Liputan6.com, Jakarta - Di era hustle culture yang memuja kesibukan tanpa henti, istirahat dan mengambil jeda sering dianggap sebagai sebuah kemalasan. Banyak orang merasa bersalah ketika membutuhkan waktu sendiri, tidak langsung membalas pesan, atau memilih pulang kerja tepat waktu karena takut dicap sebagai pribadi yang pemalas. Budaya kerja modern ini telah menciptakan ilusi yang keliru bahwa nilai diri seseorang bergantung sepenuhnya pada seberapa sibuk dan lelahnya mereka di penghujung hari.
Padahal, menurut psikolog dan terapis hubungan Dr. Mindy DeSeta, Ph.D., tidak semua kebiasaan yang tampak seperti rasa malas berhubungan dengan kurangnya motivasi. Terkadang, hal tersebut merupakan cara seseorang dalam melindungi waktu, energi, serta kesehatan mental mereka dengan menetapkan batasan yang sehat. Orang-orang dengan kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yang tinggi justru sering kali melakukan kebiasaan-kebiasaan yang terkesan "malas" sebagai bentuk dari pengaturan diri (self-regulation) dan kesadaran diri (self-awareness) yang matang.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengenali kecerdasan emosional melalui sepuluh kebiasaan yang sering disalahartikan sebagai kemalasan, lengkap dengan penjelasan ilmiah dan studi psikologi terkait. Berikut adalah 10 kebiasaan yang justru menjadi indikator kuat bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (30/7/2026).
Advertisement
1. Membutuhkan Waktu Sendiri (Me Time)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497561/original/013089500_1770635400-young-brunette-drinking-reading-bed.jpg)
Sering menolak undangan sosial, memilih menghabiskan waktu sendirian, atau menarik diri dari keramaian kerap kali mendatangkan stigma negatif bagi seseorang. Banyak orang di sekitar menganggap perilaku tersebut sebagai tanda bahwa seseorang bersikap antisosial, pemalas, atau tidak peduli dengan lingkungan sosialnya.
Padahal, menurut penjelasan psikoterapis Dr. Mindy DeSeta, Ph.D., sebagaimana dilansir dari parade.com, orang yang cerdas secara emosional sangat menyadari kapan waktu yang tepat untuk mengisi ulang energi daripada memaksakan diri dalam segala hal. Menolak ajakan tidak selalu dimaknai sebagai ketidakpedulian, melainkan bentuk nyata dari penghormatan terhadap batasan diri sendiri demi menjaga kesehatan psikologis.
Kebiasaan meluangkan waktu sendirian ini membawa manfaat besar berupa peningkatan suasana hati, pengurangan tingkat stres, serta kemampuan seseorang untuk hadir secara lebih utuh ketika kembali berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut mencerminkan inti dari kesadaran diri (self-awareness), di mana seseorang mampu mendeteksi kebutuhan emosional dirinya secara akurat.
Â
Advertisement
2. Istirahat Teratur Selama Jam Kerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537394/original/093760200_1774422478-businesswoman-asleep-her-desk-isolated-white-background.jpg)
Sering menjauh dari meja kerja, mengambil jeda makan siang secara utuh, atau berjalan-jalan sejenak di sela-sela waktu bekerja sering kali dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar. Perilaku ini kerap disalahartikan sebagai upaya menghindari pekerjaan, ketidakseriusan, atau sekadar senang bermalas-malasan di kantor.
Namun, Dr. DeSeta menegaskan bahwa seseorang yang menjauh dari mejanya mungkin terlihat seperti sedang menghindari pekerjaan, padahal istirahat singkat justru membantu menyegarkan pikiran, menjaga fokus, serta menghasilkan keputusan yang jauh lebih baik daripada bekerja hingga mengalami kelelahan mental (burnout).
Manfaat utama dari kebiasaan ini adalah mencegah penurunan kognitif akibat terlalu lama bekerja dan menjaga produktivitas dalam jangka panjang. Sikap ini menunjukkan cerminan dari Pengaturan Diri (Self-Regulation), di mana seseorang mampu mengenali batas kemampuan fisik dan mental untuk beristirahat tepat waktu.
3. Tidak Langsung Membalas Pesan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041775/original/024926000_1733738762-Screenshot_2024-12-09_141131.jpg)
Di tengah dunia yang serba terhubung, kebiasaan menunda respons seperti tidak segera membalas pesan teks, email, atau panggilan masuk sering terjadi. Stigma negatif langsung melekat pada individu seperti ini, di mana mereka sering dianggap tidak peduli, mengabaikan orang lain, atau tidak memiliki motivasi.
