Perak atau Bitcoin, Mana yang Lebih Cuan hingga 2028?

Perak dan Bitcoin punya prospek berbeda hingga 2028. Tiga model AI membandingkan potensi kenaikan dan risiko kedua aset tersebut.

Diterbitkan 16 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perak dan Bitcoin memasuki Agustus 2026 dengan kondisi pasar yang berbeda. Harga perak berada di kisaran US$ 64-US$ 66 per ounce setelah menembus level harga yang bertahan selama puluhan tahun.

Sementara itu, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 62.000-US$ 64.000 setelah kehilangan hampir 50 persen dari rekor harga pada Oktober 2025.

Dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (16/8/2026), perbedaan posisi tersebut memunculkan pertanyaan menarik: aset mana yang berpotensi memberikan persentase keuntungan lebih besar hingga 2028?

Untuk menjawabnya, data pasar yang tersedia dianalisis menggunakan tiga model kecerdasan buatan (AI), yakni Grok, ChatGPT, dan Claude. Ketiganya memiliki pandangan risiko yang berbeda, tetapi menghasilkan kesimpulan yang relatif sejalan mengenai peluang utama kedua aset.

Harga perak masih jauh di atas kisaran perdagangan sebelum 2025. Perak mengawali 2025 di bawah US$ 30 per ounce, sebelum melonjak hampir 145-150 persen dan mengakhiri tahun di kisaran US$ 71-US$ 72.

Penguatan berlanjut pada Januari 2026. Harga perak sempat bergerak dari US$ 90 hingga lebih dari US$ 120, bergantung pada pengukuran harga spot maupun kontrak berjangka.

Namun, reli tersebut kemudian kehilangan momentum. Harga perak kembali ke sekitar US$ 70 sebelum turun menuju US$ 56-US$ 58 pada Juni 2026. Setelah pembeli kembali masuk pasar, harga pulih ke kisaran US$ 64-US$ 66 pada Agustus.

 

Gerak Harga Perak

Meski mengalami koreksi, harga perak masih mempertahankan sebagian besar kenaikan yang diperoleh sepanjang 2025. Harga logam ini juga tetap berada jauh di atas level US$ 50 yang selama puluhan tahun menjadi batas penting pergerakannya.

Salah satu tantangan perak adalah pasokan yang tidak dapat bertambah dengan cepat ketika harga naik. Sebagian besar produksi perak berasal dari tambang yang sebenarnya menghasilkan tembaga, seng, atau timbal sebagai komoditas utama. Karena itu, kenaikan harga perak tidak otomatis mendorong peningkatan produksi.

Permintaan industri menjadi faktor pendukung lainnya. Perak banyak digunakan karena memiliki kemampuan menghantarkan listrik yang sangat baik. Perkembangan energi bersih, kendaraan listrik, dan infrastruktur pusat data berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasokan perak hingga 2028.

Namun, perak tetap menghadapi risiko. Pelemahan aktivitas industri dapat menekan permintaan manufaktur. Peningkatan daur ulang juga berpotensi menambah pasokan ke pasar.

 

perjalanan Panjang Bitcoin

Di sisi lain, Bitcoin menghadapi perjalanan lebih panjang untuk kembali ke rekor 2025. Bitcoin mengawali 2025 di sekitar US$ 94.000 dan kemudian mencapai US$ 126.198 pada Oktober setelah mendapat dukungan kebijakan kripto di Amerika Serikat serta meningkatnya permintaan institusional.

Setelah itu, penurunan pasar yang berkaitan dengan tarif memicu likuidasi besar-besaran. Bitcoin mengakhiri 2025 di sekitar US$ 87.000.

Pada Januari 2026, harga Bitcoin kembali bergerak ke kisaran US$ 92.000-US$ 95.000. Namun, kondisi ekonomi yang lebih ketat dan melemahnya permintaan institusional membuat Bitcoin gagal kembali mencetak rekor.

Tekanan jual berlanjut hingga musim semi dan musim panas 2026. Arus dana keluar dari spot Bitcoin ETF serta aksi jual perusahaan pertambangan turut memberikan tekanan terhadap pasar. Harga Bitcoin akhirnya stabil di kisaran US$ 62.000-US$ 64.000 pada Agustus.

Dari level tersebut, Bitcoin membutuhkan kenaikan hampir 100 persen untuk kembali ke rekor Oktober 2025. Meski terlihat berat, Bitcoin sebelumnya pernah mencatat pemulihan serupa setelah mencapai puncak siklus.

Penentu Arah Bitcoin

Sejumlah faktor dapat menentukan arah Bitcoin hingga 2028, antara lain:

  • Arus dana masuk ke spot Bitcoin ETF yang dapat kembali meningkatkan permintaan institusional.
  • Pembelian Bitcoin oleh perusahaan yang berpotensi mengurangi pasokan di pasar aktif.
  • Penurunan suku bunga dan meningkatnya likuiditas global yang dapat mendukung aset digital.
  • Cadangan Bitcoin pemerintah yang berpotensi mengurangi jumlah Bitcoin yang tersedia di pasar terbuka.
  • Regulasi kripto yang lebih jelas sehingga memudahkan partisipasi investor institusional.

Di sisi lain, biaya penambangan Bitcoin juga meningkat. Setelah halving 2024 memangkas imbalan blok, penambang menghadapi biaya listrik dan komputasi yang lebih tinggi. Biaya produksi satu Bitcoin bahkan diperkirakan mendekati US$ 80.000 pada 2026.

Untuk perak, sejumlah proyeksi menunjukkan potensi pertumbuhan moderat hingga 2028. RBC Capital Markets memperkirakan harga sekitar US$ 80, sementara LongForecast memproyeksikan kisaran US$ 73,57-US$ 91,62. Adapun CoinDCX memperkirakan harga berada di US$ 65-US$ 82.

Jika harga perak naik dari US$ 64 menjadi US$ 92, kenaikannya sekitar 44 persen. Untuk menghasilkan keuntungan 100 persen dari level US$ 64, harga perak harus mencapai sekitar US$ 128 per ounce.