Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang bisa dengan mudah memilah barang di rumah dan membuang benda yang sudah tidak digunakan. Namun, ketika barang tersebut merupakan pemberian dari orang lain, keputusan sederhana itu bisa berubah menjadi dilema. Meski barangnya sudah rusak, tidak terpakai, atau hanya tersimpan di sudut lemari, ada perasaan tertentu yang membuatnya terasa terlalu sayang untuk disingkirkan.
Kepribadian orang yang sulit membuang barang pemberian orang lain umumnya tidak bisa dinilai hanya dari kebiasaan menyimpan benda. Di baliknya bisa terdapat keterikatan emosional, penghargaan terhadap pemberi, kenangan terhadap suatu masa, atau kekhawatiran bahwa membuang barang sama dengan mengabaikan makna di balik pemberian tersebut. Karena itu, memahami alasan di balik kebiasaan ini dapat membantu melihatnya secara lebih bijak.
1. Sangat Menghargai Hubungan dengan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352157/original/065408700_1789731877-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_11.35.04.jpeg)
Orang yang sulit membuang barang pemberian sering kali memiliki cara pandang yang kuat terhadap hubungan interpersonal. Sebuah benda tidak hanya dilihat berdasarkan fungsi atau bentuk fisiknya, tetapi juga dianggap sebagai representasi dari orang yang memberikannya.
Ketika menerima hadiah dari teman, pasangan, keluarga, atau seseorang yang dianggap penting, benda tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pernah ada perhatian dan kepedulian dari orang tersebut. Karena itulah, membuangnya bisa terasa seperti kehilangan sebagian kecil dari hubungan yang pernah dijalani.
Kebiasaan ini juga dapat membuat seseorang lebih berhati-hati ketika ingin menyingkirkan barang. Ia mungkin berpikir ulang mengenai siapa yang memberikan, kapan barang tersebut diterima, serta apa yang terjadi pada saat pemberian itu berlangsung.
Advertisement
2. Memiliki Keterikatan Emosional yang Kuat terhadap Kenangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323087/original/052304900_1786600221-9.jpg)
Sebagian orang menyimpan barang karena benda tersebut membawa kenangan tertentu. Nilai sebuah barang akhirnya bukan lagi terletak pada harga, kegunaan, atau penampilannya, melainkan pada pengalaman yang melekat di balik benda tersebut.
Misalnya, sebuah mug sederhana bisa terasa sangat berharga karena merupakan hadiah dari sahabat sebelum berpisah, sementara sebuah pakaian lama mungkin tetap disimpan karena mengingatkan pada seseorang yang pernah memiliki tempat khusus dalam kehidupan. Barang yang secara objektif terlihat biasa saja dapat mempunyai arti personal yang sangat besar.
Karakter seperti ini biasanya cenderung melihat benda sebagai bagian dari perjalanan hidup. Selama kenangan tersebut masih terasa berarti, muncul dorongan untuk mempertahankan barang meskipun secara praktis benda itu sudah tidak banyak digunakan.
3. Cenderung Sentimental dalam Mengambil Keputusan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315898/original/080988400_1785901726-2137.jpg)
Sifat sentimental membuat seseorang lebih sulit mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan praktis semata. Ketika harus memilih antara menyimpan atau membuang barang pemberian, aspek perasaan sering kali memiliki bobot yang lebih besar daripada kebutuhan ruang.
Orang dengan kecenderungan ini mungkin menyimpan kartu ucapan, foto, pakaian, aksesori, atau benda kecil lainnya karena masing-masing memiliki cerita tersendiri. Barang tersebut dapat menjadi semacam penghubung dengan pengalaman masa lalu yang masih dianggap berharga.
Bukan berarti setiap orang sentimental tidak mampu melepaskan sesuatu. Hanya saja, prosesnya bisa membutuhkan waktu lebih panjang karena keputusan tersebut melibatkan perasaan dan memori, bukan sekadar pertimbangan apakah sebuah benda masih berguna atau tidak.
Advertisement
4. Sulit Memisahkan Nilai Barang dari Nilai Pemberian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5316821/original/087512200_1755251111-pexels-rdne-8581372.jpg)
Salah satu alasan seseorang susah membuang hadiah adalah karena nilai benda dan nilai pemberian dianggap sebagai satu kesatuan. Ketika barang tersebut dibuang, ia mungkin merasa seolah-olah sedang membuang perhatian yang diberikan oleh orang lain.
Padahal, nilai sebuah pemberian sebenarnya dapat tetap dihargai meskipun benda fisiknya sudah tidak disimpan. Kenangan tentang siapa yang memberi, alasan pemberian, atau momen ketika hadiah tersebut diterima tetap dapat menjadi bagian dari pengalaman seseorang.
