4 Alasan Banyak Orang Tak Tertarik untuk Menikah

fakta-fakta sosiologis aneh mulai muncul dan membuka mata kita terhadap alasan mengapa semakin sedikit orang yang tertarik untuk menikah.

Diterbitkan 12 Mei 2024, 14:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernikahan adalah harta yang sehat - demikianlah yang dinyatakan oleh seorang dokter terkenal di Inggris, William Farr, pada tahun 1858. Dia berpendapat bahwa orang yang sudah menikah cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik daripada rekan-rekan mereka yang masih lajang. Namun, apakah pendapat ini masih relevan di era modern?

Selama beberapa dekade berikutnya, orang-orang terus berdebat dengan sosiolog tentang apakah kesepian dapat menyebabkan penderitaan pada individu. Beberapa menganggap bahwa orang yang hidup sendiri tidak akan merasa sengsara, sementara yang lain percaya bahwa hubungan sosial yang kuat sangat penting untuk kesejahteraan seseorang.

Namun, pada tahun 2017, fakta-fakta sosiologis aneh mulai muncul dan membuka mata kita terhadap alasan mengapa semakin sedikit orang yang tertarik untuk menikah.

Berikut beberapa alasan mengapa semakin banyak orang yang memilih untuk hidup sendiri daripada menikah, seperti melansir dari Your Tango, Minggu (12/5/2024).

1. Terikat dalam sebuah hubungan bukan berarti memiliki harga diri tinggi

Banyak orang percaya bahwa memasuki sebuah hubungan akan meningkatkan harga diri seseorang. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hal ini hanya berlaku jika hubungan tersebut berfungsi dengan baik, stabil, dan dipertahankan untuk jangka waktu tertentu.

Dalam hal ini, seseorang yang berhasil mempertahankan hubungan cinta yang sehat dan harmonis akan merasa lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang tinggi.

Namun, tidak semua hubungan berakhir dengan hasil yang memuaskan. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan hubungan berakhir, seperti ketidakcocokan, perbedaan nilai-nilai, atau masalah komunikasi.

Orang yang mengalami kegagalan dalam mempertahankan hubungan selama setahun atau lebih justru dapat mengalami penurunan harga diri. Mereka mungkin merasa gagal atau tidak berharga karena tidak mampu menjaga hubungan tersebut.

 

2. Pernikahan tidak akan meningkatkan kesehatan

Banyak orang beranggapan bahwa pernikahan dapat meningkatkan kesehatan seseorang. Dalam pandangan ini, suami dan istri saling memberikan dukungan dan memastikan bahwa pasangannya mengatasi masalah kesehatan dengan tepat waktu.

Namun, tiga studi besar yang dilakukan pada tahun 2017 dengan metodologi yang kompleks menunjukkan hasil yang bertentangan dengan gagasan ini.

Dalam penelitian tersebut, para dokter melakukan pengukuran fisik seperti ukuran pinggang, indeks massa tubuh, dan tekanan darah pada wanita. Mereka juga menanyakan tentang kebiasaan merokok, minum, olahraga, dan pola makan.

Hasilnya mengejutkan, wanita yang sudah menikah cenderung mengalami kenaikan berat badan dan mengonsumsi lebih banyak alkohol daripada mereka yang masih lajang.

3. Hanya separuh dari total penduduk yang ingin menikah

Menurut laporan Biro Sensus pada tahun 2017, jumlah orang dewasa lajang di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi. Lebih dari 110 juta penduduk Amerika dewasa saat itu, baik karena bercerai, menjanda, atau memilih untuk tetap melajang.

Angka ini mencakup lebih dari 45 persen dari seluruh populasi Amerika yang berusia 18 tahun ke atas. Selain itu, usia rata-rata saat menikah pertama kali juga mengalami peningkatan menjadi 29,5 tahun untuk pria dan 27,4 tahun untuk wanita.

Para ilmuwan memprediksi bahwa tren ini akan terus berlanjut di masa mendatang. Hidup sendiri semakin menjadi pilihan yang populer bagi banyak orang. Para sejarawan bahkan mencatat bahwa tren ini terjadi di lebih dari 78 negara di seluruh dunia ketika menganalisis data selama setengah abad terakhir.

Dengan tingkat keinginan untuk menikah yang hanya mencapai separuh dari total populasi, fenomena ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola hidup dan nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat saat ini.

4. Menikah bukan lagi berarti dewasa

Dalam beberapa dekade terakhir, pandangan masyarakat terhadap pernikahan sebagai tanda kedewasaan telah berubah.

Jika sebelumnya belum menikah dianggap sebagai tanda belum dewasa, sekarang hal tersebut tidak lagi menjadi kriteria utama. Seiring dengan perubahan zaman, penyelesaian pendidikan dan karier yang serius menjadi faktor yang lebih diutamakan dalam mencapai kematangan, menurut survei yang melibatkan 95% responden.