Liputan6.com, Jakarta - Apa saja kebiasaan membuat orang dihormati di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan? Ternyata rasa hormat tidak selalu datang dari jabatan tinggi, suara lantang, atau penampilan mencolok.
Penelitian Susan T. Fiske, Amy J. C. Cuddy, dan Peter Glick (2007) berjudul Universal Dimensions of Social Cognition: Warmth and Competence di jurnal Trends in Cognitive Sciences menyebut manusia menilai orang lain lewat dua dimensi utama, yaitu kehangatan dan kemampuan. Artinya, cara seseorang bersikap sehari-hari sama pentingnya dengan prestasi yang ia miliki.
Kabar baiknya, sikap bisa dilatih dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang. Berikut adalah kebiasaan membuat orang dihormati dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (2/10/2026).
Advertisement
1. Bicara dan Bergerak dengan Lebih Tenang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4483920/original/045245700_1687916240-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_1_.jpg)
Melansir YourTango, memperlambat ritme bicara dan gerakan membantu seseorang tampak lebih tenang dan percaya diri. Dengan sengaja melambat, kita meredam dorongan terburu-buru yang biasanya muncul akibat rasa cemas.
Dalam praktik, kebiasaan ini bisa dimulai dengan memberi jeda satu tarikan napas sebelum menjawab pertanyaan. Jeda singkat memberi waktu untuk menyusun kata sehingga jawaban terdengar lebih matang.
2. Lebih Banyak Mendengarkan daripada Berbicara
Mendengarkan adalah salah satu cara paling sederhana untuk membuat orang lain merasa dihargai. Guy Itzchakov dan Avraham N. Kluger dalam tulisan berjudul The Power of Listening in Helping People Change menggambarkan pendengar berkualitas tinggi sebagai pendengar yang penuh perhatian, empatik, dan tidak menghakimi.
Penelitian Itzchakov bersama Kluger dan Dotan R. Castro (2017) berjudul I Am Aware of My Inconsistencies but Can Tolerate Them di jurnal Personality and Social Psychology Bulletin menunjukkan bahwa pendengar yang empatik dan tidak menghakimi dapat menurunkan kecemasan sosial pembicara dan mengurangi sikap defensifnya. Studi lanjutan Itzchakov dan kolega (2024) di Journal of Personality and Social Psychology juga menemukan bahwa mendengarkan dengan baik saat berbeda pendapat membuat pembicara lebih nyaman dan tidak terlalu defensif.
Untuk melatihnya, simpan ponsel saat berbicara, jangan menyela, dan ulangi inti ucapan lawan bicara dengan kalimat sendiri sebelum menanggapi.
Advertisement
3. Mengendalikan Emosi, Bukan Memendamnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326913/original/039961100_1756114887-pexels-karolina-grabowska-6255877.jpg)
Orang yang tetap tenang ketika menghadapi tantangan biasanya lebih dipercaya. Melalui laman Kementerian Kesehatan (keslan.kemkes.go.id), artikel RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang menyebut marah adalah hal wajar yang dialami semua orang, tetapi cara mengelolanya perlu diperhatikan.
Artikel itu menyarankan latihan napas dalam menggunakan diafragma, ditahan sekitar tiga detik, lalu dihembuskan. Artikel tersebut juga membedakan mengontrol emosi, yaitu mengekspresikannya dengan bijak, dari meredam emosi, yaitu menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaan. Meredam emosi dapat berdampak buruk, seperti kegelisahan, gangguan tidur, tubuh tegang, hingga depresi.
Jadi, tenang bukan berarti diam dan memendam. Sampaikan keberatan pada waktu yang tepat dengan kata-kata yang proporsional.
4. Menepati Janji, Sekecil Apa Pun
Janji kecil sering dianggap sepele, padahal di situlah kepercayaan dibangun. Datang tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai tenggat, atau menjaga rahasia yang dititipkan adalah wujud nyata menepati ucapan.
YourTango mengingatkan, melakukan apa yang sudah dikatakan membuat orang lain percaya, sedangkan sebaliknya perlahan mengikis kepercayaan itu. Jika memang tidak sanggup memenuhi janji, lebih baik menyampaikannya sejak awal daripada menghilang tanpa kabar.
