Masalah Hak Asasi Manusia, Iran Diminta Dicoret dari Piala Dunia 2022

Sebuah organisasi aktivis perempuan di bidang sepakbola berkirim surat ke FIFA, meminta Iran disingkirkan dari Piala Dunia 2022

Diterbitkan 03 Oktober 2022, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Masalah hak asasi manusia mengiringi Langkah Iran di Piala Dunia 2022. Sebuah kelompok aktivis perempuan di bidang sepakbola, Open Stadiums, melancarkan protes dengan langsung mengirim surat kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Dalam suratnya tanggal 29 September 2022 mereka meminta FIFA menyingkirkan Iran dari putaran final Piala Dunia di Qatar pada November mendatang karena perlakuan negara itu terhadap perempuan.

Organisasi itu mengatakan pihak berwenang Iran terus menolak mengizinkan perempuan menghadiri pertandingan di dalam negeri meskipun ada tekanan dari badan pengatur pertandingan itu.

"Mengapa FIFA memberi panggung global kepada Iran dan perwakilannya? Padahal, Iran tidak hanya menolak menghormati hak asasi dan martabat, tetapi juga kini menyiksa dan membunuh rakyatnya sendiri? Di mana prinsip-prinsip FIFA dalam hal ini?," tanya organisasi itu.

"Karena itu, kami meminta FIFA, berdasarkan Pasal 3 dan 4 statutanya, untuk segera mengeluarkan Iran dari Piala Dunia 2022 di Qatar.”

Dilansir Mirror, dalam surat empat halaman yang diterbitkan secara daring, Open Stadium mengatakan selama lebih dari empat dekade, Wanita Iran telah ditolak kebebasannya yang paling mendasar.

“Kami telah dilarang menikmati olahraga, menonton pertandingan di stadion dan bersorak untuk tim sepak bola kami.”

Mereka juga mengklaim bahwa sejumlah jurnalis dan fotografer wanita telah ditangkap dan ditahan karena mencoba melaporkan olahraga di negara itu.

Protes

Surat itu datang di tengah ramainya proters di beberapa kota di Iran atas kematian wanita muda, Mahsa Amini (22 tahun) dalam tahanan polisi moral. Dilaporkan protes itu mengakibatkan 76 orang meninggal dunia.

Amini yang asal Kurdi telah mengunjungi ibu kota negara itu, Teheran, pada 13 September 2022 ketika dia ditangkap oleh petugas polisi Iran karena diduga melanggar undang-undang ketat yang mewajibkan wanita untuk menutupi rambut mereka dengan jilbab.

Dia pingsan setelah dibawa ke pusat penahanan dan kemudian meninggal di rumah sakit setelah tiga hari dalam keadaan koma.

Dalam posting Instagram yang sekarang dihapus, rumah sakit mengklaim dia mengalami brain dead (mati otak) pada saat kedatangan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Resusitasi dilakukan pada pasien, detak jantung kembali dan pasien dirawat di unit perawatan intensif," tulis mereka menurut laporan The Guardian. Sedangkan organisasi hak asasi manusia setidaknya 83 orang meninggal dalam dua minggu demonstrasi yang terjadi.

Halaman
Show All
Yo Kavya, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan