Ciri Kepribadian Tsundoku, Pecinta Buku yang Tak Pernah Selesai Membaca

Ciri kepribadian tsundoku terlihat dari kebiasaan mengoleksi buku, rasa penasaran tinggi, dan sulit menolak bacaan baru.

Diterbitkan 25 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepribadian tsundoku mungkin terdengar seperti istilah untuk menggambarkan karakter seseorang, padahal sebenarnya tsundoku lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan mengumpulkan atau membeli buku yang belum sempat dibaca. Pernah merasa begitu tertarik melihat buku baru sampai rasanya ingin langsung membawanya pulang, meskipun di rumah masih ada beberapa buku yang bahkan belum dibuka? Jika pernah, bisa jadi Anda cukup dekat dengan kebiasaan yang satu ini.

Menariknya, kebiasaan tersebut tidak selalu muncul karena seseorang malas membaca buku. Justru, orang yang melakukan tsundoku biasanya memiliki ketertarikan besar terhadap buku, informasi, cerita, atau berbagai pengetahuan baru. Masalahnya, rasa penasaran terkadang bergerak lebih cepat daripada waktu luang untuk membaca semua buku yang sudah dibeli.

Karena itu, ada beberapa pola perilaku yang sering terlihat pada orang yang gemar melakukan tsundoku. Mulai dari mudah tergoda judul buku baru, senang memiliki koleksi bacaan, sampai merasa puas hanya dengan mengetahui bahwa buku yang menarik sudah tersedia di rak, berbagai kebiasaan tersebut membuat fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan para pencinta buku.

1. Sangat Tertarik pada Buku Baru

Salah satu ciri yang paling mudah terlihat adalah munculnya ketertarikan yang kuat ketika menemukan buku baru. Sampul yang menarik, judul yang unik, rekomendasi dari teman, atau pembahasan buku di media sosial dapat membuat seseorang langsung penasaran meskipun masih memiliki banyak bacaan yang belum selesai.

Ketertarikan tersebut biasanya tidak berhenti pada rasa ingin tahu, tetapi berkembang menjadi keinginan untuk memiliki buku secara langsung. Ada perasaan bahwa buku tersebut mungkin akan memberikan pengalaman atau pengetahuan baru yang sayang dilewatkan, sehingga keputusan membelinya terasa masuk akal pada saat itu.

Bagi sebagian orang, membeli buku baru juga memberikan sensasi menyenangkan karena terasa seperti membuka kesempatan terhadap sesuatu yang belum diketahui. Bahkan sebelum halaman pertama dibaca, membayangkan isi buku, cerita di dalamnya, atau wawasan yang mungkin diperoleh sudah cukup untuk membuat seseorang merasa antusias.

2. Suka Mengoleksi Pengetahuan

Orang yang memiliki kebiasaan tsundoku sering kali tidak sekadar mengumpulkan benda berupa buku, tetapi juga merasa sedang mengumpulkan berbagai kemungkinan pengetahuan. Buku tentang topik tertentu mungkin belum dibutuhkan sekarang, tetapi dianggap berharga karena suatu saat bisa menjadi sumber informasi yang berguna.

Kecenderungan ini membuat seseorang dapat membeli buku dengan tema yang cukup beragam. Dalam satu rak, misalnya, bisa terdapat buku psikologi, sejarah, bisnis, kesehatan, sastra, agama, hingga pengembangan diri karena setiap topik menawarkan sesuatu yang berbeda untuk dipelajari.

Ada pula kepuasan tersendiri ketika mengetahui bahwa berbagai sumber pengetahuan tersedia di rumah. Meskipun belum semuanya dibaca, keberadaan koleksi tersebut dapat memberikan perasaan bahwa seseorang memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi suatu topik ketika rasa penasaran muncul.

3. Mudah Tertarik pada Banyak Topik

Seseorang yang melakukan tsundoku biasanya memiliki rasa penasaran yang cukup luas sehingga ketertarikannya tidak terpaku pada satu bidang saja. Buku yang membahas tema tertentu dapat menarik perhatian hari ini, kemudian esok harinya muncul minat baru terhadap topik yang sama sekali berbeda.

Perubahan ketertarikan tersebut sebenarnya tidak selalu menunjukkan seseorang tidak konsisten. Justru, banyak orang memiliki rasa ingin tahu yang membuat mereka senang mencoba memahami berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda, meskipun tidak semuanya berakhir dengan pembacaan sampai halaman terakhir.

