, bahkan memerlukan mereka --harus ada yang melakukan tindakan kekerasan seperti pemenggalan, penembakan massal, dan membakar orang lain dalam keadaan hidup walaupun sudah memohon-mohon.

Pergerakan-pergerakan massa seperti itu memerlukan orang yang mati rasa, yang mampu menyakiti orang lain tanpa ragu karena mereka tidak ada nurani lagi.

Mereka memerlukan orang-orang yang kebal dengan ucapan memohon-mohon dari ibu yang berduka atau menonton anak kecil yang menangis namun harus dimatikan.

Psikopat tidak sama dengan orang biasa. Ketika orang-orang biasa mungkin mencari cinta dan keberhasilan dalam hidup, seorang psikopat mencari kelemahan dan kesempatan yang bisa dieksploitasi.

Selain membinasakan musuh dengan cara-cara keji, kelompok ISIS juga diketahui menjual kaum wanita tawanannya melalui lelang. (Sumber The Mirror)

Bagi para psikopat, pergerakan-pergerakan massa, terutama yang dibungkus dengan agama, memberikan kesempatan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa terhalangi oleh moralitas, hukum, ataupun polisi.

Bagi mereka -- terutama yang berada dalam pergerakan massa dengan kekerasan -- apapun filsafat yang diusung, rasanya seperti berada di dalam taman bermain di mana pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, penembakan, atau mencincang manusia lain membawa manfaat dan sekaligus menghibur.

Dalam pergerakan-pergerakan massa dengan kekerasan, semakin kejam dan pahitnya seorang anggota, maka semakin membanjirlah hormat dari sesama anggota lainnya dan dari para calon yang akan diajak.

Padahal, tidak banyak hal baru dalam pengetahuan kita tentang ini. Sudah lama kita mengetahui jenis orang-orang yang bergabung dengan pergerakan-pergerakan massa seperti itu.

Rekrutmen yang dilakukan sekarang ini bukan lagi menggunakan ajakan mulut ke mulut, pawai raksasa, atau iklan-iklan di koran. Internet sekarang menjadi sarana utama.

Internet seperti itu dipenuhi dengan kemarahan, kebencian, kekerasan, dan dipaparkan dalam kebrutalan teatrikal sehingga menarik ribuan orang.

Ya, tidak semua orang itu adalah psikopat, tapi cukup banyak yang demikian. Kekejian saling ditularkan satu sama lain dan para psikopat ini tidak mempunyai nurani.

Robert Hare, pakar utama dalam psikopati, memperingatkan kita bahwa orang-orang demikian tidak memiliki penyesalan. Artinya, orang bisa memohon-mohon kepada ular agar tidak menggigit, tapi reptil itu tetap melakukan apa yang dimauinya. Demikian juga halnya dengan psikopat.

  • Psikopat dikenal kepribadian anti-sosial, merupakan gangguan kepribadian yang ditandai kurangnya empati dan kebiasaan melanggar peraturan.
    Psikopat
  • Nazi
  • ISIS