Suriah Laporkan Pelarian Massal dari Kamp Tahanan Keluarga Terkait ISIS

Badan intelijen internasional mengkhawatirkan pelarian massal ini menjadi momentum bagi ISIS untuk bangkit kembali.

Diterbitkan 28 Februari 2026, 10:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Damaskus - Pelarian massal dilaporkan terjadi bulan lalu di kamp al-Hol, Suriah—yang kini telah ditutup dan sebelumnya menampung ribuan orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris ISIS. Insiden ini terjadi setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF)—kelompok bersenjata yang dipimpin Kurdi—menarik diri dari kamp tersebut, memicu kekhawatiran bahwa ribuan penghuni telah melarikan diri.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah Nureddin Baba, seperti dikutip CNN, mengatakan SDF mundur tanpa berkoordinasi dengan pemerintah Suriah maupun koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) yang memerangi ISIS. Otoritas Suriah, kata dia, menemukan lebih dari 100 titik pelanggaran pada dinding perimeter kamp yang diduga mempermudah penyelundupan dan pelarian. Jumlah pasti orang yang kabur masih diverifikasi.

SDF membantah tudingan tersebut dan menyebut pernyataan pemerintah sebagai informasi "menyesatkan". SDF menuduh faksi-faksi yang berafiliasi dengan Damaskus memasuki kamp dan mengeluarkan keluarga anggota ISIS. Penarikan pasukan, menurut SDF, dilakukan untuk mencegah kamp berubah menjadi medan pertempuran terbuka akibat mobilisasi militer pemerintah di sekitar lokasi.

Kekhawatiran atas skala pelarian juga tercermin dalam memo internal yang dikirim kepada negara-negara anggota Uni Eropa. Dokumen tersebut memperingatkan bahwa ribuan orang—yang disebut sebagai mayoritas penghuni kamp—mungkin telah kabur, sementara status warga negara asing yang melarikan diri masih belum jelas.

The Wall Street Journal, mengutip badan intelijen AS, melaporkan antara 15.000 hingga 20.000 orang, termasuk afiliasi ISIS, kini berada dalam pelarian di Suriah akibat eksodus dari Kamp al-Hol. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyebut kamp al-Hol menampung lebih dari 30.000 orang.

 

Kompleksitas Keamanan di Suriah

Situasi keamanan di timur laut Suriah memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Pasukan pemerintah merebut wilayah luas yang sebelumnya dikuasai SDF, termasuk area yang menjadi lokasi penjara dan kamp tahanan ISIS. Pada periode yang sama, tahanan juga dilaporkan melarikan diri dari Penjara al-Shaddadi, yang menurut SDF menahan ribuan anggota ISIS.

SDF selama ini menjadi mitra utama AS dalam memerangi ISIS di Suriah. Namun, penarikan pasukan AS pada 2019 melemahkan posisi SDF. Dinamika semakin kompleks setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024 dan naiknya Ahmad al-Sharaa sebagai presiden Suriah.

Koalisi pimpinan AS sebelumnya mengandalkan SDF untuk menjaga penjara-penjara ISIS. SDF kini menuduh koalisi gagal mencegah laju pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Suriah.

Di tengah situasi tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) awal bulan ini mengumumkan telah menyelesaikan misi selama 23 hari untuk memindahkan lebih dari 5.700 tahanan ISIS dari timur laut Suriah ke Irak. Langkah ini disebut untuk memastikan para tahanan tetap berada dalam pengawasan ketat dan mengurangi risiko kebangkitan ISIS.

ISIS sendiri merupakan kelompok yang muncul dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak dan pernah menguasai sekitar sepertiga wilayah Suriah dengan Raqqa sebagai pusat kekuasaan. Meski dinyatakan kalah pada 2019, sel-sel ISIS masih beroperasi secara tersembunyi di Suriah dan Irak. Sejumlah negara di kawasan serta sekutu Barat sebelumnya telah memperingatkan potensi kebangkitan kelompok tersebut di tengah ketidakstabilan politik.

Tekanan internasional juga meningkat terhadap sejumlah negara, termasuk Australia, AS, dan Inggris, untuk memulangkan ribuan warganya—sebagian besar perempuan dan anak-anak—yang masih berada di kamp-kamp penahanan Suriah sejak runtuhnya ISIS lebih dari lima tahun lalu. Lebih dari separuh penghuni kamp al-Hol adalah anak-anak, mayoritas berusia di bawah 12 tahun.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pekan lalu menyatakan negaranya tidak akan memulangkan warga yang memiliki kaitan dengan ISIS. Pernyataan itu menyusul laporan bahwa 34 perempuan dan anak-anak Australia dipulangkan oleh otoritas Suriah setelah meninggalkan kamp al-Roj, yang juga menampung militan ISIS dan keluarga mereka.

Kamp al-Roj diketahui menampung Shamima Begum, warga Inggris yang meninggalkan London pada usia 15 tahun untuk bergabung dengan ISIS pada 2015 dan kemudian dicabut kewarganegaraannya.

 

Alasan Penutupan Kamp Al-Hol

Pemerintah Suriah seperti dikutip dari laporan Associated Press menyatakan keputusan mengosongkan kamp al-Hol diambil karena lokasinya yang terpencil di wilayah gurun dan berdekatan dengan area yang belum sepenuhnya berada di bawah kendali otoritas. Meski sebagian besar penghuni tidak pernah didakwa melakukan kejahatan, mereka selama bertahun-tahun berada dalam penahanan de facto di fasilitas yang dijaga ketat tersebut.

Baba menegaskan bahwa perempuan, anak-anak, dan lansia yang berada di kamp tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai pelaku kejahatan semata-mata karena hubungan keluarga mereka.

"Mereka bukan kriminal karena hubungan keluarga mereka, tetapi mereka membutuhkan perlindungan dan bantuan," ujarnya.

Menurut Baba, otoritas Suriah telah memindahkan banyak penghuni ke lokasi lain yang lebih mudah dijangkau lembaga bantuan kemanusiaan. Anak-anak di lokasi baru itu akan mendapatkan pendidikan serta program rehabilitasi.

Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan penghuni kamp al-Hol di Provinsi Hassakeh dipindahkan ke Kamp Akhtarin di Provinsi Aleppo, sementara sebagian lainnya dipulangkan ke Irak. Pemerintah Suriah menyatakan akan menahan individu yang terbukti terlibat dalam tindak kejahatan.

Setelah kekalahan ISIS pada 2019, sekitar 73.000 orang tercatat tinggal di kamp al-Hol. Jumlah tersebut terus menurun seiring sejumlah negara memulangkan warganya. Kementerian Luar Negeri Suriah saat ini berkomunikasi dengan pemerintah negara asal warga terkait untuk membahas langkah penanganan selanjutnya.