Padahal, orang dengan EQ tinggi memahami betul bahwa diri mereka bukanlah robot yang harus selalu tersedia selama 24 jam penuh dalam seminggu. Penundaan respons ini merupakan wujud batasan sehat agar mereka tetap bisa fokus pada tugas utama, keluarga, atau waktu pribadi tanpa terganggu oleh notifikasi berlebihan.
Melalui kebiasaan ini, seseorang dapat melindungi fokus pikiran, meredakan kecemasan akibat gempuran informasi digital, serta menjaga keseimbangan hidup yang harmonis. Perilaku tersebut memperlihatkan penguasaan terhadap manajemen batasan (boundary setting) dan Kesadaran Diri agar tidak mudah terdistorsi oleh tuntutan eksternal yang mendesak.
Advertisement
4. Pulang Kerja Tepat Waktu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491792/original/084582100_1770106248-pexels-karola-g-7681337.jpg)
Konsisten meninggalkan kantor sesuai jam pulang yang telah ditentukan dan jarang sekali atau bahkan tidak pernah mengambil waktu lembur sering kali menuai kritik. Di tengah cengkeraman budaya kerja berlebihan (hustle culture), individu yang konsisten pulang tepat waktu kerap dicap sebagai karyawan yang kurang berdedikasi, tidak ambisius, atau pemalas.
Kendati demikian, orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi paham betul bahwa nilai produktivitas diri tidak bisa diukur hanya dari seberapa banyak jam lembur yang dihabiskan di kantor. Mereka menyadari bahwa melindungi waktu pribadi adalah hak mutlak yang sama sekali tidak menurunkan kualitas profesionalisme mereka.
Kebiasaan ini memberikan manfaat nyata berupa perlindungan terhadap keseimbangan hidup (work-life balance), pencegahan stres kronis, serta perawatan hubungan dekat dengan keluarga di rumah. Sikap ini merefleksikan Motivasi Diri (Self-Motivation) yang sehat, di mana kesuksesan diukur dari kualitas hasil kerja, bukan kuantitas waktu yang dihabiskan di meja kantor.
5. Meluangkan Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-Apa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5233017/original/089267000_1748259975-steptodown.com220404.jpg)
Secara sengaja mengosongkan jadwal harian, duduk terdiam, atau sekadar menikmati waktu luang tanpa agenda apapun sering kali mendatangkan pandangan miring dari orang lain. Individu dengan pola hidup seperti ini kerap dianggap sedang membuang-buang waktu secara percuma dan menjalani hidup tanpa arah yang jelas.
Padahal, menurut Dr. DeSeta, menciptakan ruang kosong dan istirahat mutlak bagi diri sendiri berkhasiat besar dalam menekan tingkat stres, memulihkan cadangan energi mental, serta membentengi diri dari risiko kelelahan ekstrem (burnout) sebelum hal itu benar-benar terjadi.
Manfaat dari kebiasaan ini meliputi pemulihan energi mental yang optimal, peningkatan kreativitas, serta pemberian ruang bagi refleksi diri guna memunculkan ide-ide baru. Hal tersebut lekat kaitannya dengan Refleksi Diri dan Kesadaran Diri, di mana seseorang paham betul bahwa jeda adalah komponen krusial dalam menjaga kesehatan mental.
Advertisement
6. Menunda Pekerjaan Secara Strategis (Active Procrastination)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498280/original/063183700_1770702440-pexels-vlada-karpovich-4050388.jpg)
Sering terlihat menunda pengerjaan suatu tugas, namun pada akhirnya tetap berhasil menyelesaikannya tepat waktu dengan kualitas yang sangat memuaskan, sering kali disalahartikan oleh orang sekitar. Pelaku kebiasaan ini kerap dicap sebagai pribadi yang tidak disiplin, suka menunda-nunda, atau memiliki kemampuan manajemen waktu yang buruk.
Namun, dalam dunia psikologi, fenomena ini bukanlah bentuk kemalasan pasif, melainkan sebuah strategi penundaan aktif (active procrastination) untuk memberikan ruang bagi otak dalam mematangkan gagasan. Riset menunjukkan bahwa para pelaku penundaan aktif umumnya mempunyai kecerdasan emosional lebih tinggi karena mereka sangat mengenali ritme puncak performa diri mereka sendiri.
Pendekatan ini mendatangkan manfaat berupa terciptanya ide-ide yang jauh lebih matang karena dikerjakan pada saat tingkat konsentrasi berada di titik optimal. Kunci EQ yang terpancar di sini adalah Pengaturan Diri dan Motivasi, di mana seseorang menunda pekerjaan demi memilih waktu terbaik untuk bekerja, bukan karena rasa enggan berusaha.
7. Memiliki Meja Kerja yang Berantakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369295/original/087252900_1759463247-view-messy-office-workspace-with-laptop.jpg)
Area meja kerja yang tampak tidak teratur dengan tumpukan kertas, catatan, atau berbagai barang yang diletakkan berserakan sering kali mengundang penilaian negatif. Pemilik meja kerja semacam ini kerap dicap sebagai orang yang jorok, tidak rapi, tidak terorganisir, dan malas merapikan lingkungan sekitar.
Kendati demikian, studi dari University of Minnesota mengungkapkan bahwa suasana lingkungan yang tampak kacau atau berantakan justru mampu memicu kreativitas serta cara berpikir yang jauh lebih inovatif. Individu dengan kecerdasan emosional tinggi tidak mudah didikte oleh standar visual eksternal yang kaku, sebab mereka tetap tahu persis letak barang-barang yang mereka butuhkan.
Manfaat dari kondisi ini adalah terpicunya kreativitas serta kemudahan akses cepat ke barang-barang yang sering digunakan tanpa harus tertekan oleh kerapian visual yang kaku. Hal ini mencerminkan kenyamanan dengan diri sendiri, di mana seseorang tidak terpengaruh tekanan sosial dan lebih memilih fokus pada substansi pekerjaan.
Advertisement
8. Jago Mendelegasikan Tugas kepada Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3377944/original/020453000_1613454788-photo-1527689368864-3a821dbccc34.jpg)
Suka membagi dan menyerahkan tanggung jawab pekerjaan kepada orang lain alih-alih mengerjakannya sendirian dari awal sampai akhir sering kali dipandang sebelah mata. Tindakan ini kerap memunculkan anggapan bahwa seseorang ingin lepas tangan, mencari gampangnya saja, atau terkesan malas.
Padahal, pendelegasian tugas merupakan wujud efisiensi tingkat tinggi dan manajemen energi yang sangat cerdas. Pemilik EQ tinggi menyadari bahwa tenaga serta waktu mereka jauh lebih bernilai apabila dicurahkan pada porsi pekerjaan krusial yang berdampak besar, serta tidak memiliki ego yang menuntut agar semua hal harus dikerjakan seorang diri.
Kebiasaan ini membawa manfaat besar berupa peningkatan produktivitas tim secara keseluruhan, pengembangan kemampuan orang lain, serta penghematan energi untuk prioritas utama. Kunci EQ yang tercermin adalah Keterampilan Sosial (Social Skills) dan Empati, di mana seseorang mampu memahami kekuatan orang lain dan memberikan kepercayaan penuh kepada mereka.
9. Menghindari Drama dan Orang yang Suka Mengeluh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485921/original/007806100_1769569595-vitaly-gariev-bEQgcVTb1hQ-unsplash.jpg)
Cenderung menarik diri atau menjaga jarak dari gosip kantor, percakapan remeh yang tidak penting, serta lingkaran orang yang beracun (toxic people) sering kali disalahartikan. Orang dengan kecenderungan ini kerap dianggap sombong, tidak ramah, dingin, atau bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sosial.
Padahal, orang yang cerdas secara emosional umumnya bersikap "malas secara emosional" jika harus meladeni hal-hal yang tidak produktif. Mereka sangat paham bahwa energi psikis manusia bersifat terbatas, sehingga mereka memilih menyimpannya untuk urusan yang membangun alih-alih merusak suasana hati.
Manfaat dari sikap selektif ini adalah terjaganya stabilitas emosi pribadi, terpeliharanya kesehatan mental, serta menguatnya fokus pada hal-hal yang positif. Hal tersebut menunjukkan penguasaan terhadap Pengaturan Diri dan Kesadaran Diri dalam memilih lingkungan sosial yang sehat bagi jiwa.
Advertisement
10. Bangun Siang atau Menjadi Night Owl
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5017369/original/076031200_1732264677-pexels-cottonbro-5473304.jpg)
Lebih menyukai waktu malam hari untuk menuntaskan pekerjaan mendalam dan akibatnya bangun lebih siang dari jam orang pada umumnya sering kali menuai kritik. Kebiasaan ini sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas sebagai indikasi dari seseorang yang pemalas karena tidak terbiasa bangun pagi.
Namun, akar dari kebiasaan ini bukanlah bersumber dari kemalasan, melainkan perbedaan ritme biologis sirkadian (chronotype) seseorang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kapasitas intelektual atau kreativitas tinggi sering kali memiliki kecenderungan terjaga lebih larut malam (eveningness), di mana waktu malam yang tenang sangat mendukung pemikiran kritis.
Selama waktu istirahat tercukupi dengan baik dan target pekerjaan terselesaikan, jadwal tidur yang berbeda sama sekali tidak mengurangi nilai produktivitas seseorang. Hal ini sepenuhnya mencerminkan Kesadaran Diri, di mana seseorang tahu persis kapan mereka bekerja paling optimal tanpa harus memaksakan diri mengikuti standar sosial yang kaku.
Pertanyaan Seputar Cara Mengenali Kecerdasan Emosional
Q:Â Apa itu kecerdasan emosional (EQ)?
A: Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam memahami, mengatur, serta mengekspresikan emosi secara efektif, sekaligus kepekaan dalam membaca dan merespons emosi orang lain. Kemampuan ini mencakup kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, serta keterampilan sosial yang matang.
Q:Â Apakah benar orang yang terlihat malas bisa memiliki EQ tinggi?
A: Ya, benar. Berdasarkan penjelasan psikolog Dr. Mindy DeSeta, Ph.D., serta berbagai literatur psikologi modern, sejumlah kebiasaan yang sekilas menyerupai kemalasan—seperti mengambil jeda istirahat, menolak ajakan sosial, atau tidak langsung merespons pesan—sebenarnya merupakan implementasi batasan diri yang sehat serta tanda nyata dari tingginya kecerdasan emosional.
Q:Â Bagaimana cara membedakan kemalasan sejati dengan kebiasaan "malas" yang menandakan EQ tinggi?
A: Kemalasan sejati biasanya lahir dari ketiadaan motivasi yang disertai perasaan bersalah atau kecemasan mendalam. Sebaliknya, kebiasaan "malas" yang mencerminkan EQ tinggi merupakan keputusan sadar guna melindungi energi, fokus kognitif, dan kesehatan mental demi kebaikan jangka panjang.
Q:Â Apakah menunda pekerjaan selalu berdampak buruk?
A: Tidak selalu. Melalui teknik penundaan strategis (active procrastination), seseorang sengaja menunda eksekusi tugas guna mematangkan ide, namun tetap mampu merampungkannya tepat waktu dengan kualitas prima. Hal ini jauh berbeda dari penundaan pasif yang didorong oleh rasa cemas atau buruknya regulasi emosi.
Q:Â Bagaimana cara melatih dan meningkatkan kecerdasan emosional?
A: EQ bukanlah sifat bawaan mati yang tidak dapat diubah; kemampuan ini bisa terus diasah sepanjang hidup. Anda bisa memulainya dengan rutin melatih kesadaran diri (mindfulness), menulis jurnal harian untuk mengenali pemicu emosi, belajar mendengarkan secara aktif untuk menumbuhkan empati, serta membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum memberikan reaksi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263196/original/030041500_1781866622-petugas_sensus_pertanian_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310444/original/096202200_1785317792-cek_fakta_-_pendamping_PKH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235851/original/072546600_1748437174-happy-young-asian-woman-feel-success-winning-celebrating-sitting-with-laptop-smartphone-c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327421/original/068931400_1756180732-michal-parzuchowski-geNNFqfvw48-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936366/original/066612700_1725438341-pexels-charlotte-may-5966011.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309417/original/061815400_1785226843-0QJoWSiMUkWz6nKEKSQo55hqB91Mi6P53ElHrfbw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309416/original/059058000_1785226842-uIpoAJurcy4F0G4opW7IMzyFhIOHhWLmgU11traE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309134/original/034819300_1785219047-6s6ZSGY8YFFQxVdJrphuTcz8MvuAjmUeWRCpKOvV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309133/original/018117300_1785219046-sMkH1ujimCafaDV63UXs91LIuOs6SKkVsaEX2Jwt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305210/original/080717400_1784787646-OEtfXSvQWlyixy5Ybvte8Jfr6PuQi6mv1awM068J.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309139/original/076183400_1785219052-Krh9gVBjCAxEGhgcxHVRKvIRLVCHzH9xqy7FwobP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310603/original/068636400_1785325135-watermarked_img_7799374684153961572.jpg)