Militer AS Kembali Picu Kemarahan Jepang, Marinir Ditangkap atas Pembunuhan di Okinawa

Ini bukan kali pertama pasukan AS di Jepang berulah.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Penangkapan seorang anggota Marinir Amerika Serikat (AS) atas dugaan merampok dan membunuh seorang perempuan di Okinawa menuai kecaman dari para pemimpin Jepang. Kasus itu juga kembali memicu protes terhadap besarnya kehadiran militer AS di pulau tersebut.

Kasus tersebut berpotensi mempersulit upaya Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk memperkuat pertahanan Jepang di Okinawa sekaligus meningkatkan kerja sama dengan militer AS untuk menghadapi ancaman China di kawasan.

Kepolisian Prefektur Okinawa menangkap Devin Jacob Ballard (20) anggota militer AS yang bertugas di Pangkalan Udara Futenma pada Minggu (4/10/2026). Ia diduga mencekik Anna Yagi (39) di sebuah hotel di Naha, ibu kota Okinawa, pada Sabtu (3/10) dini hari, kemudian mengambil dompet dan tas punggung korban.

Menurut laporan media Jepang, Ballard membantah tuduhan tersebut.

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan seorang pria mengenakan pakaian serba hitam dan sepatu putih memasuki hotel bersama Yagi. Pria itu kemudian terlihat keluar seorang diri.

Ballard ditangkap setelah seorang polisi yang sedang berpatroli melihatnya berjalan di kawasan hiburan di Kota Okinawa, sekitar 25 kilometer di timur laut Naha.

Kantor berita Kyodo melaporkan, kepala Ballard yang dicukur dan tato di kedua lengannya cocok dengan ciri-ciri pria yang terekam kamera pengawas.

"Saya marah dan tidak habis pikir mendengar seorang tersangka datang ke kawasan hiburan itu setelah melakukan pembunuhan," kata Kenji Higa, warga Kota Okinawa, kepada Okinawa Times.

 

Kemarahan terhadap Kehadiran Militer AS Telah Berlangsung Lama

Warga Okinawa sejak lama keberatan dengan besarnya kehadiran militer AS di pulau tersebut. Namun, banyak di antara mereka belakangan juga mengakui nilai strategis keberadaan pasukan AS di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap China.

Okinawa berada di bawah pendudukan AS sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga 1972. Kini, pulau tersebut menjadi lokasi sekitar 70 persen fasilitas militer AS di Jepang dan menampung sebagian besar dari sekitar 50.000 personel militer AS yang ditempatkan di negara itu.

Kemarahan warga juga dipicu oleh meningkatnya tindak kriminal yang melibatkan personel militer AS. Menurut kepolisian prefektur, jumlah kasus pidana yang berkaitan dengan militer AS meningkat menjadi 101 kasus tahun lalu, dari sekitar 40 kasus pada 2020.

Pada 1995, pemerkosaan terhadap seorang anak perempuan berusia 12 tahun oleh tiga anggota militer AS memicu demonstrasi besar menentang besarnya kehadiran pasukan Amerika di Okinawa.

Kemarahan serupa kembali muncul setelah seorang anggota militer AS memperkosa seorang remaja perempuan pada 2024. Kasus itu juga memicu sorotan karena baru diungkap kepada publik beberapa waktu setelah kejadian.

Sekitar 160 orang menggelar aksi protes di Naha pada Minggu. Mereka mengecam kasus tersebut dan kembali menuntut agar pangkalan-pangkalan militer AS dipindahkan dari Okinawa.

Salah satu poster yang dibawa demonstran bertuliskan, "Kami sudah muak!"

"Kasus ini sangat mengguncang dan semakin menambah ketakutan warga Okinawa yang selama ini harus hidup berdampingan dengan pangkalan militer AS," kata Gubernur Okinawa yang baru terpilih, Genta Koja, kepada wartawan di Naha pada Minggu malam seperti dilaporkan Associated Press.

"Ini sama sekali tidak dapat dimaafkan. Kami sangat marah."

Koja mengatakan, kasus tersebut menunjukkan bahwa langkah-langkah disipliner yang selama ini diterapkan militer AS setelah berbagai kasus serupa belum efektif.

"Saya sangat marah atas hilangnya nyawa seorang warga Okinawa," kata Koja kepada Komandan Pasukan Ekspedisi Marinir III Letnan Jenderal Benjamin Watson dan Konsul Jenderal AS di Naha Andrew Ou pada Senin.

Koja memanggil keduanya ke kantor pemerintah Prefektur Okinawa dan meminta pihak AS mengambil langkah pencegahan yang benar-benar efektif.

Watson mengatakan, "Saya memahami bahwa insiden serius ini telah menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan besar di kalangan warga Okinawa, yang selama ini hidup berdampingan dengan kami."

"Kami berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik … dan mendapatkan kepercayaan masyarakat Okinawa," ujarnya.

Di Tokyo, Takaichi mengecam kasus tersebut dan meminta AS memberikan kerja sama penuh, sekaligus memperketat disiplin dan langkah pencegahan terhadap personel militernya.

Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi juga memanggil Komandan Pasukan AS di Jepang Letnan Jenderal Stephen Jost ke kementeriannya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menyampaikan kemarahannya kepada Duta Besar AS untuk Jepang George Glass.

 

Tersangka Akan Diproses di Jepang

Melalui platform X pada Minggu, Glass menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa AS bekerja sama dengan pihak berwenang Jepang.

Pada Senin, Glass mengatakan telah mengingatkan para komandan militer AS mengenai pentingnya memastikan personel AS memenuhi standar disiplin dan integritas yang setinggi-tingginya.

Ia juga mengatakan dirinya dan Watson telah membahas langkah selanjutnya untuk memperkuat ikatan kepercayaan dengan mitra Jepang dan masyarakat di sekitar pangkalan militer.

Berdasarkan perjanjian bilateral mengenai status pasukan atau Status of Forces Agreement, perkara ini ditangani oleh pihak berwenang Jepang karena Ballard sedang tidak bertugas dan ditangkap di luar pangkalan militer.

Jaksa Jepang mulai memeriksa perkara tersebut pada Senin untuk menentukan apakah Ballard akan didakwa secara resmi dalam beberapa pekan mendatang.

Jika terbukti bersalah, ia dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati.