Liputan6.com, Jakarta - Orang yang suka mengontrol tidak selalu datang dengan sikap kasar atau mudah marah. Justru, sebagian bisa terlihat sebagai sosok yang perhatian, suka membantu, sering memberi nasihat, dan selalu mengatakan ingin melakukan yang terbaik untuk orang lain.
Di awal hubungan, sikap seperti ini bahkan mungkin terasa menyenangkan. Ada yang rajin menanyakan kabar, mengingatkan untuk berhati-hati, atau menawarkan bantuan ketika sedang kesulitan.
Namun, perhatian bisa berubah menjadi masalah ketika seseorang mulai merasa berhak menentukan pilihan orang lain.
Advertisement
National Legal Service menjelaskan bahwa perilaku mengontrol dapat dimulai secara halus, seperti terlalu sering mengecek keberadaan, memberikan kritik kecil, atau membuat seseorang enggan menghabiskan waktu bersama teman. Jika terus berlanjut, pola tersebut dapat mengikis rasa percaya diri dan kebebasan seseorang.
Lantas, apa saja tanda orang yang terlihat baik tetapi suka mengontrol? Berikut ulasan Liputan6.com.
1. Sering Mengatakan "Aku Cuma Khawatir"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817827/original/014691700_1714478954-pexels-shvets-production-7176319.jpg)
Perhatian dan kekhawatiran memang bisa menjadi bentuk kasih sayang. Masalahnya muncul ketika kalimat tersebut digunakan untuk membatasi seseorang.
Misalnya, teman atau pasangan terus menanyakan sedang di mana, bersama siapa, kapan pulang, dan mengapa tidak segera membalas pesan.
Awalnya mungkin terasa seperti perhatian. Namun, jika pertanyaan tersebut berubah menjadi kewajiban dan orang tersebut marah ketika tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya, situasinya patut diperhatikan.
Menurut National Legal Service, perilaku mengontrol dapat dibungkus sebagai bentuk cinta atau kepedulian, padahal tujuannya bisa mengurangi kebebasan seseorang dalam mengambil keputusan.
2. Suka Membantu, tetapi Sering Mengungkit Jasanya
Ini termasuk tanda orang yang terlihat baik tetapi suka mengontrol yang cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin sering mentraktir, membantu pekerjaan, mengantar ke suatu tempat, atau memberikan pertolongan ketika sedang kesulitan.
Namun, setelah itu ia terus mengungkit apa yang sudah dilakukan.
"Kan dulu aku sudah bantu kamu."
"Kalau bukan karena aku, kamu mungkin masih kesulitan."
Kalimat seperti ini bisa menjadi cara membuat seseorang merasa berutang. Healthline menyebut perilaku tersebut sebagai keeping score, yaitu kebiasaan mencatat berbagai bantuan atau kebaikan lalu mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya.
Kebaikan yang sehat seharusnya tidak otomatis berubah menjadi alat untuk mendapatkan kendali.
3. Sulit Menerima Kata "Tidak"
Coba perhatikan bagaimana seseorang bereaksi ketika keinginannya ditolak.
Orang yang sehat mungkin kecewa, tetapi tetap menghargai keputusan tersebut. Sebaliknya, orang yang suka mengontrol dapat terus membujuk, menekan, menyindir, atau membuat orang lain merasa bersalah sampai akhirnya berubah pikiran.
Healthline memasukkan ketidakmampuan menerima kata "tidak" dan kecenderungan mengabaikan batasan sebagai salah satu tanda perilaku mengontrol.
Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukan kita ketika kita mengikuti keinginannya. Perhatikan juga bagaimana ia bersikap ketika kita berkata tidak.
Advertisement
4. Sering Membuat Orang Lain Merasa Bersalah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328914/original/038263500_1787213572-pexels-karola-g-6135040.jpg)
"Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, kamu pasti mau."
"Aku sudah melakukan banyak hal untukmu, masa yang ini saja tidak bisa?"
Kalimat semacam ini dapat membuat seseorang merasa bersalah karena mengambil keputusan sendiri.
Healthline menyebut perilaku menyalahkan orang lain (blaming) sebagai salah satu pola yang dapat muncul pada orang yang suka mengontrol. Mereka bisa membuat masalah kecil seolah-olah menjadi kesalahan orang lain.
Sesekali merasa kecewa tentu wajar. Namun, jika rasa bersalah terus digunakan agar seseorang mengikuti keinginan tertentu, hubungan tersebut mulai kehilangan keseimbangan.
5. Pelan-Pelan Menjauhkan dari Teman dan Keluarga
Salah satu tanda orang yang terlihat baik tetapi suka mengontrol adalah berusaha mengurangi hubungan seseorang dengan orang-orang terdekatnya.
Caranya tidak selalu terang-terangan. Bisa dimulai dari komentar seperti:
"Teman kamu itu sebenarnya tidak baik."
"Kenapa sih kamu lebih sering sama mereka?"
"Aku merasa keluargamu terlalu ikut campur."
Lama-kelamaan, seseorang bisa merasa tidak enak hati setiap kali ingin bertemu teman atau keluarga.
National Legal Service dan Healthline sama-sama memasukkan isolasi sosial sebagai pola penting dalam perilaku mengontrol. Tujuannya dapat membuat seseorang semakin bergantung kepada pihak yang mengontrol.
6. Terlihat Manis, tetapi Sering Mengkritik
Tidak semua kritik merupakan bentuk kontrol. Kritik yang sehat biasanya disampaikan dengan tujuan membantu dan tetap menghargai orang yang menerima.
Sebaliknya, orang yang suka mengontrol dapat terus-menerus mengomentari penampilan, cara berbicara, pekerjaan, pertemanan, hingga pilihan hidup seseorang.
Healthline mencatat bahwa kritik terus-menerus dapat digunakan untuk melemahkan kepercayaan diri seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah polanya.
Jika hampir setiap pilihan selalu dianggap salah dan hanya keputusan sesuai keinginannya yang dianggap benar, itu bukan lagi sekadar memberi masukan.
7. Cemburu Berlebihan tetapi Menyebutnya sebagai Bentuk Sayang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293972/original/031619700_1783766177-pexels-timur-weber-8560718.jpg)
Rasa cemburu sesekali merupakan hal yang bisa terjadi dalam hubungan. Namun, cemburu menjadi tidak sehat ketika digunakan untuk mengatur kehidupan sosial seseorang.
Contohnya, seseorang terus mempertanyakan dengan siapa kita berbicara, mengapa bertemu teman tertentu, atau mengapa tidak selalu memberikan perhatian kepadanya.
National Legal Service menyebut kecemburuan berlebihan dan upaya memonitor komunikasi sebagai salah satu tanda perilaku mengontrol.
Jadi, kalimat "Aku cemburu karena sayang" tidak otomatis membuat semua perilaku mengontrol menjadi wajar.
8. Berusaha Mengubah Diri Orang Lain
Orang yang suka mengontrol mungkin merasa memiliki hak untuk menentukan bagaimana orang lain harus berpakaian, berbicara, berteman, atau menjalani kehidupan.
Misalnya, ia terus mengatakan pakaian tertentu tidak pantas, memaksa mengubah penampilan, atau meminta seseorang meninggalkan kebiasaan yang sebenarnya tidak merugikan orang lain.
Healthline mencatat bahwa upaya membentuk seseorang agar sesuai dengan keinginan pribadi juga dapat menjadi tanda perilaku mengontrol.
Hubungan yang sehat memungkinkan seseorang tetap menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus merasa harus memenuhi standar orang lain.
9. Sikapnya Berubah ketika Keinginannya Tidak Diikuti
Ini salah satu pola yang sering membuat perilaku mengontrol sulit dikenali.
Ketika keinginannya diikuti, ia bisa sangat perhatian, ramah, bahkan memberikan pujian. Namun, ketika mendapat penolakan, sikapnya berubah menjadi dingin, mudah marah, menyindir, atau mendiamkan.
National Legal Service menjelaskan bahwa sebagian orang yang mengontrol dapat menggunakan kasih sayang atau dukungan emosional sebagai "hadiah" ketika orang lain mengikuti keinginannya, lalu menariknya sebagai bentuk hukuman ketika keinginannya tidak dipenuhi.
Karena itu, jangan hanya menilai seseorang dari seberapa manis ia ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Advertisement
10. Membuat Kita Merasa Harus Berjalan di Atas "Kulit Telur"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180507/original/042458600_1743767538-girl-criticizing-teen-low-angle_23-2149649904.jpg)
Pernah merasa harus berhati-hati setiap kali berbicara karena takut seseorang tiba-tiba marah?
Misalnya, kita terus memikirkan:
"Kalau aku bilang begini, dia marah tidak?"
"Kalau aku pergi tanpa memberi tahu, nanti bagaimana?"
"Kalau aku menolak, dia bakal mendiamkanku?"
Healthline menggambarkan bahwa perubahan suasana hati yang ekstrem dan perilaku mengintimidasi dapat membuat seseorang merasa harus selalu berhati-hati menghadapi orang tersebut.
Perasaan seperti ini patut diperhatikan, terutama jika muncul terus-menerus dalam sebuah hubungan.
11. Tampak Baik di Depan Orang Lain, tetapi Berbeda ketika Hanya Berdua
Ada orang yang sangat ramah di depan keluarga, teman, atau rekan kerja. Karena itu, ketika seseorang mengeluhkan perilakunya, orang lain mungkin sulit mempercayainya.
Namun, perilaku mengontrol memang dapat muncul secara halus dan berbeda-beda tergantung situasi.
NSW Government menjelaskan bahwa coercive control merupakan pola perilaku yang berulang dan dapat melibatkan tindakan menakut-nakuti, mengisolasi, mempermalukan, memonitor, mengambil kebebasan, atau mengontrol aktivitas sehari-hari.
Artinya, satu tindakan saja belum tentu cukup untuk menyimpulkan seseorang melakukan coercive control. Yang penting adalah melihat pola perilaku secara keseluruhan.
