Bola Ganjil: Pionir Transfer Lintas Atlantik, Buka Pintu untuk Maradona dan Messi

Simak kisah Julio Libonatti, pemain pertama yang didokumentasikan melalui proses transfer dari Argentina ke Italia.

Diterbitkan 31 Agustus 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Walau posturnya kecil, Libonatti juga tidak takut berjibaku menghadapi lawan yang lebih besar. Permainannya sangat berbeda dengan kebanyakan para striker ketika itu yang lebih banyak beroperasi di kotak penalti menunggu bola.

Cinzano pun menyelidiki. Ketika mengetahui Libonatti memiliki darah Italia, dia memulai pendekatan untuk meminangnya. Libonatti, yang saat itu berusia 24 tahun, tertarik dengan petualangan ke Eropa.

Kedua pihak mencapai kesepakatan. Sejarah pun tercipta. Kepindahan Libonatti menjadi transfer lintas Atlantik pertama yang didokumentasikan.

Langsung Unjuk Gigi

Di Italia, Libonatti langsung unjuk gigi. Dia membuat dua gol pada laga debut melawan Brescia, 4 Oktober 1925.

Libonatti mengakhiri kampanye pertamanya dengan menyumbang 18 gol dalam 22 laga dan membawa Torino menjadi runner-up.

Pada musim kedua, Libonatti menciptakan trio menakutkan bersama Adolfo Baloncieri dan Gino Rossetti dalam perjalanan membawa I Granata merebut gelar liga domestik pertama.

Sayang titel itu dicopot karena skandal suap. Torino mengalahkan rival sekota Juventus 2-1 pada laga terakhir untuk memastikan posisi pertama. Namun, bek kiri Juventus Luigi Allemandi mengaku ditawari 50 ribu lira dari pejabat Torino untuk mengalah.

Meski begitu, Torino langsung bangkit musim berikutnya. Dengan Libonatti di puncak permainan, lewat torehan 35 gol di 34 partai, Torino secara sah menguasai takhta Italia. Libonatti pun menjadi Capocannoniere, uniknya hanya sekali sepanjang kariernya.

Terus Cetak Sejarah

Jadi legenda di Newell's, Argentina, dan Torino, Libonatti tidak mau berhenti mencetak sejarah. Dia melakukannya ketika Timnas Italia memanggilnya.

Libonatti jadi pemain keturunan imigran pertama yang membela Italia pada 28 Oktober 1926. Kembali dia membuka jalan bagi mereka yang memenuhi kategori. Nama-nama seperti Jose Altafini, Omar Sivori, hingga Thiago Motta mengikuti jejaknya membela dua timnas sebelum FIFA turun tangan dan memperketat aturan.

Namun, praktik ini terus berlaku. Mereka yang memiliki darah Italia meski lahir di lokasi lain bisa membela Gli Azzurri. Roberto Di Matteo dan Mauro Camoranesi adalah beberapa contohnya.

Buka Jalan

Pada penghujung karier, Libonatti pergi ke  Genoa, kota pelabuhan yang menyambutnya saat pertama kali tiba di Italia. Dia membantu klub promosi dari Serie B sebelum menjadi pemain dan pelatih di klub Serie C, Rimini.

Tragisnya, Libonatti meninggalkan Italia dalam kondisi bangkrut. Gaya hidup mewah dan kecintaannya terhadap busana mahal membuatnya kembali ke Argentina tanpa sepeser lira di kantongnya. Dia baru bisa pulang karena Rimini membelikan tiket pulang.

Di tanah kelahiran, Libonatti tetap coba bertahan di sepak bola dan menekuni berbagai peran dalam staf kepelatihan. Namun, profesi itu tidak ada yang berhasil. Dia akhirnya meninggalkan sepak bola untuk selamanya.

Libonatti meninggal pada 9 Oktober 1981. Kurang dari sembilan ribu hari kemudian, seorang bintang sepak bola baru muncul di Barcelona, Spanyol. Seorang pemuda kelahiran Rosario bernama Lionel Messi melakoni debut di derby melawan Espanyol.

Tanpa Libonatti, wajah sepak bola akan jauh berbeda. Dia sudah membuka jalan bagi Messi, Alfredo Di Stefano, Diego Maradona, Gabriel Batistuta, dan ribuan lainnya untuk mencari membangun karier di Eropa.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan