Cara Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan diri dapat merusak kesehatan mental. Pelajari strategi efektif seperti syukur, welas asih diri, dan batasi media sosial untuk mencapai kesejahtera

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 18:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Membandingkan diri dengan orang lain adalah kebiasaan yang sangat manusiawi. Kita bisa melakukannya saat melihat pencapaian teman, karier orang lain, kondisi finansial, penampilan, hubungan, hingga kehidupan di media sosial. Masalahnya muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita merasa tidak cukup, tertinggal, atau gagal.

Penelitian menunjukkan bahwa social comparison atau perbandingan sosial, terutama ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul, dapat berkaitan dengan rendahnya self-esteem dan kesejahteraan psikologis. Karena itu, mengetahui cara berhenti membandingkan diri dengan orang lain penting untuk membangun pola pikir yang lebih sehat.

Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain?

  • Otak secara alami mencari tolok ukur. Membandingkan kemampuan, pencapaian, atau kondisi diri dengan orang lain merupakan bagian dari proses manusia dalam mengevaluasi diri. Jadi, sesekali membandingkan diri bukan berarti ada yang salah dengan Anda.
  • Media sosial memperkuat kebiasaan tersebut. Di media sosial, kita lebih sering melihat pencapaian, liburan, penampilan terbaik, atau momen bahagia orang lain. Padahal, unggahan tersebut hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. American Psychological Association (APA) mencatat bahwa perilaku social comparison di media sosial dapat berkaitan dengan masalah seperti kecemasan sosial, kekhawatiran terhadap citra tubuh, dan penurunan self-esteem.
  • Kita sering membandingkan bagian terbaik orang lain dengan bagian terburuk diri sendiri. Inilah yang membuat perbandingan terasa tidak adil. Anda mengetahui kegagalan, kekhawatiran, dan kekurangan diri sendiri, tetapi belum tentu mengetahui perjuangan orang yang Anda jadikan pembanding.

Cara Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

  • Sadari kapan Anda mulai membandingkan diri. Langkah pertama bukan memaksa pikiran agar tidak pernah membandingkan diri, melainkan mengenali momennya. Misalnya, Anda merasa tidak sukses setelah melihat unggahan teman atau merasa kurang menarik setelah melihat foto seseorang. Berhenti sejenak dan tanyakan, “Apa yang sebenarnya saya rasakan?” Kesadaran ini membantu memutus kebiasaan otomatis.
  • Ubah pertanyaan dari “Mengapa saya tidak seperti dia?” menjadi “Apa yang bisa saya pelajari?” Perbandingan tidak selalu harus menjadi sumber tekanan. Jika seseorang memiliki keterampilan yang ingin Anda kuasai, jadikan pencapaiannya sebagai informasi atau inspirasi. Fokus pada proses yang dapat Anda tiru, bukan status akhir yang membuat Anda merasa tertinggal.
  • Bandingkan diri dengan versi Anda yang sebelumnya. Salah satu cara yang lebih sehat adalah menggunakan diri sendiri sebagai tolok ukur. Tanyakan apakah Anda sekarang lebih terampil, lebih berani, lebih disiplin, atau lebih memahami diri dibandingkan beberapa bulan atau tahun lalu. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa perbandingan temporal—membandingkan diri dari waktu ke waktu—dapat menjadi perspektif penting ketika mengevaluasi perkembangan diri.
  • Tetapkan ukuran sukses versi Anda sendiri. Sulit berhenti membandingkan diri jika definisi sukses masih berasal dari orang lain. Tentukan apa yang penting bagi Anda: pekerjaan yang bermakna, kesehatan, hubungan yang baik, stabilitas finansial, waktu bersama keluarga, atau perkembangan pribadi. Ketika tujuan Anda jelas, pencapaian orang lain tidak lagi menjadi standar utama.
  • Kurangi pemicu perbandingan di media sosial. Anda tidak selalu harus menghapus semua media sosial. Mulailah dengan mute atau unfollow akun yang membuat Anda terus merasa rendah diri. Perhatikan juga kondisi ketika Anda paling rentan, misalnya saat lelah, stres, atau sedang mengalami kegagalan. Bukti penelitian menunjukkan bahwa perbandingan ke atas di media sosial berkaitan dengan self-esteem yang lebih rendah.
  • Latih rasa syukur tanpa menyangkal masalah. Bersyukur bukan berarti menganggap semua masalah sudah selesai. Cukup luangkan beberapa menit untuk mengenali hal yang sudah Anda miliki dan perkembangan yang telah dicapai. Kebiasaan ini membantu mengalihkan perhatian dari “apa yang kurang” menjadi “apa yang sudah ada”.
  • Berhenti menganggap kehidupan orang lain sebagai kompetisi. Kesuksesan seseorang tidak otomatis mengurangi kesempatan Anda. Orang lain mendapatkan pekerjaan impian bukan berarti kesempatan Anda hilang. Teman yang lebih cepat mencapai target tertentu juga tidak berarti Anda gagal. Setiap orang memiliki kondisi, sumber daya, prioritas, dan waktu yang berbeda.
  • Bersikap lebih ramah kepada diri sendiri. Ketika menyadari bahwa Anda sedang membandingkan diri, hindari komentar seperti “Saya memang tidak pernah cukup baik.” Ganti dengan kalimat yang realistis, seperti “Saya sedang berada dalam proses dan tidak harus memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain.” Tujuannya bukan membohongi diri, tetapi mengurangi kritik yang tidak produktif.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Rasa Iri Muncul?

  • Akui perasaan tersebut. Iri atau kecewa tidak membuat Anda menjadi orang buruk. Perasaan adalah informasi, bukan perintah untuk bertindak.
  • Cari kebutuhan di balik rasa iri. Jika Anda iri melihat teman mendapat promosi, mungkin sebenarnya Anda menginginkan perkembangan karier. Jika iri terhadap kehidupan seseorang, mungkin Anda sedang membutuhkan lebih banyak kebebasan atau waktu untuk diri sendiri.
  • Ubah iri menjadi tujuan konkret. Setelah mengetahui kebutuhan tersebut, buat langkah kecil. Misalnya, mengikuti pelatihan, memperbarui CV, menabung, atau mengembangkan keterampilan baru.

Dengan cara ini, perbandingan tidak lagi sekadar membuat Anda merasa kurang, tetapi menjadi kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya Anda inginkan.

Kapan Perlu Mencari Bantuan?

  • Jika perbandingan terus mengganggu kehidupan sehari-hari, misalnya membuat Anda terus-menerus merasa tidak berharga, cemas, menarik diri dari orang lain, atau sulit menjalankan aktivitas, pertimbangkan berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental.
  • Jangan menganggap semua masalah berasal dari media sosial. Hubungan antara media sosial, perbandingan sosial, dan kesehatan mental bersifat kompleks. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara social comparison dengan depresi, kecemasan, dan self-esteem, tetapi konteks serta kondisi setiap individu tetap berpengaruh.

Pertanyaan yang Sering Dicari

Bagaimana cara berhenti membandingkan diri dengan orang lain?

Sadari pemicunya, batasi perbandingan di media sosial, tetapkan tujuan pribadi, dan gunakan perkembangan diri sendiri sebagai tolok ukur.

Mengapa saya selalu membandingkan diri dengan orang lain?

Perbandingan sosial merupakan kecenderungan manusiawi. Kebiasaan tersebut dapat semakin kuat ketika Anda merasa tidak aman, sedang mengalami tekanan, atau sering terpapar pencapaian orang lain.

Apakah membandingkan diri dengan orang lain itu buruk?

Tidak selalu. Perbandingan dapat memberikan informasi atau motivasi, tetapi menjadi tidak sehat ketika membuat Anda terus merasa rendah diri atau menentukan harga diri berdasarkan pencapaian orang lain.

Bagaimana cara berhenti merasa iri dengan kesuksesan orang lain?

Akui rasa iri tanpa menghakimi diri, kemudian cari kebutuhan yang mendasarinya. Setelah itu, ubah kebutuhan tersebut menjadi tujuan yang dapat Anda kerjakan

Apakah media sosial membuat kita lebih sering membandingkan diri?

Media sosial menyediakan banyak kesempatan untuk melakukan perbandingan, terutama karena pengguna sering melihat kehidupan yang sudah dipilih dan dikurasi. Penelitian menemukan bahwa perbandingan ke atas di media sosial dapat berkaitan dengan penurunan self-esteem.