12. Tidak Menghargai Batasan Pribadi
Setiap orang memiliki batasan, termasuk dalam hubungan yang sangat dekat.
Contohnya, seseorang mungkin tidak nyaman jika ponselnya diperiksa, tidak ingin membagikan lokasi setiap saat, atau membutuhkan waktu sendiri.
Orang yang menghargai batasan akan mencoba memahami dan menghormatinya. Sebaliknya, orang yang suka mengontrol bisa menganggap batasan tersebut sebagai bentuk tidak percaya, tidak sayang, atau tidak menghargai dirinya.
National Legal Service memasukkan penolakan terhadap batasan yang sehat sebagai salah satu indikator perilaku mengontrol.
Jangan Terburu-buru Melabeli Seseorang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5170863/original/067983500_1742615573-1742611369792_tips-dan-trik-menghindari-teman-toxic.jpg)
Mengetahui tanda orang yang terlihat baik tetapi suka mengontrol bukan berarti setiap orang yang perhatian, cemburu, suka memberi nasihat, atau sering membantu pasti merupakan orang yang manipulatif.
Hal yang lebih penting adalah melihat pola, frekuensi, konteks, dan dampaknya.
Seseorang yang sekali meminta kabar belum tentu sedang mengontrol. Begitu pula teman yang memberikan nasihat tidak otomatis manipulatif.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika berbagai perilaku tersebut muncul berulang kali dan membuat seseorang kehilangan kebebasan, merasa takut, terisolasi, atau tidak lagi berani mengambil keputusan sendiri.
NSW Government menekankan bahwa coercive control bukan sekadar satu kejadian, melainkan pola perilaku yang berulang. Perilaku tersebut dapat bersifat fisik maupun nonfisik dan digunakan untuk mengontrol atau mendominasi orang lain.
UK SAYS NO MORE juga membahas perilaku mengontrol dan koersif sebagai bentuk perilaku yang dapat mencakup isolasi, intimidasi, ancaman, kontrol terhadap aktivitas, keuangan, komunikasi, hingga kehidupan sosial.
Sementara itu, King's College London menjelaskan bahwa perilaku mengontrol atau koersif dapat membuat seseorang menjadi bergantung, mengisolasi dari orang lain, mengawasi aktivitas, mengatur siapa yang boleh ditemui, hingga membatasi kebebasan seseorang.
Jadi, tanda orang yang terlihat baik tetapi suka mengontrol bukan sekadar soal apakah seseorang terlihat ramah atau sering membantu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah perhatian tersebut tetap memberikan ruang bagi kita untuk memilih, berkata tidak, memiliki hubungan dengan orang lain, dan menjadi diri sendiri?
Jika jawabannya semakin sering "tidak", mungkin sudah waktunya melihat kembali batasan dalam hubungan tersebut.
Pertanyaan Seputar Orang yang Suka Mengontrol
1. Apakah orang yang perhatian pasti suka mengontrol? Tidak. Perhatian yang sehat tetap menghargai batasan dan keputusan orang lain. Perilaku mulai mengarah pada kontrol ketika seseorang terus memaksakan kehendak, tidak menerima penolakan, atau menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi keputusan.
2. Bagaimana cara menghadapi orang yang suka mengontrol? Tetapkan batasan dengan jelas dan tenang. Sampaikan bahwa Anda menghargai perhatian atau niat baiknya, tetapi tetap ingin menentukan keputusan sendiri. Jika perilaku tersebut terus berulang, kurangi ruang bagi orang tersebut untuk mengatur kehidupan pribadi Anda dan cari dukungan dari orang yang dipercaya.
3. Apakah suka mengontrol sama dengan perilaku manipulatif? Keduanya bisa saling berkaitan, tetapi tidak selalu sama. Manipulasi lebih menekankan penggunaan cara tertentu untuk memengaruhi orang lain, sedangkan perilaku mengontrol berfokus pada keinginan untuk mengatur atau membatasi pilihan dan kebebasan orang lain. Jika dilakukan berulang dan membuat seseorang kehilangan kebebasan atau merasa takut, perilakunya dapat menjadi lebih serius.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318670/original/097009500_1786124467-efb30e6b-7dc4-4c13-a54b-d81aacb7f640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328913/original/032341400_1787213572-pexels-elly-fairytale-4834147.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3020289/original/029798500_1578903728-judge.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311336/original/079904600_1785399624-manipulator_1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579484/original/041619100_1778053242-Perilaku_Manipulatif_Demi_Keuntungan_Pribadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298551/original/024890400_1784173892-0rU3wmhAaOAPkKPzglm69mwgKYIQIEmTBKhCxznJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523417/original/044750700_1772814099-IMG_2136.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552547/original/013956500_1775812564-Menteri_Pekerjaan_Umum__PU___Dody_Hanggodo-10_April_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497860/original/033656200_1770692372-Ungkapan_valentine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740423/original/048222400_1707701835-fotor-ai-2024021283125.jpg)