Namun, bagi orang yang memiliki keterikatan emosional kuat, pemisahan antara benda dan makna di baliknya tidak selalu mudah. Inilah yang membuat proses decluttering terhadap barang pemberian sering terasa jauh lebih berat dibandingkan membuang barang biasa.
5. Memiliki Rasa Sungkan dan Takut Mengecewakan Pemberi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4963087/original/021202000_1728373680-IMG-20241008-WA0028.jpg)
Ada pula orang yang menyimpan hadiah karena merasa tidak enak jika suatu saat pemberi mengetahui bahwa barang tersebut sudah dibuang. Perasaan sungkan tersebut dapat muncul meskipun pemberinya sendiri mungkin tidak pernah meminta agar hadiah disimpan selamanya.
Pikiran seperti “Bagaimana kalau dia tahu?” atau “Sayang kalau pemberiannya dibuang” dapat membuat seseorang terus mempertahankan benda yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan. Dalam kondisi tertentu, rasa bersalah bahkan bisa muncul hanya karena membayangkan barang tersebut berakhir di tempat sampah.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa pertimbangan terhadap perasaan orang lain memiliki posisi penting dalam pengambilan keputusan. Sisi positifnya, orang tersebut mungkin dikenal penuh perhatian, tetapi jika terlalu kuat, rasa sungkan dapat membuat rumah dipenuhi barang yang sebenarnya sudah tidak memiliki fungsi.
Advertisement
6. Cenderung Menghargai Usaha di Balik Sebuah Pemberian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311983/original/088466000_1785472359-2148378961.jpg)
Hadiah tidak selalu dipandang hanya sebagai benda yang diberikan. Bagi sebagian orang, ada usaha, waktu, uang, dan perhatian yang dianggap melekat di dalamnya. Kesadaran terhadap proses tersebut dapat membuat mereka merasa tidak tega untuk membuangnya.
Sebuah hadiah buatan tangan, misalnya, mungkin memiliki nilai emosional yang lebih besar karena pemberi menghabiskan waktu untuk membuatnya. Demikian pula benda yang dipilih secara khusus berdasarkan kesukaan penerima dapat dianggap sebagai bukti bahwa pemberi benar-benar memikirkannya.
Akibatnya, semakin besar usaha yang dirasakan di balik sebuah hadiah, semakin sulit pula bagi seseorang untuk memperlakukannya seperti barang biasa. Ia mungkin memilih menyimpan benda tersebut meskipun sudah jarang digunakan.
7. Lebih Nyaman Menyimpan daripada Menghadapi Rasa Kehilangan
Membuang barang pemberian terkadang terasa seperti bentuk perpisahan. Bagi orang tertentu, mempertahankan benda tersebut memberikan rasa nyaman karena sesuatu dari masa lalu masih berada di dekatnya.
Hal ini terutama dapat terasa ketika barang berkaitan dengan fase kehidupan, hubungan, atau seseorang yang sudah tidak lagi hadir dalam keseharian. Selama barang masih disimpan, kenangan tersebut terasa lebih mudah dijangkau ketika ingin mengingatnya.
Namun, menyimpan semua benda bukan satu-satunya cara untuk mempertahankan kenangan. Jika jumlah barang semakin banyak dan mulai mengganggu ruang atau aktivitas sehari-hari, seseorang dapat mempertimbangkan cara lain untuk menjaga memorinya tanpa harus mempertahankan setiap benda secara fisik.
Advertisement
8. Memiliki Pola Pikir yang Melihat Barang sebagai Bagian dari Cerita Hidup
Sebagian orang memiliki hubungan yang cukup personal dengan benda-benda di sekitarnya. Mereka cenderung mengingat suatu periode kehidupan melalui benda yang pernah digunakan atau diberikan seseorang.
Barang pemberian kemudian berfungsi seperti penanda sebuah cerita. Ketika melihatnya kembali beberapa tahun kemudian, seseorang mungkin dapat mengingat tempat, orang, suasana, atau peristiwa tertentu yang berkaitan dengan benda tersebut.
Pola pikir seperti ini membuat proses memilah barang menjadi lebih kompleks. Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “Apakah barang ini masih berguna?”, tetapi juga “Cerita apa yang akan hilang jika barang ini tidak lagi ada?” Cara berpikir tersebut dapat menjelaskan mengapa seseorang sangat berhati-hati ketika ingin membuang hadiah.
Kapan Kebiasaan Menyimpan Barang Mulai Perlu Diperhatikan?
Menyimpan barang pemberian bukan masalah selama jumlahnya masih dapat dikelola dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Seseorang berhak mempertahankan benda yang memiliki nilai sentimental selama keputusan tersebut membuatnya nyaman dan tidak menimbulkan persoalan lain.
Perhatian lebih diperlukan ketika barang mulai memenuhi ruangan, menghambat aktivitas, menimbulkan konflik dengan orang serumah, atau membuat seseorang tidak mampu menggunakan ruang secara normal. Kesulitan membuang barang juga patut dievaluasi jika seseorang mengalami tekanan emosional yang sangat kuat setiap kali harus menyingkirkan benda.
Dalam situasi seperti itu, proses memilah barang dapat dilakukan secara perlahan. Tidak harus langsung membuang semua benda yang dianggap sentimental. Memulai dari barang yang paling sedikit memiliki makna emosional dapat menjadi cara yang lebih ringan untuk membangun kebiasaan memilah.
Advertisement
Bagaimana Cara Tetap Menghargai Pemberian tanpa Harus Menyimpan Semuanya?
Menghargai hadiah tidak selalu berarti menyimpan benda tersebut selamanya. Kenangan dan rasa terima kasih kepada pemberi tetap dapat dipertahankan meskipun barang fisiknya sudah tidak digunakan.
Salah satu cara sederhana adalah mendokumentasikan benda yang memiliki cerita khusus melalui foto. Cerita mengenai siapa yang memberikan dan momen ketika hadiah diterima juga dapat ditulis secara singkat sehingga kenangan tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan barang.
Untuk barang yang masih layak digunakan tetapi sudah tidak diperlukan, memberikannya kepada orang lain juga dapat menjadi pilihan. Dengan begitu, benda tersebut tetap memiliki manfaat tanpa harus terus memenuhi ruang penyimpanan. Yang perlu dipisahkan adalah rasa menghargai seseorang dengan kewajiban untuk mempertahankan semua benda yang pernah diberikan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Orang yang Sulit Membuang Barang
1. Mengapa seseorang sulit membuang barang pemberian orang lain?
Karena barang tersebut bisa memiliki nilai emosional, mengingatkan pada pemberi, atau menyimpan kenangan tertentu sehingga terasa lebih berharga daripada fungsi fisiknya.
2. Apakah suka menyimpan hadiah berarti seseorang sentimental?
Bisa saja, terutama jika seseorang memberikan makna emosional yang kuat pada benda dan pengalaman masa lalu. Namun, kebiasaan menyimpan hadiah saja tidak cukup untuk menentukan seluruh kepribadian seseorang.
3. Apakah membuang hadiah berarti tidak menghargai pemberi?
Tidak selalu. Menghargai pemberi dan mempertahankan benda secara fisik merupakan dua hal yang berbeda, terutama jika barang tersebut sudah rusak atau tidak lagi dibutuhkan.
4. Bagaimana cara membuang barang pemberian tanpa merasa bersalah?
Mulailah dari benda yang paling kecil nilai emosionalnya, lalu ingat bahwa kenangan dapat tetap dipertahankan melalui foto, cerita, atau pengalaman tanpa harus menyimpan semua barang.
5. Kapan kebiasaan menyimpan barang mulai menjadi masalah?
Kebiasaan tersebut perlu diperhatikan jika barang sudah memenuhi ruang, mengganggu aktivitas sehari-hari, menimbulkan konflik dengan orang lain, atau membuat seseorang mengalami tekanan emosional yang berat ketika harus menyingkirkannya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360863/original/067393500_1758767787-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-09-25T090726.096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4694399/original/071316700_1703154571-Stasiun_Senen_mulai_dipadati_pemudik_Nataru-ANGGA_10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365011/original/011917700_1791095090-6ecdc67d-b367-4f54-8208-50fa7a916902.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4564055/original/083994900_1693902510-calling-communication-connect-networking-concept.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4163304/original/068543100_1663574974-nylos-TEpcivXIa8I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355803/original/063065800_1790142086-01M34AZNKW0QQF91EBP9MVK7VH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5262979/original/043595200_1750759687-medium-shot-woman-working-laptop.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4417289/original/050455600_1683344736-modern-people-happy-young-asian-girl-walking-park-smiling-enjoying-beautiful-summer-day.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351161/original/065792800_1789642498-disruptivo-vIAGW486ewo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356949/original/077288400_1790227604-65d0704e-0458-46ac-848c-81501d88dc80.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596926/original/084968200_1633709796-e-commerce.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227976/original/004824600_1747832394-steptodown.com463114.jpg)