9 Ciri Orang yang Suka Memutarbalikkan Keadaan, Lengkap Tips Menghadapinya

Kenali ciri orang yang suka memutarbalikkan keadaan, mulai dari mengalihkan kesalahan hingga membalik posisi korban dan pelaku. Kenali polanya tanpa buru-buru.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah berhadapan dengan seseorang yang ketika ditegur justru membuat Anda merasa menjadi pihak yang salah? Awalnya Anda ingin membicarakan masalah yang terjadi, tetapi percakapan berakhir dengan Anda yang meminta maaf atau meragukan ingatan sendiri.

Pola seperti ini bisa membuat hubungan terasa melelahkan. Dalam psikologi, perilaku memutarbalikkan keadaan dapat memiliki kemiripan dengan beberapa pola manipulasi, seperti blame shifting, gaslighting, atau DARVO (Deny, Attack, Reverse Victim and Offender).

Namun, penting untuk tidak buru-buru memberi label kepada seseorang hanya berdasarkan satu kejadian. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa gaslighting, misalnya, merupakan pola perilaku yang terjadi berulang kali, bukan sekadar satu kebohongan atau pertengkaran.

Lantas, seperti apa ciri orang yang suka memutarbalikkan keadaan? Berikut ulasan Liputan6.

1. Sulit mengakui kesalahan

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan untuk menyangkal atau menghindari tanggung jawab ketika melakukan kesalahan.

Alih-alih membicarakan apa yang sebenarnya terjadi, orang tersebut dapat berusaha mengubah arah percakapan. Misalnya, ketika perilakunya dipersoalkan, pembicaraan justru diarahkan pada kesalahan orang lain.

Cleveland Clinic memasukkan perilaku seperti menyangkal kesalahan, mengalihkan argumen, dan menggeser kesalahan kepada orang lain sebagai beberapa perilaku yang dapat muncul dalam pola gaslighting.

Meski begitu, seseorang yang sesekali defensif belum tentu sedang melakukan manipulasi. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang dan dampaknya terhadap orang lain.

2. Mengalihkan kesalahan kepada orang lain

Blame shifting atau pengalihan kesalahan merupakan pola yang cukup dekat dengan perilaku memutarbalikkan keadaan.

Contohnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, bukannya membahas tindakannya, ia justru mengatakan bahwa perilaku tersebut terjadi karena orang lain.

Kalimat seperti “Saya melakukan ini karena kamu membuat saya marah” dapat menggeser fokus dari tindakan seseorang kepada pihak yang dianggap sebagai penyebabnya.

Dalam konteks gaslighting, Cleveland Clinic juga mencatat bahwa pelaku dapat membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas perilaku yang sebenarnya dilakukan oleh dirinya sendiri.

3. Mengubah versi kejadian ketika dikonfrontasi

Ciri orang yang suka memutarbalikkan keadaan lainnya adalah munculnya perubahan cerita ketika dirinya mulai dimintai pertanggungjawaban.

Versi kejadian dapat bergeser dari satu percakapan ke percakapan berikutnya. Orang tersebut mungkin menyangkal sesuatu yang sebelumnya diakui atau mengatakan bahwa orang lain salah mengingat kejadian.

Cleveland Clinic menyebut bahwa orang yang mengalami gaslighting dapat diberi tahu bahwa ingatannya mengenai suatu peristiwa berbeda atau salah. Pola tersebut dapat membuat seseorang mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri.

Karena itu, perbedaan ingatan semata tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang sedang memanipulasi. Kesalahpahaman dan ingatan manusia yang tidak sempurna juga dapat terjadi secara alami.

4. Menyerang orang yang mempertanyakan perilakunya

Dalam pola yang dikenal sebagai DARVO, respons terhadap konfrontasi dapat mengikuti tiga tahap: Deny, Attack, dan Reverse Victim and Offender.

Konsep DARVO diperkenalkan oleh psikolog Jennifer J. Freyd. Menurut Freyd, seseorang dapat menyangkal perilakunya, menyerang orang yang melakukan konfrontasi, kemudian membalik posisi korban dan pelaku sehingga dirinya terlihat sebagai pihak yang dirugikan.

