Sukses

Simak Kumpulan Hoaks Seputar Jaringan 5G

Liputan6.com, Jakarta Jaringan 5G kerap dikaitkan dengan teori konspirasi dan penyebab Covid-19, informasi tersebut dikemasi sedemikian rupa untuk meyakinkan penerimanya.

Informasi seputar jaringan 5G yang viral di media sosial pun sebaiknya tidak langsung dipercaya, sebelum memverifikasinya untuk memastikan iniformasi yang didapat berasal dari sumber yang kredibel.

[Cek Fakta Liputan6.com](4508885/ "") pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar jaringan 5G, hasilnya informasi tersebut tidak benar.

Berikut kumpulan hoaks seputar jaringan 5G hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com:

 

1. Ada Antena 5G di Masker Sekali Pakai 

Ada antena 5G di masker sekali pakai. (Facebook/Catherine Scarborough)

Facebook kembali digemparkan dengan postingan mengenai masker. Pengguna dengan akun Catherine Scarborough menybeut di dalam masker ada antena 5G.

Begini narasinya:

"Ya Tuhan!! Antena 5G di masker wajah Anda. Ini lebih dari kejahatan, tolong sadar, ada bayaya lebih besar di tangan Anda."

Itu merupakan postingan Catherine Scarborough yang diunggah pada 9 Juli lalu. Antena 5G ini memang sempat ramai dibicarakan karena bisa merusak kekebalan tubuh.

Lalu, benarkah ada antena 5G di masker yang biasa digunakan hanya untuk sekali pakai? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Foto yang menyebut kalau di masker sekali pakai terdapat antena 5G adalah kesimpulan yang salah.

Faktanya, kawat yang ada di dalam masker berfungsi untuk membuat pemaikaian lebih nyaman.

 

2. Jaringan 5G Berhubungannya dengan Penyebaran Covid-19

Kabar tentang jaringan 5G yang dapat memantau pasien positif virus corona COVID-19 beredar di media sosial. Kabar ini disebarkan akun Facebook Lia Puji Lestari.

Akun Facebook Lia Puji Lestari mengaitkan pembangunan jaringan 5G dengan pemantauan pasien positif virus corona COVID-19.

"BLUNDER-NYA YOUTUBE DAN FACEBOOK

Semenjak pandemi ini merebak, orang jadi banyak buka-buka internet dan mencari informasi. Jangan salahkan masyarakat jika akhirnya banyak yang mengublek-ublek sejarah, perekonomian, dan membaca berita dari seluruh penjuru dunia karena pandemi ini membuat orang-orang jadi nggak punya aktifitas.

Sebelum pandemi ini ada, kita sering memandang sebelah mata tentang pemaparan Bumi Datar dan Elite Global. Kita anggap dua hal ini adalah isapan jempol dan dongeng cocoklogi belaka.

Tapi semenjak #workfromhome dan #dirumahaja orang akhirnya browsing-browsing kan. Dan nggak sedikit juga akhirnya orang dengan follower dan subscriber banyak akhirnya berpikir tentang ada apa di balik Covid-19 kok aneh sekali?

Mulai dari kepanikan dan ketakutan yang tercipta sangat luar biasa. Pasien yang menderita karena kanker jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang Covid-19.

Tapi kenapa berita Covid-19 ini dibesar-besarkan di media?

Dan kenapa setiap negara seolah-olah dipaksa untuk lockdown?

Apalagi kalau saya ngobrol sama teman saya yang berprofesi sebagai dokter, dia sendiri menemukan banyak kejanggalan di virus ini.

Jurnal medis yang hampir setiap hari diterbitkan membahas virus ini memuat data-data yang berbeda-beda. Yang semula Covid-19 hanya menyerang pernafasan, terakhir ada yang menyerang otak segala. Yang semula masa inkubasinya hanya 14 hari, sekarang ada yang nulis katanya bisa sampai 28 hari. Yang semula katanya hanya menginfeksi manusia ke manusia, eh sekarang ada macan ketularan Covid-19.

Terus sekarang negara-negara di dunia pada merugi. Gara-gara lockdown, bisnis banyak yang tutup. Gelombang PHK pun tak terhindarkan. Orang mulai stress di mana-mana.Lalu tiba-tiba pemerintah ngutang buat ngatasin pandemi.Setelah saya cek, eh ujung-ujungnya Surat-Surat Utang Negara (Bond) itu di-repo juga oleh The Fed, bank sentralnya Amerika yang pemegang sahamnya juga sebagian adalah pemrakarsa IMF.

Bukankah ini sesuatu yang aneh?Dan akhirnya mereka melakukan investigasi sendiri. Mengumpulkan data sana-sini. Akhirnya terkumpullah suatu kesimpulan :Bahwa Global Elite memang ada. Kelompok 1% dunia yang mengontrol 99% manusia dan perekonomian dunia.

Apa dan mengapa pandemi ini disetting? Siapa yang diuntungkan?

Agenda besar apa yang sedang dipersiapkan? Dan bagaimana cara mereka bekerja?Maka dari itu, mereka (para influencer dan content creator ini) membuat video, membuat ulasan, membuat story tentang hal ini.Ada yang diupload ke Facebook, ada yang diupload ke YouTube.Bahkan media-media antimainstream di YouTube pun namanya naik karena membahas hal ini.

Tapi anehnya video-video yang membahas elite global ini langsung di-demonetize. Di dollar kuning.Bahkan yang terang-terangan "mblejeti" Elite Global dengan data-data yang lengkap justru di take down. Dicap sebagai "disinformasi" alias hoax.

Saya pun juga mengalami hal yang serupa. Video-video saya asal berkaitan dengan Illuminati dan Elite Global langsung di-dollar kuning.

Tidak ditake down karena viewer saya masih receh. Begitu juga wawancara chanel London Real dengan David Icke yang terang-terangan memaparkan bahwa Covid-19 adalah agenda besar kelompok 1% elite dunia. Motivasinya ujung-ujungnya keuntungan berlimpah (bisnis) dan kekuasaan.

Video London Real pun viral. Tapi tak dimonetize juga.Lucunya, setelah video ini viral, YouTube gencar men-take down video-video yang membahas pembangunan 5G Tower. Tentu yang pertama di-take down adalah video dengan viewer 3 juta ke atas.

Ada apa dengan 5G Tower?

Simpel saja. Beredar isu bahwa Bill Gates dan WHO sedang merancang vaksin Covid-19, tapi berupa microchip yang disuntikkan ke tubuh kita.

Microchip ini terhubung ke server-server yang disediakan oleh perusahaan Bill Gates, mungkin Microsoft yang akan menangani. Untuk bisa memantau dan mengontrol microchip ini, dibutuhkan jaringan 5G.Maka dari itu, diam-diam pembangunan tower 5G selama pandemi ini dilakukan.

Saya tidak tahu apakah di Indonesia sudah dibangun. Tapi di luar negeri seperti di Inggris, pembangunan tower 5G ini dibakar. Dan di Aussie mengalami protes massa.

Tentu saja aksi ini dianggap sebagai "missleading" dan "disinformasi" yang merugikan oleh media-media mainstream dunia. Kelompok yang berusaha menggagalkan pembangunan tower 5G ini dicap sebagai "extrimis".

Kembali ke YouTube, bukankah aneh jika YouTube gencar menghapus-hapusi video yang membahas soal ini?

Tak hanya video yang terang-terangan membahas soal Elite Global.

Tapi video Deddy Corbuzier yang katanya membahas kesembuhan pasien Covid-19 di Aceh pakai ganja - yang berhasil mencapai jutaan viewer - tiba-tiba dihapus oleh YouTube.

Beberapa hari sebelumnya, WHO sibuk membuat artikel di media-media mainstream bahwa Chloroquin adalah obat berbahaya dan hoax jika Chloroquin bisa menyembuhkan Covid-19.

Mengapa dianggap hoax?

Di satu sisi Chloroquin adalah obat yang harganya sangat murah dan mudah didapat.

Apakah karena WHO sudah mempersiapkan vaksin sendiri?

Dan takut vaksinnya tidak laku?

Lalu bagaimana dengan Bill Gates?

Bill and Melinda Gates ternyata sekarang adalah pendonor utama untuk WHO, right after Trump closed the US funding to World Health Organization. Berapa jumlah pendanaan Bill and Melinda Gates ke WHO?More than USD 1.500 million (Rp 23,2 Triliun - kurs hari ini)Oh iya, Bill and Melinda Gates Foundation ini juga menjadi pendana utama untuk GAVI - Global Alliance for Vaccines and Immunization - yang berfokus dalam riset dan produksi vaksin.

Berapa jumlah pendanaan Bill and Melinda Gates ke GAVI?More than USD 3.000 million (Rp 46,5 Trilliun - kurs hari ini). Pertanyaan saya, masa iya pendanaan sebesar itu dari Bill Gates adalah donasi cuma-cuma? Triliunan rupiah bukan angka yang sedikit. Bill Gates adalah pebisnis ulung. Tak mungkin memberikan uangnya secara cuma-cuma sebanyak itu. Timbal balik apa yang dia harapkan? Tentunya yang bisa membuat pendanaannya kembali dalam jumlah berkali-kali lipat dong.

***

Saat ini Bill Gates sibuk membuat klarifikasi di media-media mainstream, sibuk mengatakan bahwa program microchip untuk vaksin Covid-19 ini adalah hoax dan dia playing victim. Mengeluh bahwa dia adalah korban hoax.

Jika benar ini hoax, mengapa petisi untuk Bill Gates mencapai angka 200ribu tanda tangan? Petisi ini berisi tuntutan masyarakat ke Gedung Putih untuk mengusut dugaan kasus malpraktek medis Bill Gates melalui program vaksin yang dia rintis.

Dan again, siapapun yang bikin konten membahas kalau Bill Gates berkolerasi dengan program microchip vaksin Covid-19 ini, akan ditake down jika viewernya banyak, atau di dollar kuning jika viewernya sedikit di YouTube.

Bukankah ini blunder yang sedang dilakukan YouTube?

Semakin YouTube gencar menghapus-hapusin konten, semakin masyarakat curiga, bahwa memang "benar" informasi yang diciptakan oleh para content creator dan influencer.

Bagaimana dengan Facebook?

Sama saja, Facebook juga sibuk melabeli postingan-postingan yang membahas Covid-19 dan korelasinya dengan Elite Global + Bill and Melinda Gates Foundation.

Semakin Facebook dan YouTube sibuk menghapusi dan melabeli hoax, semakin masyarakat akan curiga : "Apakah semua yang disampaikan para Content Creator dan Influencer itu BENAR?"," tulis akun Facebook Lia Puji Lestari.

Benarkah jaringan 5G berkaitan dengan penyebaran Covid-19? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, Kabar tentang jaringan 5G yang dapat memantau pasien positif virus corona COVID-19 ternyata tidak benar. Jaringan 5G tidak berhubungan dengan virus corona COVID-19.

 

3. Dokter Italia Temukan Penyebab Covid-19 dari Bakteri Terpapar 5G Bisa Sembuh dengan Antibiotik

Cek Fakta Liputan6.com mendapatiklaim dokter Italia menemukan penyebab Covid-19 dari bakteri terpapar 5G bisa sembuh dengan antibiotik.

Klaim pernyataan dokter Italia menemukan penyebab Covid-19 dari bakteri terpapar 5G bisa sembuh dengan antibiotik, beredar diaplikasi percakapan WhatsApp. Berikut informasi tersebut:

"BREAKING NEWS

Berita gempar Dunia : ITALY telah melakukan proses bedah siasat terhadapa Pesakit Corona yang telah meninggal Dunia yang mana di kata kan seperti Wahyu Besar yang berlaku kepada seluruh manusia di Dunia ini.

Italy telah menjadi Negara Pertama di Dunia yang melakukan Bedah Siasat ke atas mayat COVID -19 dan setelah penyelidikan menyeluruh di buat, mendapati bahawa Covid-19 TIDAK Wujud sebagai Virus tetapi sesuatu Rahsia yang sangat besar di bongkarkan yang mana yang di katakan virus itu adalah Satu Penipuan Global sangat besar. Apa yang berlaku sebenarnya Penderita Covid-19 yang mati adalah di sebabkan oleh "Amplified Global 5G Electro magnetic Radiation (Poison)".

Doktor di Italy nekad telah Melanggar Undang-undang Pertubuhan Kesihatan Se-Dunia (WHO), yang mana WHO tidak membenar kan Autopsi (Postmortem) ke atas mayat orang yang telah mati akibat Virus Corona. Namun begitu, Pakar Perobatan di Italy telah nekad melakukan Autopsi mayat penderita Covid-19 untuk mengetahui apa punca sebenarnya kematian setelah beberapa jenis penemuan Saintifik di peroleh. Tidak dapat di andaikan sepenuhnya bahwa itu bukan Virus tetapi Bakteria yang menyebabkan kematian adalah Bakteria yang menyebabkan pembekuan darah terbentuk di dalam pembuluh darah yaitu gumpalan darah di urat: dan saraf yang di sebabkan oleh Bakteria ini dan inilah yang menyebabkan kematian kepada pesakit.