Akibatnya, rak buku bisa menjadi gambaran dari banyaknya minat yang pernah muncul dalam kehidupan seseorang. Ada buku yang dibeli karena pekerjaan, ada yang dibeli karena hobi, sementara lainnya muncul hanya karena sebuah topik terasa menarik ketika pertama kali ditemukan.

4. Memiliki Daftar Bacaan yang Terus Bertambah

Ciri lainnya adalah daftar buku yang ingin dibaca terus bertambah meskipun waktu untuk membaca sebenarnya terbatas. Satu buku mungkin belum selesai, tetapi sudah ada beberapa judul lain yang masuk ke daftar bacaan karena muncul dari rekomendasi, ulasan, atau penemuan pribadi.

Keadaan tersebut dapat membuat seseorang memiliki daftar bacaan yang panjang dan terkadang sulit menentukan buku mana yang harus dibaca terlebih dahulu. Setiap judul terasa menarik dengan alasan berbeda, sehingga memilih satu buku berarti harus menunda kesempatan membaca buku lainnya.

Namun, daftar bacaan yang panjang juga dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi pencinta buku. Daripada melihatnya sebagai kewajiban yang harus segera diselesaikan, sebagian orang justru menganggap daftar tersebut sebagai kumpulan pilihan yang dapat dinikmati sesuai suasana hati dan kebutuhan.

5. Merasa Senang Hanya dengan Memiliki Buku

Tidak semua kepuasan dalam membaca harus berasal dari aktivitas membaca itu sendiri. Bagi sebagian orang, memiliki buku yang disukai sudah dapat memberikan perasaan senang karena mereka mengetahui bahwa buku tersebut dapat dibaca kapan saja ketika waktunya sudah tersedia.

Buku juga bisa memiliki nilai emosional yang berbeda dibandingkan barang lainnya. Sampul, aroma kertas, desain halaman, hingga keberadaannya di rak dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi orang yang memang menyukai buku dan merasa nyaman berada di lingkungan yang dipenuhi bacaan.

Karena itu, seseorang bisa saja membeli sebuah buku lalu tidak langsung membacanya selama berbulan-bulan. Buku tersebut tetap dianggap berharga karena memberikan rasa puas sebagai bagian dari koleksi sekaligus menjadi pilihan bacaan yang bisa diambil kapan saja.

6. Sering Membeli Buku karena “Momen yang Tepat”

Ada kalanya seseorang membeli buku bukan karena benar-benar membutuhkan buku tersebut sekarang, melainkan karena merasa kesempatan membelinya sedang tepat. Harga sedang turun, tersedia edisi khusus, buku sulit ditemukan, atau ada rekomendasi menarik dapat menjadi alasan yang mendorong keputusan pembelian.

Pikiran seperti “nanti pasti akan saya baca” juga cukup umum muncul dalam kondisi tersebut. Buku kemudian dibeli terlebih dahulu dengan harapan akan ada waktu yang lebih longgar pada masa mendatang untuk benar-benar menikmatinya secara perlahan.

Kebiasaan ini menjadi salah satu bagian menarik dari tsundoku karena pembelian sering kali berkaitan dengan kemungkinan di masa depan. Seseorang tidak selalu membeli berdasarkan kebutuhan saat ini, tetapi berdasarkan bayangan tentang aktivitas membaca yang ingin dilakukan ketika kondisi sudah lebih memungkinkan.

7. Menyukai Kemungkinan daripada Penyelesaian

Ada orang yang merasa sangat bersemangat ketika membayangkan berbagai hal yang bisa dipelajari dari sebuah buku, tetapi rasa antusias tersebut belum tentu membuat mereka langsung menyelesaikannya. Proses membayangkan isi buku terkadang sudah menghadirkan pengalaman menyenangkan tersendiri.

Buku yang belum dibaca juga menyimpan banyak kemungkinan karena pembaca belum mengetahui apa yang akan ditemukan di dalamnya. Ada rasa penasaran yang tetap terjaga selama buku tersebut belum dibuka, sehingga keberadaannya di rak seolah menjadi janji tentang sesuatu yang dapat dijelajahi kemudian.

Hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang tidak mampu menyelesaikan sesuatu. Bisa saja seseorang memang sedang menikmati banyak minat sekaligus dan belum menemukan waktu yang tepat untuk memberikan perhatian penuh kepada setiap buku yang dimiliki.

8. Punya Rasa Penasaran yang Tinggi

Rasa penasaran merupakan salah satu alasan yang membuat seseorang mudah tertarik pada buku baru. Judul yang menggugah pertanyaan, topik yang sedang ramai dibicarakan, atau sebuah kutipan menarik dapat memunculkan keinginan untuk mengetahui lebih jauh melalui buku.

Ketika rasa ingin tahu tersebut muncul, membeli buku terasa seperti langkah untuk mendapatkan jawaban atau memahami suatu persoalan dengan lebih mendalam. Bahkan jika buku tersebut belum langsung dibaca, memilikinya dapat memberikan perasaan bahwa jawaban yang dicari sudah berada dalam jangkauan.

Rasa penasaran yang tinggi juga membuat seseorang mudah berpindah dari satu topik ke topik lain. Setelah menemukan sesuatu yang menarik dalam sebuah buku, mereka bisa saja mencari buku lain yang membahas tema berbeda karena ingin memperluas pemahaman dan menemukan perspektif baru.

9. Sulit Menolak Rekomendasi Buku

Rekomendasi dari teman, keluarga, komunitas membaca, penulis favorit, atau media sosial bisa menjadi godaan tersendiri bagi orang yang gemar mengoleksi buku. Ketika sebuah buku direkomendasikan dengan alasan yang meyakinkan, muncul dorongan untuk segera memasukkannya ke dalam daftar bacaan.

Masalahnya, rekomendasi tersebut dapat datang lebih cepat daripada kemampuan membaca buku yang sudah dimiliki. Satu rekomendasi kemudian diikuti rekomendasi lainnya, sehingga daftar buku yang ingin dibaca semakin panjang tanpa disadari.

Meski begitu, menerima rekomendasi juga dapat memperkaya pengalaman membaca karena seseorang berkesempatan menemukan buku yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Tantangannya hanya bagaimana mengatur pembelian dan menentukan prioritas agar koleksi tetap menyenangkan tanpa terasa seperti beban.

10. Tidak Selalu Berarti Malas Membaca

Hal yang sering keliru dipahami adalah menganggap orang yang melakukan tsundoku sebagai seseorang yang malas membaca. Padahal, memiliki banyak buku yang belum selesai dibaca tidak secara otomatis menunjukkan rendahnya minat terhadap aktivitas membaca karena penyebabnya bisa berasal dari keterbatasan waktu atau banyaknya ketertarikan.

Seseorang mungkin memiliki jadwal pekerjaan yang padat, aktivitas keluarga, kegiatan lain, atau sekadar membutuhkan waktu untuk menyelesaikan satu buku secara perlahan. Pada saat yang sama, buku baru terus bermunculan dan menawarkan topik yang menarik sehingga jumlah koleksi bertambah lebih cepat daripada jumlah buku yang selesai dibaca.

Dengan demikian, kebiasaan tersebut lebih tepat dilihat sebagai hubungan seseorang dengan buku dan rasa ingin tahunya. Selama tidak mengganggu kondisi finansial, ruang tinggal, atau aktivitas sehari-hari, memiliki tumpukan buku yang belum dibaca dapat menjadi bagian dari kebiasaan pribadi yang wajar bagi pencinta bacaan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Tsundoku

1. Apa itu tsundoku?

Tsundoku adalah istilah Jepang untuk kebiasaan membeli atau mengumpulkan buku yang belum sempat dibaca, sehingga buku-buku tersebut akhirnya menumpuk sebagai koleksi.

2. Apakah tsundoku berarti malas membaca?

Tidak selalu. Seseorang dapat sangat menyukai membaca tetapi membeli buku lebih cepat daripada waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya.

3. Mengapa seseorang suka membeli banyak buku?

Beberapa alasannya antara lain rasa penasaran, ketertarikan terhadap pengetahuan, rekomendasi orang lain, harga menarik, atau keinginan memiliki buku untuk dibaca pada masa mendatang.

4. Apakah tsundoku termasuk gangguan psikologis?

Tsundoku sendiri merupakan istilah yang menggambarkan kebiasaan membeli dan menumpuk buku, bukan diagnosis gangguan psikologis.

5. Bagaimana mengetahui seseorang memiliki kebiasaan tsundoku?

Salah satu tandanya adalah memiliki banyak buku yang belum dibaca, tetapi tetap mudah tertarik membeli atau menambahkan judul baru ke dalam koleksi.