9 Cara Mengenali Orang yang Energinya Cepat Terkuras, Ketahui untuk Interaksi Sehat dan Nyaman

Memahami 9 cara mengenali orang yang energinya cepat terkuras penting untuk interaksi sosial yang sehat.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 20:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua orang merasa nyaman berada di dekat orang yang selalu terlihat ceria dan penuh semangat. Cara mengenali orang yang energinya cepat terkuras sebenarnya bisa dilihat dari sejumlah ciri kepribadian yang cukup khas dan sering muncul berulang dalam interaksi sehari-hari. 

Melansir laman Your Tango, kebahagiaan yang berlebihan pada orang lain justru bisa membuat sebagian orang merasa lelah secara emosional, apalagi jika mereka sedang tidak berada dalam suasana hati yang sama. Berikut sembilan tanda lengkap dengan penjelasannya yang biasa dimiliki orang-orang dengan kondisi ini, sebagaimana dilansir Liputan6.com dari laman Your Tango, Selasa (11/8/2026).

1. Cenderung Introvert

Salah satu ciri paling umum dari orang yang energinya cepat terkuras adalah kepribadian introvert. Melansir laman Your Tango, sebagian orang yang secara alami mudah kehabisan energi memang memiliki dasar kepribadian ini sejak awal, bukan sekadar suasana hati sesaat. Introvert cenderung memproses dunia lebih banyak dari dalam diri sendiri, sehingga interaksi sosial yang intens membutuhkan usaha ekstra dibanding bagi orang berkepribadian ekstrovert. 

Dalam praktiknya, orang introvert akan mudah lelah saat harus berinteraksi dengan terlalu banyak orang sekaligus, apalagi dalam suasana yang penuh emosi dan energi tinggi seperti berkumpul dengan teman yang sangat ceria. Bukan berarti mereka tidak senang berkumpul, tetapi kapasitas energi sosial mereka memang lebih terbatas dibanding orang lain di sekitarnya. 

Ciri khas lain dari kelompok ini adalah mereka justru merasa lebih berenergi ketika meluangkan waktu untuk diri sendiri, dibanding harus terus-menerus berurusan dengan emosi banyak orang. Karena itu, jika seseorang tampak butuh waktu menyendiri setelah acara sosial, besar kemungkinan itu berasal dari kepribadian introvert yang memang lebih cepat kehabisan energi dalam interaksi sosial yang ramai.

2. Kepribadian Santai

Selain introvert, ada juga orang yang memang memiliki karakter lebih santai dibandingkan kebanyakan orang. Mereka yang mudah merasa lelah ketika berada di dekat orang yang terlalu bahagia biasanya termasuk dalam kelompok kepribadian ini, di mana ritme hidup yang tenang jauh lebih nyaman dibanding suasana yang serba cepat dan penuh semangat. Orang dengan tipe ini mungkin lebih memilih menghabiskan malam dengan tenang sambil menonton film bersama teman, dibanding mengikuti kegiatan seru yang menuntut banyak energi fisik maupun emosional. 

Di sisi lain, orang yang penuh semangat biasanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sehingga mereka jadi tipe teman yang senang merencanakan berbagai kegiatan atau perjalanan bersama kelompok. Kondisi ini terkadang sedikit mengganggu teman-temannya yang energinya lebih rendah, karena harus menyesuaikan diri dengan ritme yang jauh lebih aktif dari kebiasaan mereka. 

Meski begitu, orang berkepribadian santai ini mungkin tetap mengikuti ajakan teman yang lebih bersemangat demi menjaga hubungan pertemanan. Namun ketika harus melakukan aktivitas semacam itu, mereka kemungkinan besar akan merasa lebih lelah daripada bersemangat begitu acara selesai, karena harus keluar dari zona nyaman ritme hidup mereka yang biasanya lebih tenang. 

3. Menyukai Gosip

Ciri berikutnya dari orang yang energinya cepat terkuras adalah kecenderungan lebih menikmati obrolan seputar gosip dibanding kebanyakan orang. Topik semacam ini terasa lebih menarik bagi mereka dan mampu membuat mereka merasa lebih terlibat dalam sebuah percakapan, dibanding obrolan ringan seputar hal-hal positif semata.

Semakin dramatis sebuah cerita, semakin mereka merasa antusias untuk mendengarkan atau ikut membahasnya bersama teman. Masalahnya, orang yang terlalu bahagia biasanya kurang tertarik membahas gosip karena lebih memilih membicarakan hal-hal positif dan membangun.

Ketika berhadapan dengan lawan bicara seperti ini, orang yang gemar bergosip akan merasa obrolan menjadi kurang menarik dan cenderung membosankan bagi mereka. Akibatnya, mereka jadi harus berpura-pura antusias supaya percakapan tetap terasa nyaman, padahal sebenarnya energinya sudah mulai terkuras karena topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat mereka. Rasa lelah ini biasanya baru terasa jelas setelah percakapan selesai dan mereka kembali sendirian.

4. Mudah Merasa Cemburu

Rasa cemburu juga menjadi salah satu ciri khas orang yang energinya cepat terkuras saat berada di dekat orang yang terlalu bahagia. Perasaan ini sering kali muncul tanpa disadari, dan sebagian dari mereka sebenarnya sadar bahwa merasa kesal pada orang yang bersikap positif bukanlah sikap yang sepenuhnya adil. Meski begitu, tidak semua orang mampu mengendalikan perasaan tersebut. 

Sebagian dari mereka justru merasa memiliki alasan yang valid untuk tidak menyukai orang yang tampak terlalu bahagia, padahal akar masalahnya adalah rasa cemburu yang belum sepenuhnya mereka sadari. Kecemburuan ini muncul karena mereka sulit menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang tampak lebih bahagia dari diri mereka sendiri, sehingga cara pandang mereka terhadap orang tersebut pun ikut berubah, misalnya menganggapnya berlebihan atau kurang tulus. Emosi negatif yang terus berputar seperti ini pada akhirnya membuat mereka merasa semakin lelah, bahkan bisa menimbulkan rasa kesal ganda, baik terhadap orang yang bahagia tersebut maupun terhadap diri mereka sendiri karena tidak bisa merasakan hal yang sama.

5. Kesulitan Berempati

Ciri selanjutnya adalah kesulitan untuk turut merasa senang atas pencapaian atau kebahagiaan orang lain. Ketika seorang teman mendapat kabar baik atau pencapaian besar dalam hidupnya, orang dengan ciri ini sering kali kesulitan menunjukkan rasa senang yang tulus untuk merayakannya bersama. Alih-alih ikut merayakan, mereka justru merasa tidak nyaman karena kabar baik tersebut secara tidak langsung membuat mereka membandingkan diri dengan kondisi hidup orang lain. 

Sikap yang cenderung lebih kritis dan skeptis dibanding suportif inilah yang membuat mereka sulit menjadi pendukung yang antusias bagi orang lain. Alih-alih memberi semangat, mereka justru lebih sering mencari sisi negatif dari sebuah kabar gembira yang disampaikan temannya. Karena harus menahan reaksi yang sebenarnya kurang tulus demi menjaga hubungan sosial, mereka jadi gampang lelah ketika berada di dekat teman yang emosinya sedang meluap-luap bahagia, sebab proses menahan diri tersebut memakan cukup banyak energi emosional.

6. Merasa Tidak Aman

Perasaan cemburu dan kesulitan berempati yang telah dibahas sebelumnya biasanya berakar dari rasa tidak aman atau insecure yang tersembunyi di dalam diri seseorang. Orang yang energinya cepat terkuras di dekat orang bahagia sering kali sebenarnya merasa tidak puas dengan kondisi hidupnya sendiri, dan rasa tidak aman ini biasanya ditutupi dengan cara mengkritik sikap terlalu ceria orang lain. Padahal, sikap kritis semacam ini sering kali hanya menjadi bentuk pertahanan diri dari rasa tidak nyaman yang mereka rasakan.

Kebahagiaan orang lain seolah menjadi cerminan yang memperlihatkan ketidakpuasan mereka sendiri terhadap hidup yang sedang dijalani. Semakin besar jarak antara kondisi diri mereka dan kebahagiaan yang ditunjukkan orang lain, semakin besar pula rasa tidak nyaman yang muncul dalam interaksi tersebut. Karena tidak ada orang yang benar-benar ingin merasa tidak bahagia, kondisi ini membuat mereka semakin sensitif dan mudah lelah saat berhadapan dengan orang-orang yang terlalu ceria.

7. Tidak Mudah Percaya

Orang dengan sifat sulit percaya juga rentan merasa lelah di dekat orang yang terlalu ceria. Sikap penuh semangat yang ditunjukkan seseorang kadang disalahartikan sebagai sesuatu yang tidak tulus, dibuat-buat, atau bahkan sekadar topeng dari perasaan yang sebenarnya. Karena dasarnya memang tidak mudah percaya pada orang lain, mereka cenderung mempertanyakan keaslian dari kebahagiaan yang ditunjukkan di depan mereka.

Alih-alih menerima begitu saja, pikiran mereka justru sibuk mencari-cari kemungkinan bahwa kebahagiaan tersebut hanyalah sandiwara belaka, sambil terus menganalisis nada bicara maupun ekspresi wajah lawan bicaranya. Proses berpikir dan curiga yang terus-menerus semacam ini membutuhkan cukup banyak energi mental, meski dilakukan secara tidak sadar. Lama-kelamaan, kebiasaan menganalisis ini membuat interaksi sosial terasa jauh lebih melelahkan dibanding bagi orang yang lebih mudah percaya pada niat baik orang lain.

8. Mereka Suka Begadang

Kebiasaan tidur larut malam juga berkaitan erat dengan cara mengenali orang yang energinya cepat terkuras. Orang yang sering begadang dan kurang tidur cenderung memiliki tingkat sensitivitas emosional yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidur cukup setiap malamnya. Ketika bangun dalam kondisi kurang istirahat, seseorang biasanya lebih gampang terganggu oleh energi orang lain yang terlalu ceria, apalagi di pagi hari saat tubuh masih terasa lelah. 

Kurang tidur diketahui dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi sehari-hari. Otak yang tidak mendapat istirahat cukup cenderung lebih sulit menyaring reaksi emosional, sehingga hal-hal kecil pun bisa terasa lebih mengganggu dari biasanya. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah lelah, mudah tersinggung, bahkan cenderung melampiaskan rasa lelah tersebut dalam bentuk sikap ketus atau menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya, termasuk dari teman yang sebenarnya hanya ingin berbagi kebahagiaan.

9. Terkadang Suka Menghakimi

Ciri terakhir dari orang yang energinya cepat terkuras adalah kecenderungan untuk menilai orang lain secara sepihak, terutama terhadap mereka yang terlihat terlalu bahagia. Mereka sering menganggap orang yang terlalu ceria sebagai sosok yang kurang peka terhadap berbagai persoalan di sekitarnya, karena menganggap seseorang tidak mungkin selalu bahagia jika benar-benar memperhatikan banyaknya hal buruk yang terjadi di dunia. 

Selain itu, mereka juga kerap menduga bahwa orang tersebut kurang berempati karena tidak menunjukkan simpati mendalam terhadap situasi buruk yang dialami orang lain. Padahal, anggapan semacam ini belum tentu benar dan bisa jadi hanya prasangka semata tanpa dasar yang kuat. Sikap menghakimi seperti ini membuat mereka masuk ke sebuah percakapan dengan asumsi negatif sejak awal, bahkan sebelum obrolan benar-benar dimulai. Akibatnya, energi mereka sudah terkuras terlebih dahulu hanya karena prasangka yang mereka bangun sendiri terhadap lawan bicaranya

Cara Menyikapi Orang yang Mudah Kehabisan Energi

  • Jika memiliki teman, pasangan, anggota keluarga, atau rekan kerja yang mudah terkuras energinya, berikan mereka ruang untuk beristirahat.
  • Tidak perlu memaksa mereka untuk selalu mengikuti setiap kegiatan. Berikan kesempatan bagi mereka untuk menolak ajakan ketika sedang lelah dan jangan langsung menganggapnya sebagai bentuk penolakan pribadi.
  • Komunikasi juga penting. Tanyakan apakah mereka membutuhkan waktu sendiri atau justru ingin ditemani dalam suasana yang lebih tenang.

Jangan Terburu-buru Memberi Label

Penting untuk diingat bahwa tanda-tanda di atas tidak dapat digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang secara mutlak. Setiap orang memiliki batas energi, kondisi, kebiasaan, dan cara berinteraksi yang berbeda.

Seseorang yang biasanya aktif juga dapat mengalami kelelahan setelah menghadapi pekerjaan berat atau situasi penuh tekanan. Sebaliknya, orang yang pendiam belum tentu selalu mudah kehabisan energi. Karena itu, perhatikan pola perilaku secara keseluruhan dan hindari memberikan label hanya berdasarkan satu atau dua tanda. 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengenali Orang yang Energinya Cepat Terkuras

1. Apa ciri utama orang yang energinya cepat terkuras saat berinteraksi sosial?

Ciri utamanya adalah memiliki kepribadian introvert, yang membuat mereka mudah lelah setelah berinteraksi dengan banyak orang dan membutuhkan waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi.

2. Bagaimana kecemburuan dapat menjadi tanda energi yang cepat terkuras?

Kecemburuan dapat menguras energi karena orang yang mudah cemburu kesulitan menerima kebahagiaan orang lain, yang memicu emosi negatif dan kelelahan.

3. Apa hubungan antara kesulitan berempati dengan energi yang cepat terkuras?

Kesulitan berempati bisa menjadi tanda "empathic burnout" atau "compassion fatigue", di mana seseorang terlalu lelah secara emosional untuk mendukung atau merayakan keberhasilan orang lain.

4. Mengapa kebiasaan begadang membuat energi cepat terkuras?

Begadang menyebabkan kurang tidur, yang secara negatif memengaruhi fungsi otak, suasana hati, dan kemampuan mengatur emosi, sehingga tubuh dan pikiran menjadi lelah.

5. Apa itu "energy vampire" dan bagaimana kaitannya dengan orang yang energinya cepat terkuras?

"Energy vampire" adalah individu yang secara emosional menguras energi orang lain melalui perilaku negatif atau manipulatif, membuat orang di sekitarnya merasa lelah dan terkuras.