Penelitian Harsey, Zurbriggen, dan Freyd yang diterbitkan dalam Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma pada 2017 juga secara khusus menguji DARVO sebagai sebuah pola respons terhadap konfrontasi.

Artinya, ketika seseorang dipertanyakan mengenai perilakunya, respons seperti menyerang karakter orang yang mengajukan masalah dapat menjadi bagian dari pola yang perlu diperhatikan.

5. Tiba-tiba memosisikan diri sebagai korban

Pola berikutnya adalah membalik posisi dalam sebuah konflik.

Misalnya, seseorang dipertanyakan mengenai tindakan yang dilakukannya. Namun, alih-alih menjelaskan atau bertanggung jawab, ia justru menggambarkan dirinya sebagai pihak yang disakiti.

Dalam DARVO, bagian terakhir tersebut disebut Reverse Victim and Offender, yaitu membalik posisi korban dan pelaku. Freyd menjelaskan bahwa pelaku dapat mengambil posisi sebagai korban dan menggambarkan pihak yang mengonfrontasinya sebagai pihak yang bersalah.

Penelitian Harsey dan kolega juga menemukan hubungan antara paparan terhadap DARVO dalam konfrontasi dan meningkatnya perasaan menyalahkan diri sendiri pada orang yang melakukan konfrontasi.

6. Membuat Anda merasa bersalah karena mengungkap masalah

Orang yang suka memutarbalikkan keadaan dapat membuat pembicaraan mengenai kesalahannya berubah menjadi pembicaraan mengenai kekurangan Anda.

Akibatnya, Anda mungkin mulai berpikir, “Jangan-jangan saya yang terlalu mempermasalahkan hal ini?” atau “Mungkin saya memang salah.”

Cleveland Clinic menyebut bahwa pola gaslighting dapat membuat seseorang merasa bersalah, mempertanyakan penilaiannya, hingga terus-menerus meragukan keputusan sendiri.

Dalam penelitian Harsey, Zurbriggen, dan Freyd, paparan terhadap pola DARVO juga dikaitkan dengan meningkatnya self-blame pada orang yang melakukan konfrontasi.

7. Meremehkan perasaan atau kekhawatiran Anda

Memutarbalikkan keadaan tidak selalu dilakukan dengan mengubah fakta secara terang-terangan. Seseorang juga dapat mengecilkan persoalan yang sedang dibicarakan.

Misalnya, ketika Anda menyampaikan bahwa sebuah tindakan membuat Anda tidak nyaman, respons yang muncul justru menyebut Anda terlalu sensitif atau berlebihan.

Cleveland Clinic memasukkan perilaku seperti meremehkan atau membatalkan perasaan dan kekhawatiran seseorang sebagai salah satu perilaku yang dapat muncul dalam pola gaslighting.

Tetapi lagi-lagi, satu komentar seperti “kamu terlalu sensitif” belum cukup untuk menyimpulkan seseorang melakukan gaslighting. Konteks dan pola perilakunya tetap penting.

8. Membuat Anda semakin bingung setelah berbicara

Salah satu dampak yang patut diperhatikan adalah percakapan justru membuat Anda semakin bingung.

Anda mungkin masuk ke dalam percakapan dengan persoalan yang cukup jelas, tetapi setelah berdebat, Anda tidak lagi yakin apa yang sebenarnya terjadi. Anda bahkan bisa berakhir meminta maaf meskipun awalnya Anda yang ingin membicarakan perilaku orang tersebut.

Orang yang suka gaslighting dapat membuat seseorang mempertanyakan realitas, penilaian, dan kemampuan mengambil keputusan. Orang yang mengalaminya juga dapat meninggalkan sebuah konfrontasi dengan perasaan lebih bingung dibandingkan sebelumnya.

9. Jarang bertanggung jawab tanpa mencari kambing hitam

Meminta maaf secara tulus biasanya disertai pengakuan terhadap kesalahan dan kesediaan memperbaiki perilaku.

Sebaliknya, pola yang perlu diwaspadai adalah ketika permintaan maaf selalu disertai alasan yang menempatkan kesalahan utama pada orang lain.

Misalnya, seseorang mengatakan dirinya memang melakukan kesalahan, tetapi langsung menambahkan bahwa semua itu terjadi karena Anda, situasi, atau orang lain.

Pola seperti ini berbeda dengan penjelasan yang sehat. Seseorang tetap dapat menjelaskan alasan di balik tindakannya sambil mengakui bahwa ia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Tips Menghadapi Orang yang Suka Memutarbalikkan Keadaan

Menurut Bill Knaus, Ed.D., dalam Psychology Today, terdapat sejumlah strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi pola manipulasi yang melibatkan pengalihan kesalahan, tuduhan palsu, dan pemutarbalikan fakta.

1. Kenali polanya

Langkah pertama adalah menyadari bahwa percakapan tersebut mungkin sudah bergeser dari pembahasan masalah menjadi upaya mengalihkan kesalahan.

Perhatikan apakah orang tersebut berulang kali menuduh Anda melakukan sesuatu yang sebenarnya dilakukan olehnya, menghindari pertanyaan utama, atau mengubah topik ketika diminta bertanggung jawab.

Knaus menyarankan untuk mengenali pola tersebut terlebih dahulu sehingga seseorang tidak mudah terseret ke dalam permainan saling menyalahkan.

2. Simpan bukti dan catatan penting

Jika pemutarbalikan keadaan terjadi dalam persoalan pekerjaan, hubungan profesional, atau situasi lain yang membutuhkan kejelasan fakta, simpan bukti komunikasi yang relevan.

Misalnya, Anda dapat menyimpan email, pesan, dokumen, atau mencatat poin penting dari sebuah percakapan. Menurut Knaus, dokumentasi dapat membantu seseorang mengingat kembali fakta dan memberikan dasar ketika muncul tuduhan yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Namun, dokumentasi sebaiknya digunakan secara proporsional dan sesuai aturan yang berlaku, bukan untuk memperbesar konflik.

3. Jangan biarkan tuduhan orang lain menentukan cara Anda melihat diri sendiri

Orang yang suka memutarbalikkan keadaan dapat memberikan label negatif kepada orang lain untuk mengalihkan perhatian dari perilakunya sendiri.

Karena itu, jangan langsung menganggap tuduhan tersebut sebagai fakta hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan.

Knaus menyarankan agar seseorang tetap memiliki perspektif mengenai dirinya sendiri dan tidak membiarkan manipulator menentukan identitas atau penilaian terhadap dirinya.

4. Sampaikan batasan secara tegas

Ketika menghadapi percakapan yang mulai manipulatif, komunikasi yang tegas dapat membantu menjaga pembahasan tetap pada persoalan utama.

Tidak harus dengan membalas menggunakan nada tinggi. Anda dapat menyampaikan keberatan secara singkat, jelas, dan langsung.

Misalnya, daripada mengikuti tuduhan yang melebar, Anda dapat mengatakan, “Saya ingin kembali membahas kejadian yang tadi kita bicarakan.”

Knaus menempatkan komunikasi asertif sebagai salah satu strategi untuk menghadapi perilaku manipulatif.

5. Minta contoh ketika mendapat tuduhan yang terlalu umum

Salah satu cara menghadapi orang yang suka memutarbalikkan keadaan adalah meminta mereka menjelaskan tuduhan secara spesifik.

Ketika seseorang mengatakan, “Kamu selalu membuat masalah,” jangan langsung masuk ke dalam perdebatan mengenai seluruh perilaku Anda. Tanyakan hal yang lebih konkret, seperti, “Bisa beri contoh kejadian yang kamu maksud?”

Knaus menyarankan untuk mempertanyakan generalisasi dan kontradiksi dengan meminta contoh serta dasar dari sebuah tuduhan. Cara tersebut dapat membantu memperjelas apakah pernyataan yang disampaikan memang memiliki dasar atau hanya berupa tuduhan umum.

6. Jangan terburu-buru membalas saat emosi meningkat

Orang yang memutarbalikkan keadaan dapat membuat percakapan berubah menjadi konflik emosional. Jika ikut terpancing, pembicaraan justru semakin sulit kembali pada fakta.

Karena itu, berikan waktu untuk berhenti sejenak, memeriksa kembali fakta, dan menentukan respons yang diperlukan.

Knaus menyarankan agar seseorang tetap tenang, menilai fakta, dan tidak membiarkan pihak lain menentukan reaksinya.

7. Tetap terhubung dengan orang yang dapat dipercaya

Ketika seseorang terus-menerus menghadapi tuduhan atau pemutarbalikan fakta, ia dapat kehilangan perspektif dan mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri.

Memiliki orang yang dipercaya untuk diajak berdiskusi dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang yang lebih objektif.

Knaus menyarankan membangun jaringan orang yang suportif dan mampu memberikan perspektif yang masuk akal ketika menghadapi manipulasi.

8. Fokus pada fakta, bukan memenangkan perdebatan

Tujuan menghadapi orang yang suka memutarbalikkan keadaan bukan selalu untuk membuat mereka mengakui kesalahan.

Dalam situasi tertentu, perdebatan yang terlalu panjang justru membuat seseorang semakin mudah terseret ke dalam berbagai tuduhan baru.

Karena itu, fokuslah pada fakta yang dapat diverifikasi, batasan yang ingin Anda tetapkan, dan tindakan yang memang berada dalam kendali Anda.

Menurut Knaus, mempertahankan ketenangan sekaligus menilai fakta secara rasional dapat membantu seseorang mengambil kembali kendali ketika berhadapan dengan pola manipulasi.

9. Batasi ruang manipulasi jika polanya terus berulang

Jika perilaku memutarbalikkan keadaan terjadi berulang kali dan terus mengganggu kehidupan Anda, menjaga jarak atau menetapkan batasan yang lebih tegas dapat menjadi pilihan.

Knaus menekankan pentingnya menetapkan batasan dan membatasi sejauh mana perilaku manipulatif dapat masuk ke dalam waktu serta kehidupan seseorang.

Yang perlu diingat, mengenali pola manipulasi tidak berarti setiap orang yang berbeda pendapat atau menyangkal suatu tuduhan otomatis merupakan manipulator. Kesalahan komunikasi, perbedaan ingatan, atau sikap defensif juga dapat terjadi tanpa adanya niat manipulatif.

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Suka Memutarbalikkan Keadaan

1. Apakah orang yang suka memutarbalikkan keadaan selalu sadar sedang melakukannya?

Belum tentu. Seseorang dapat melakukan perilaku defensif atau mengubah cara bercerita tanpa sepenuhnya menyadari dampaknya. Karena itu, penilaian sebaiknya didasarkan pada pola perilaku yang berulang, bukan asumsi mengenai niatnya.

2. Bagaimana cara membedakan orang yang salah ingat dengan orang yang sengaja memutarbalikkan keadaan?

Kesalahan mengingat dapat terjadi pada siapa saja dan tidak otomatis menunjukkan manipulasi. Perbedaannya dapat dilihat dari pola yang lebih luas, misalnya apakah seseorang bersedia memeriksa kembali fakta, mengakui kemungkinan dirinya keliru, dan bertanggung jawab ketika terdapat bukti yang jelas.

3. Apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi orang yang sering memutarbalikkan keadaan?

Usahakan tetap fokus pada persoalan yang sedang dibahas dan hindari terjebak dalam perdebatan mengenai hal-hal yang tidak berkaitan. Jika diperlukan, catat fakta atau kesepakatan penting agar pembicaraan berikutnya memiliki rujukan yang jelas. Dalam hubungan yang terus membuat Anda merasa tertekan atau tidak aman, berbicara dengan orang tepercaya atau tenaga profesional dapat menjadi pilihan.