Aplikasi Pemantau Menstruasi Ternyata Belum Terbukti Secara Ilmiah, Ini Bahayanya

Studi menemukan adanya celah keamanan dan risiko kesehatan pada aplikasi menstruasi. Benarkah?

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan aplikasi pemantau menstruasi telah digunakan sekitar 50 juta orang di seluruh dunia untuk mencatat siklus haid, mengelola gejala fisik dan mental, hingga merencanakan kehamilan.

Namun, analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis The BMJ mengungkapkan bahaya serta dampak buruk dari alat pemantau digital di industri femtech ini.

Dilansir CNET, Jumat (2/10/2026), studi tersebut menyoroti alat pemantau siklus yang mempromosikan cycle syncing, yaitu penyesuaian pola makan, olahraga, dan gaya hidup berdasarkan fase siklus menstruasi.

“Kami berharap publik memahami bahwa klaim besar terkait pemantauan siklus dan cycle syncing yang beredar di media sosial atau ruang kebugaran sebagian besar tidak memiliki dasar bukti ilmiah," ujar Katharine Lee, salah satu penulis analisis sekaligus asisten profesor di Departemen Antropologi Tulane University.

Risiko Kesehatan

Analisis tersebut menyatakan penelitian ilmu olahraga menunjukkan tidak ada acuan umum mengenai bagaimana fase siklus menstruasi memengaruhi kesehatan, performa tubuh, atau risiko cedera.

Hal ini sangat bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Berlaku juga untuk penelitian mengenai bagaimana pola makan dapat mengurangi gejala siklus atau meningkatkan performa, yang mana bukti ilmiahnya masih sangat terbatas dan bersifat spekulatif.

Pelacak siklus menstruasi digital juga tidak dapat mendiagnosis gangguan menstruasi atau mengungkap penyebab nyeri haid, sehingga disarankan untuk pergi ke tenaga kesehatan profesional.

Sebagian besar aplikasi hanya mengandalkan data tanggal pendarahan yang dimasukkan sendiri oleh pengguna untuk memperkirakan masa ovulasi dan fase berikutnya. Tanpa pengukuran kadar hormon secara langsung, estimasi ini rentan tidak akurat karena fluktuasi hormon setiap orang berbeda.

Dengan mengandalkan aplikasi itu, pengguna berisiko mengabaikan masalah kesehatan karena menganggapnya sebagai efek samping siklus menstruasi mereka. Bahkan, bisa jadi mereka meninggalkan panduan kesehatan dan olahraga demi mengikuti rekomendasi aplikasi.

Bahaya Kebocoran Data dan Kebijakan Privasi

Selain itu, ada bahaya privasi sebagaimana sejumlah aplikasi mengizinkan pihak ketiga untuk melacak, tidak menyediakan laporan transparansi, menyulitkan penghapusan data, serta tidak menyimpan data secara lokal di perangkat pengguna.

Situasi ini membuka celah keamanan data sehingga rentan bocor. Selain itu juga dapat membahayakan wilayah yang hukumnya membatasi hak-hak reproduksi atau memiliki tingkat diskriminasi gender tinggi.

Kebocoran data kesehatan reproduksi tersebut bisa berujung pada ancaman hukum dan keselamatan pengguna pada wilayah itu.

Memperparah Ketimpangan Gender

Meskipun banyak aplikasi dikemas narasi pemberdayaan perempuan dalam strategi pemasaran mereka, aplikasi ini juga bukan solusi atas ketimpangan gender dalam layanan kesehatan.

Sebaliknya, justru dapat membahayakan kesehatan dan privasi pengguna serta mengalihkan fokus dari akses nyata terhadap layanan kesehatan, nutrisi, dan produk sanitasi yang layak.

 

Bagaimana Sebaiknya Memantau Siklus Menstruasi?

Para ahli menyarankan agar pemantauan siklus disesuaikan dengan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti algoritma aplikasi.

Sebagai contoh, untuk program kehamilan, fokus pada tanda-tanda biologis ovulasi, seperti suhu tubuh basal, konsistensi lendir serviks, dan kadar hormon luteinizing (LH).

Sementara pada kasus endometriosis atau migrain, pemantauan gejala spesifik dan perkiraan tanggal pendarahan lebih krusial dibandingkan sekadar memprediksi masa subur.

Jika khawatir akan risiko privasi digital, penggunaan kalender digital biasa atau metode konvensional seperti pencatatan di kertas tetap menjadi pilihan yang lebih aman dan efektif.

Sebelum menginstal aplikasi menstruasi, sebaiknya pengguna memeriksa kembali kebijakan privasi dan keamanan data pada aplikasi tersebut.