Perang Iran dan Demam AI Bisa Dorong Bitcoin Tembus Rp 2,2 Miliar

Persaingan AI antara AS dan China serta konflik Iran bisa memicu pencetakan uang besar-besaran yang menguntungkan pasar kripto termasuk Bitcoin.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Chief Investment Officer Maelstrom sekaligus tokoh kripto dunia, Arthur Hayes, memprediksi harga Bitcoin berpotensi kembali menyentuh rekor tertinggi baru di level USD 126 ribu atau sekitar Rp 2,2 miliar  (estimasi kurs Rp 17. 497 per dolar AS) tahun ini.

Prediksi tersebut muncul di tengah memanasnya konflik Iran serta persaingan Amerika Serikat (AS) dan China dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dikutip dari CoinMarketCap, Rabu (13/5/2026), dalam tulisan terbarunya di Substack, Hayes menilai perlombaan AI membuat pemerintah dan sektor keuangan global semakin agresif mencetak uang demi mendukung pembangunan infrastruktur teknologi.

Menurut dia, kondisi tersebut justru menjadi lingkungan ideal bagi aset kripto seperti Bitcoin.

“Kombinasi kemauan politik untuk memenangkan perlombaan AI dan kemauan finansial untuk mendanai pembangunan melalui pencetakan uang serta pinjaman bank menciptakan lingkungan sempurna bagi kripto,” tulis Hayes.

Ia menambahkan, kebutuhan investasi AI dan elektrifikasi yang terus melonjak membuat jumlah uang fiat di dunia akan meningkat jauh lebih besar dibanding saat ini.

“Akan ada jauh lebih banyak uang fiat beredar di masa depan dibanding sekarang, dan percepatan itu terjadi karena belanja modal tahunan AI serta elektrifikasi meningkat sangat cepat,” ujar Hayes.

Hayes juga menyoroti bagaimana perlombaan AI kini berkaitan langsung dengan keamanan nasional. Menurutnya, Amerika Serikat dan China sama-sama melonggarkan kondisi keuangan demi memenangkan persaingan teknologi tersebut.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Pencetakan Uang Tambahan

Hayes mengatakan perang juga menjadi faktor yang mendorong inflasi global. Konflik Iran, menurut dia, tidak berbeda dengan perang-perang lain yang membutuhkan belanja besar pemerintah dan akhirnya memicu pencetakan uang tambahan.

Ia menilai negara-negara dunia mulai mengalihkan fokus investasi dari obligasi pemerintah AS dan saham menuju pembangunan infrastruktur domestik. Perubahan arah investasi itu diyakini memperbesar kebutuhan likuiditas baru di pasar.

“Politisi mendukung pencetakan uang ini karena kebutuhan nyata maupun persepsi kebutuhan. Itu sebabnya Bitcoin setelah 28 Februari mampu mengungguli aset berisiko utama lain seperti emas dan saham teknologi AS,” kata Hayes.

Sebelumnya pada Maret lalu, Hayes juga sempat memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya untuk membantu pembiayaan konflik dan menopang ekonomi.

Di tengah sentimen tersebut, pasar kripto memang mulai menunjukkan pemulihan. Sebagian besar aset kripto sempat mencetak rekor tertinggi baru pada tahun lalu dengan kapitalisasi pasar global mencapai USD4,28 triliun menurut CoinMarketCap.

Namun setelah itu pasar mengalami tekanan dan koreksi cukup dalam sehingga banyak analis memperdebatkan kapan reli besar berikutnya akan terjadi.

 

Titik Terendah Bitcoin di USD 60 Ribu

Menurut Hayes, Bitcoin sebenarnya sudah mencapai titik terendah tahun ini di level USD 60 ribu. Dengan dukungan likuiditas besar dari dolar AS maupun yuan China yang diperkirakan terus bertambah, ia optimistis Bitcoin akan kembali menembus level USD 126 ribu.

“Bitcoin telah menyentuh titik bawah di USD 60 ribu awal tahun ini, dan dengan dorongan triliunan dolar serta yuan yang belum dicetak, maka kembali ke USD126 ribu adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi,” ujar Hayes.

Ia bahkan memperkirakan reli Bitcoin bakal semakin agresif setelah berhasil melewati level USD 90 ribu.

“Saya memperkirakan reli akan semakin kuat dan para pihak yang meragukan Bitcoin akan mulai terdiam ketika pergerakan harga Bitcoin berubah eksplosif setelah menembus USD90 ribu,” kata Hayes.

Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 79.467 hingga USD 82.496 dalam tujuh hari terakhir. Pada perdagangan Rabu, harga Bitcoin berada di sekitar USD81 ribu atau naik lebih dari 31% dibanding titik terendah pada 6 Februari di level USD 62.822.

Sementara itu, harga emas juga mengalami kenaikan dalam periode yang sama, meski tidak sebesar Bitcoin.