5. Bersikap Baik kepada Semua Orang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4311877/original/081935000_1675349722-begging-bridge-with-person-who-handed-bread_1_.jpg)
Kebaikan yang hanya ditunjukkan kepada atasan atau orang berpengaruh mudah terbaca sebagai sikap pura-pura. Sebaliknya, memperlakukan semua orang dengan sopan, mulai dari rekan kerja hingga petugas kebersihan, menunjukkan karakter yang utuh.
Dalam kerangka Fiske dan rekan, sikap ini memperkuat dimensi kehangatan. Wujudnya bisa sangat sederhana, seperti mengucapkan terima kasih, bersabar ketika dilayani, atau menawarkan bantuan tanpa menunggu diminta.
6. Menghargai Diri Sendiri
YourTango menyebut orang yang dihormati umumnya lebih dahulu menghargai dirinya sendiri. Penghargaan diri tampak dari kebiasaan menjaga batas dan tidak terus-menerus menyenangkan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri.
Ini tidak sama dengan sombong. Menghargai diri berarti tahu kapan harus berkata tidak dengan sopan, serta mau mengakui kesalahan tanpa menyalahkan diri berlebihan.
Advertisement
7. Rendah Hati dan Tidak Haus Pengakuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189972/original/082677700_1744818712-woman-going-through-abortion-process_23-2149518186.jpg)
Orang yang rendah hati biasanya mudah diajak bekerja sama. YourTango juga mencatat kebiasaan orang yang dihormati untuk berhenti sejenak sebelum merespons, bukan buru-buru memenangkan percakapan.
Praktiknya, akui kontribusi orang lain, terima kritik dengan kepala dingin, dan hindari membahas pencapaian sendiri terus-menerus. Dengan begitu, orang lain justru lebih mudah melihat kualitas kita.
Contoh Penerapan di Rumah, Kantor, dan Pergaulan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189975/original/021353100_1744819055-girl-happily-screams-makes-winning-hand-gesture-holding-laptop-posing-office-against-background-board_197531-13437.jpg)
Kebiasaan membuat orang dihormati akan terasa lebih nyata jika dilihat dari situasi sehari-hari. Berikut contoh sederhana yang bisa dicoba.
| Situasi | Kebiasaan yang Bisa Dilatih | Contoh Praktik |
|---|---|---|
| Rapat kantor | Mendengarkan dan tidak menyela | Menunggu rekan selesai bicara, lalu merangkum poin sebelum menyampaikan pendapat |
| Percakapan keluarga | Mengendalikan emosi | Menarik napas dalam dan menunda jawaban saat suasana memanas |
| Kerja sama tim | Menepati janji | Memberi kabar lebih awal jika tenggat tidak tercapai |
| Pergaulan | Bersikap baik kepada semua orang | Menyapa dan berterima kasih kepada siapa pun tanpa memandang jabatan |
| Menerima kritik | Rendah hati | Mengucapkan terima kasih atas masukan, lalu mencatat hal yang perlu diperbaiki |
Di lingkungan kerja, misalnya, atasan yang mau mendengar bawahan sebelum memutuskan biasanya lebih mudah mendapat dukungan. Di rumah, orang tua yang menepati janji kecil kepada anak membantu anak belajar bahwa ucapan bisa dipegang. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa rasa hormat dibangun lewat kebiasaan yang bisa dilihat orang lain, bukan lewat pengakuan yang dituntut.
Advertisement
Mitos tentang Rasa Hormat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243869/original/047565200_1749116446-medium-shot-women-coffee-shop.jpg)
Ada beberapa anggapan keliru yang perlu diluruskan. Pertama, orang yang dihormati tidak harus selalu tegas dan keras. Ketenangan dan kemampuan mendengar sering kali lebih berpengaruh daripada nada suara tinggi.
Kedua, bersikap baik bukan berarti selalu mengalah. Seseorang tetap boleh menolak permintaan dan menyampaikan ketidaksetujuan, selama dilakukan dengan sopan. Ketiga, rasa hormat tidak datang seketika. Kebiasaan membuat orang dihormati perlu dijalankan konsisten agar orang lain melihatnya sebagai karakter, bukan sandiwara sesaat.
Kebiasaan yang Diam-Diam Menurunkan Rasa Hormat
Selain membangun kebiasaan baik, penting pula mengenali perilaku yang bisa menggerus respek. YourTango menyebut beberapa di antaranya, seperti sering menyela pembicaraan, terlibat dalam perdebatan tanpa tujuan, serta terus mengeluh tentang hal yang sebenarnya tidak bisa diubah.
Menurut YourTango, perilaku-perilaku ini tampak kecil, tetapi jika terus berulang, orang lain dapat memandang kita kurang layak dihormati. Mengenalinya lebih awal membantu kita memperbaikinya sebelum menjadi kebiasaan.
Cara Membiasakan Sikap yang Dihormati
Jangan mencoba mengubah semuanya dalam satu hari. Pilih satu kebiasaan, misalnya memberi jeda sebelum menjawab, lalu jalankan secara sadar selama beberapa minggu sebelum menambah kebiasaan berikutnya.
Catat momen ketika kamu berhasil dan momen ketika kamu terpeleset. Catatan singkat membantu melihat pola, misalnya situasi yang paling sering memancing emosi atau membuatmu lupa menepati janji.
Kamu juga bisa meminta masukan dari orang terdekat yang jujur. Tanyakan kapan mereka merasa paling didengar olehmu dan kapan sebaliknya. Masukan seperti ini sering lebih tajam daripada penilaian diri sendiri.
Jika kemarahan sering meledak, mengganggu aktivitas, atau sulit dikendalikan meski sudah berusaha, pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa. Informasi dalam artikel ini bukan pengganti konsultasi dengan profesional.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Membuat Orang Dihormati
1. Apakah dihormati sama dengan ditakuti?
Tidak. Rasa hormat tumbuh dari kepercayaan dan perlakuan yang baik, sedangkan rasa takut muncul dari tekanan.
2. Apakah orang pendiam bisa tetap dihormati?
Bisa. Rasa hormat lebih ditentukan oleh sikap, konsistensi, dan kemauan mendengarkan daripada banyaknya bicara.
3. Kebiasaan apa yang paling mudah dimulai?
Memberi jeda sebelum menjawab dan tidak menyela pembicaraan adalah langkah paling sederhana untuk dimulai hari ini.
4. Apakah menepati janji kecil juga berpengaruh?
Ya. Janji kecil yang ditepati membentuk kesan dapat diandalkan, sedangkan janji kecil yang diingkari bisa mengurangi kepercayaan.
5. Berapa lama kebiasaan baru terasa hasilnya?
Tidak ada patokan pasti. Hasilnya bergantung pada konsistensi, sehingga mulailah dari satu kebiasaan dan jalankan secara rutin.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364021/original/072430000_1790928361-cek_fakta_-_aturan_pembelian_bbm_pertamina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845745/original/091933300_1562319808-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363762/original/040487800_1790917791-Cek_Fakta_Wamenkeu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137785/original/055250800_1739961431-20250219-Penambahan_Jalur_Transjakarta-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363895/original/080242600_1790924346-pexels-ketut-subiyanto-4963357.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361122/original/072768100_1790677028-4056__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4390800/original/021868600_1681200535-lanju-fotografie-_R_5e0nwBH8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4963087/original/021202000_1728373680-IMG-20241008-WA0028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357983/original/037125200_1790317549-551e8795-769c-4ce1-939a-0e999e877a8f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356949/original/077288400_1790227604-65d0704e-0458-46ac-848c-81501d88dc80.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356807/original/052174600_1790221357-2137.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351761/original/075937000_1789713723-3b3eb024-cae2-4099-8684-2d0dac0b1629.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5389406/original/034498800_1761196613-50dedcdc-0c89-40c8-8b6d-84b609f926cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351051/original/018400300_1789638806-clay-banks-w_qTfiPbjbg-unsplash.jpg)