Pakar perobatan Italy telah mengalahkan Virus Covid-19 yang tersebar meluas di seluruh Dunia dengan menyatakan bahwa "tidak lain dan tidak bukan punca kematian kepada pesakit Covid-19 adalah Berpunca dari pada pembekuan phelia-intra vaskular (trombosis) dan cara menangani nya adalah dengan menyembuhkan nya yaitu dengan mengambil Obat-obatan seperti tablet anti biotik, anti-radang dan mengambil anti koagulan (aspirin) dan ini boleh menyembuh kan pesakit yang di terkena Virus COVID-19".

Dengan penemuan ini, maka menunjuk kan kepada seluruh Penduduk Dunia bahwa penawar bagi penyakit Covid-19 telah di temui dan berita sensasi ini di bagi untuk seluruh Dunia. Penemuan ini telah di siapkan oleh Pakar dan doktor dari Italy dengan cara Autopsi (Postmortem) mayat Pesakit Covid-19. Menurut beberapa Saintis Italy yang lain, Ventilator dan Unit Rawatan Rapi (ICU) tidak pernah di perlukan. Protokol untuk ini kini telah di keluar kan di Italy.

Terdapat pendapat umum mengatakan bahwa Negara China sebenarnya sudah mengetahui tentang penemuan ini tetapi tidak pernah membuat pengumuman menjadi terbuka kepada negara lain di Dunia.

Dengan penemuan ini, informasi ini di mohon untuk di bagikan maklumat ini dengan semua keluarga, tetangga, kenalan, kawan sekantor agar mereka dapat keluar dari ketakutan Covid-19 dan memahami bahwa ini bukan Virus sama sekali tetapi hanya Bakteria yang terkena radiasi 5G. Dan ini adalah berbahaya kepada orang yang mempunyai Immune yang sangat rendah. Sinaran ini juga menyebabkan radang dan hipoksia. Mereka yang menjadi korban ini harus mengambil Asprin-100mg dan Apronix atau Paracetamol 650mg., Kenapa … ??? Kerena telah terbukti bahwa Covid-19 menyebabkan darah membeku yang menyebab kan Trombosis orang tersebut dan di sebabkan oleh darah beku di vena dan di sebab kan oleh otak, jantung dan paru-paru tidak dapat mendapat Oksigen kerena orang tersebut menjadi sukar dan seseorang mati dengan cepat kerena Sesak Nafas.

Doktor di Italy tidak mematuhi Protokol: WHO dan melakukan bedah siasat ke atas mayat yang mati kerena Covid-19. Doktor membuka lengan, kaki dan bahagian tubuh yang lain dan setelah memeriksa dan memeriksanya dengan betul, mereka melihat bahwa saluran darah melebar dan vena penuh dengan Trombi yang biasanya menghentikan darah mengalir. Dan juga mengurangkan aliran Oksigen ke dalam badan yang menyebabkan pesakit mati. Setelah mengetahui penyelidikan ini, Kementerian Kesehatan Italy segera mengubah Protokol Rawatan Covid-19 dan memberikan Aspirin kepada Pesakit Positifnya mengikut Sukatan 100mg dan memberi Empromax. Hasilnya para pesakit mulai pulih dan kesehatan mereka mulai menunjuk kan peningkatan kesihatan yang baik. Kementerian Kesehatan Italy mengeluarkan lebih dari pada 14,000 pesakit dalam 1 (satu) hari dan menghantar mereka pulang ke rumah masing-masing.

Sumber : Kementerian Kesehatan Italy

#kita jaga kita."

Benarkah dokter Italia menemukan penyebab Covid-19 dari bakteri terpapar 5G bisa sembuh dengan antibiotik? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim dokter Italia menemukan penyebab Covid-19 dari bakteri terpapar 5G bisa sembuh dengan antibiotik tidak benar.

Virus tidak dapat menyebar melalui gelombang radio jaringan seluler. Covid-19 menyebar di banyak negara yang tidak memiliki jaringan seluler 5G.

 

2 dari 3 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut