Pemain Indonesia yang Pernah Mengembara ke Eropa: Dari Kurnia Sandy hingga Egy Maulana Vikri

Indonesia pernah mengirimkan beberapa pemainnya ke Eropa sejak era 1990an hingga sekarang.

Diterbitkan 13 Mei 2020, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Di tengah mandeknya prestasi sepak bola Tanah Air di pentas internasional, beberapa pemain Indonesia berhasil 'menggoda' klub-klub Eropa. Meski belum ada yang berhasil menjadi pemain reguler, ini menjadi catatan penting dan membanggakan.

Banyak faktor yang membuat minimnya talenta-talenta lokal yang bermain di Benua Biru meski kualitas pesepak bola Indonesia tidaklah buruk-buruk amat. Mulai dari faktor non-teknis hingga teknis.

Faktor non-teknis di antaranya terkait work permit atau izin kerja. Sejumlah liga-liga top Eropa memang strict mengenai hal ini. Premier League misalnya, memiliki banyak syarat dan ketentuan bila ada pemain dari Indonesia yang hendak dikontrak secara profesional, semisal peringkat FIFA.

Selain itu, faktor teknis juga menjadi biang utama mengapa potensi lokal banyak yang tak terbaca radar Eropa. Postur pemain Indonesia bisa dikatakan masih di bawah rata-rata pesepak bola Eropa, Afrika, dan beberapa negara Asia lainnya. Tak cuma itu saja, fisik pemain Indonesia dicap tak maksimal, apalagi jika bertanding di iklim yang non-tropis.

Kendati demikian, Indonesia pernah mengirimkan beberapa pemainnya ke Eropa sejak era 1990an hingga sekarang. Siapa saja mereka dan bagaimana kariernya? Berikut Bola.com merangkumnya.

Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Kurnia Sandy

Pesepak bola asal Indonesia pertama kali mengecap pengalaman bergabung dengan klub Eropa pada pertengahan 1990-an. Kala itu, ada tiga pemain jebolan proyek PSSI Primavera mendapat kesempatan menjajal atmosfer kompetisi Eropa di level senior.

Mereka adalah Bima Sakti (gelandang), Kurnia Sandy (kiper) dan Kurniawan Dwi Yulianto (striker). Ketiganya adalah pemain yang dinilai memiliki potensi besar setelah menjajal kompetisi Primavera yang merupakan ajang buat pemain muda di Italia unjuk kemampuan.

Di antara ketiga pemain itu, Kurniawan yang terdepan dalam pencapain pengalaman bertanding. Striker asal Magelang ini pertama kali mendapat kesempatan mengikuti tur Sampdoria di Wilayah Asia. Kuniawan direkrut berdasarkan prestasinya masuk dalam jajaran top scorer kompetisi Primavera musim 1993-1994.

Sejak itu, ia masuk dalam radar pemantau bakat Sampdoria. Pada 1995, berdasarkan rekomendasi Sampdoria, Kuniawan membubuhkan tanda tangannya pada kertas kotrak yang disodorkan manajemen Luzern FC, klub yang berlaga di kompetisi kasta tertinggi Swiss.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sampdoria sengaja meminjamkan Kuniawan karena saat itu lini depan sudah dihuni Roberto Mancini, Enrico Chiesa, dan Filippo Maniero. Kiprah Kurniawan dalam semusim bersama Luzern terbilang lumayan untuk usianya yang belum genap 19 tahun saat itu. Ia tercatat tampil delapan kali di level senior. Dia juga kerap jadi pemain utama pada kompetisi U-19 Swiss. Di situs wikipedia, Kurniawan disebut pernah tampil bersama Lucern di Piala Intertoto, ajang yang merupakan kualifikasi Liga Europa. Sayang di pengujung kompetisi Liga Swiss penampilan Kurniawan menurun karena akumulasi masalah yang menderanya, di antaranya cedera dan pergaulan yang salah. Selepas dari Luzern, Kurniawan Dwi Yulianto sempat mengikuti latihan pramusim Sampdoria pada 1996. Tapi, ia tiba-tiba memutuskan pulang ke Indonesia. Ketika menemani Kurnia Sandy melakukan tanda tangan kontrak di Sampdoria pada 1996, ada rekan jurnalis di Italia menghampiri Bola.com untuk menanyakan keberadaan Kurniawan. "Kurniawan punya potensi besar. Menurut saya, ia melakukan tindakan bodoh dengan meninggalkan Sampdoria saat banyak pemain bermimpi ingin tampil di Serie A," ujar sang jurnalis. Seperti Kurniawan, Kurnia Sandy juga tak mendapat kesempatan merasakan atmosfer Serie A Italia meski resmi bergabung di Sampdoria sebagai kiper keempat. Sandy nyaris masuk dalam line-up Sampdoria pada satu pertandingan. Ketika itu, kiper utama Sampdoria, Fabrizio Ferron tak bisa tampil karena sanksi kartu merah. Sandy pun disiapkan oleh pelatih Sampdoria saat itu, Sven Goran Eriksson, untuk mendampingi Matteo Sereni. Sayang, impian Sandy terkendala administrasi karena manajemen Sampdoria belum mengurus surat izin kerjanya. Pengalaman serupa juga dialami Bima Sakti yang mendapat kesempatan bergabung di Helsinborg, klub asal Swedia. Bima terpilih setelah menjalani rial bersama rekannya di PSSI Primawera, Supriono, Anang Ma'ruf, Indriyanto Nugroho dan Eko Purjianto. Namun, seperti Sandy, Bima tidak pernah mendapatkan kesempatan pada kompetisi resmi.

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan