Piala Presiden 2015: Keras di Lapangan, Dewasa dalam Bertindak

Apakah ini sinyal kuat pemain sudah mulai dewasa atau semata faktor uang? Tapi yang pasti ide Mahaka pantas diacungi dua jempol.

Diterbitkan 12 September 2015, 05:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perhelatan Piala Presiden telah memasuki babak perempat final. Drawing fase knock-out rampung digelar pada Jumat 11 September 2015 sore waktu setempat. Delapan tim yang bertarung di babak ini telah bertemu 'pasangan' masing-masing.

Menarik ditunggu, duel Persib Bandung kontra Pusam Borneo FC. Duel berlabel pemain Timnas bakal tersaji di perempat final yang mulai diputar pada 19 September mendatang. Kemudian, pertandingan tidak kalah seru terjadi antara Arema Cronus vs Bali United. Partai senior vs junior. Sedangkan, pemain jebolan Timnas U-19 yang tergabung di Persebaya United bakal bersua Sriwijaya FC. PSM Makassar bakal menentukan nasib dengan menghadapi Mitra Kukar.

Terlepas dari hasil undian, acungan jempol pantas diberikan pada seluruh kontestan Piala Presiden 2015. Meski bertabur kartu kuning, citra turnamen ini tetap terjaga. Hampir tidak ada kerusuhan ataupun insiden yang membetot perhatian publik selama turnamen ini berlangsung.

Piala Presiden

Dari catatan Liputan6.com, di hari pembuka Piala Presiden pada 30 Agustus 2015 lalu, 10 kartu kuning keluar dari kantong wasit dalam dua pertandingan pertama antara Bali United vs Persija dan Mitra Kukar vs Persita Tangerang. Total, terdapat 86 kartu kuning dalam 24 pertandingan sepanjang babak penyisihan grup dari grup A hingga D.

Bila dirata-rata, terdapat 3 kartu kuning dalam satu partai. Jumlah yang cukup tinggi mengingat Piala Presiden turnamen untuk mengisi kekosongan kompetisi di tengah konflik Menpora vs PSSI. Khusus kartu merah, hanya 4 pemain yang mendapatkannya yaitu Alan Aciar, Hendra Wijaya, Erik Setiawan, Iqbal Samad, dan Rio Ramandika.

Meski keras, pemain tetap mampu menjaga sportivitas dan tidak mencederai pertandingan dengan aksi menyentuh wasit. Setidaknya, sampai babak penyisihan grup rampung digelar. Semoga situasi kondusif ini tetap terjaga hingga laga pamungkas nanti.

Persib Bandung

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sejak jauh-jauh hari sebelum perhelatan berlangsung, Mahaka selalu promotor telah mengultimatum peserta untuk menjaga sportivitas serta meninggalkan budaya ricuh yang sudah kental dengan sepakbola Indonesia. Salah satu jurus Mahaka adalah, menerapkan sistem deposit pada setiap tim. Mahaka memotong pendapatan klub di babak penyisihan grup yang nilainya terhitung tidak sedikit. Promotor memangkas Rp 50 juta bagi setiap tim yang terlibat kericuhan dari total subsidi sebesar Rp 600 juta. Nominal itu diberikan pada setiap tim yang tampil di babak penyisihan grup.

Halaman
Show All
Rejdo Prahananda, Marco TampubolonTim Redaksi
Copy Link
Batalkan