Palestina dan Israel Sepakat Mengakhiri Kekerasan

Israel dan Palestina sepakat mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir. Organisasi garis keras kedua negara menanggapi dingin perjanjian damai itu.

Diterbitkan 09 Februari 2005, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Sharm al Shaikh: Israel dan Palestina sepakat mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir di kedua negara. Kesepakatan itu dinyatakan Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon dalam sebuah pertemuan di Kota Sharm al Shaikh, Mesir, Selasa (8/2).

Abbas menegaskan, pihaknya setuju tak lagi melancarkan aksi kekerasan. Sebaliknya, Sharon berjanji, militer Israel tidak akan melancarkan operasi terhadap warga Palestina di wilayah manapun. Sharon juga menjamin pihaknya segera membebaskan ribuan warga Palestina yang ditahan.

Pertemuan Abbas dan Sharon ini adalah yang pertama dalam empat tahun terakhir. Fasilitator pertemuan, Presiden Mesir Husni Mubarak dan Raja Yordania Abdullah menyambut baik semangat positif kedua negara. Mereka berharap iktikad itu dapat membuka jalan damai secara jujur dan serius.

Warga Palestina memberikan beragam reaksi menyusul dicapainya kesepakatan damai antara kedua negara. Sebagian besar warga yang mengikuti pidato kedua kepala negara itu melalui televisi mengatakan, mereka berharap hasil pertemuan akan menandai awal baru membaiknya hubungan kedua negara.

Beberapa warga Palestina lainnya mengatakan, ragu Israel siap berkompromi dalam sejumlah kasus seperti masalah pengungsi Palestina, Yerusalem, dan permukiman Yahudi di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sejauh ini, Israel hanya sepakat membebaskan tahanan yang tak terkait tindak kekerasan.

Juru bicara Hamas menegaskan, kelompok mereka tak terikat dengan perjanjian damai itu. Hamas tetap menuntut pembebasan tahanan Palestina sebagai syarat minimum. Organisasi garis keras Palestina ini juga berharap Israel menepati komitmennya sebelum kelompok perjuangan Palestina melakukan hal serupa.

Berbeda dengan Hamas, pejuang Brigade Syuhada al Aqsha menuding Sharon bertanggung jawab atas pembunuhan warga Palestina. Mereka juga tak melihat ada hal yang menjanjikan dalam kesepakatan tersebut.

Sebagian warga Israel berharap banyak pada kesepakatan itu, namun sebagian lain bersikap skeptis. Di tempat lain, aktivis Yahudi garis keras membuat grafiti di dinding Kota Tel Aviv yang bernada ancaman. Kelompok ini mengancam, nasib Sharon akan berakhir seperti mantan PM Ritzak Rabin yang tewas pada 1995 oleh militan sayap kanan Israel.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)