Ekonomi Jepang Kena Pukulan Telak Jika Batal Gelar Olimpiade 2020

Penyelenggara sudah mengungkapkan Desember tahun lalu bahwa Olimpiade 2020 ditaksir menelan dana 1,35 triliun yen (Rp 178,12 triliun).

Diterbitkan 04 Maret 2020, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sumber-sumber asuransi memperkirakan bahwa mereka harus membayarkan premi sekitar 2-3 persem, yang membuat mereka memiliki tagihan sampai 24 juta dolar (Rp 341,7 miliar) untuk menutupi asuransi Olimpiade Tokyo.

Para analis pada perusahaan jasa keuangan Jefferies memperkirakan perusahaan asuransi harus menanggung 2 miliar dolar AS (Rp 28,47 triliun) asuransi Olimpiade 2020, termasuk hak siar televisi dan sponsor, ditambah 600 juta dolar AS (Rp 8,5 triliun) untuk akomodasi.

Media

NBC Universal pada Desember mengumumkan sudah menjual lebih dari 1 miliar dolar (Rp 14,23 triliun) dalam bentuk komitmen iklan yang direncanakannya disiarkan di AS dan sudah di ambang melewati angka 1,2 miliar dolar AS (Rp 17 triliun).

Induk perusahan ini, Comcast, setuju membayar 4,38 miliar dolar AS (Rp 62,36 triliun) untuk hak media AS bagi empat Olimpiade dari 2014 sampai 2020.

Discovery Communications, induk saluran televisi Eurosport, sudah sepakat mengeluarkan 1,3 miliar euro (Rp18,5 triliun) untuk layar Olimpiade di seluruh Eropa dari 2018 sampai 2024.

Pada telekonferensi dengan para investor belakangan ini, Gunnar Wiedenfels, chief financial officer Discovery, mengisyaratkan bahwa pembatalan Olimpiade tidak akan berdampak besar kepada keuangan perusahaan ini karena investasi mereka sudah dilindungi asuransi.

Pukulan Perekonomian Jepang

Sebagian besar belanja domestik untuk Olimpiade sudah selesai, sehingga skenario pembatalan berdampak kecil pada belanja itu, kata para ekonom.

Sebuah penelitian Bank of Japan pada 2016 memperkirakan anggaran belanja berkaitan Olimpiade akan mencapai puncak 0,6 persen dari produk domestik bruto (GDP) pada 2018 dan kurang dari 0,2 persen GDP pada 2020, kata konsultansi riset Capital Economics.

Pariwisata, pernyumbang besar pertumbuhan Jepang belakangan ini, akan terpukul, sekalipun para ekonom menyatakan ancaman terbesar berasal dari penyebaran virus corona itu sendiri.

Tahun lalu, Jepang didatangi 31,9 juta wisatawan asing yang berbelanja hampir 4,81 triliun yen (Rp 634 triliun).

Nomura Securities memperkirakan konsumsi 240 miliar yen dari pariwisata terkait Olimpiade 2020, yang disebutnya akan menguap seandainya Olimpiade dibatalkan.

Ekonom Citigroup Global Markets Japan Kiichi Murashima menyatakan kerugian dari pariwisata terkait Olimpiade akan mencapai 0,2 persen dari pertumbuhan GDP pada triwulan Juli sampai September terhadap triwulan sebelumnya.

Tetapi dia menyatakan dampak mengerikan dari virus itu sudah menimpa pada ekonomi Jepang yang tengah kesulitan dan pada pertumbuhan global jika penyebaran virus itu belum mencapai puncaknya, yang artinya GDP Jepang bisa nol atau negatif pada triwulan Juli sampai September.

Gagal membendung penyebaran global virus itu bakal membunuh skenario mengenai bangkitnya ekonomi Jepang yang sudah menunjukkan pemulihan berbentuk-V setelah selama dua triwulan mengalami pertumbuhan negatif sampai Maret, kata Jesper Koll, penasihat senior perusahaan pengelola aset asal AS, WisdomTree. (Ant)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Jonathan Pandapotan Purba, Bogi TriyadiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan