Puluhan Tahun Tak Berubah, Taspen Kaji Kenaikan Iuran ASN

Dua dekade tak berubah, PT Taspen pertimbangkan skema iuran baru bagi ASN aktif agar jaminan masa tua makin sejahtera.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 20:30 WIB
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - PT Taspen (Persero) tengah mengkaji perombakan skema iuran bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) aktif. Langkah ini disiapkan demi memperkuat ketahanan dana tabungan hari tua dan pensiun para abdi negara.

Corporate Secretary Taspen, Henra menyampaikan, evaluasi mendalam terhadap iuran peserta masih terus berjalan. Saat ini, pemotongan iuran Tabungan Hari Tua (THT) berada di angka 3,25% dari gaji pokok dan tunjangan keluarga,serta 4,75% untuk program pensiun.

"Nanti kita juga propose untuk perbaikan program, untuk peningkatan iuran peserta. Kemudian kalau sekarang itu dari gaji pokok, next-nya kita propose lewat take home pay atau apa, tapi ini masih dalam proses diskusi," kata Henra kepada awak media di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

Skema iuran juga diusulkan agar tidak hanya memotong penghasilan ASN, melainkan ada kontribusi pendamping dari pemerintah. Langkah ini diadopsi dari model pengelolaan pensiun di beberapa negara seperti Malaysia dan Korea Selatan agar manfaat yang diterima pensiunan lebih optimal tanpa membebani APBN.

Penyelarasan ini dinilai mendesak. Pasalnya, penerimaan iuran THT Taspen berkisar Rp8 triliun per tahun, sedangkan kewajiban klaim yang harus dibayarkan mencapai Rp15 triliun per tahun. Defisit tersebut selama ini ditutup dari hasil pengelolaan investasi.

Porsi Saham Dipangkas ke 3%

Menghadapi dinamika pasar modal dan volatilitas Indeks Harga Saham Gargambang/Gabungan (IHSG), Taspen memilih merombak strategi alokasi dana. Porsi investasi pada instrumen saham dipangkas signifikan dari sebelumnya 10% menjadi hanya sekitar 3%. 

Sebagian besar dana kelolaan kini dialihkan ke instrumen berpendapatan tetap (fixed income) seperti obligasi dan deposito yang porsinya mencapai hampir 80 persen per September 2026.

Henra menegaskan bahwa penetapan porsi investasi Taspen tunduk ketat pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Langkah memindahkan dana ke instrumen aman ini juga terbukti efektif meredam dampak fluktuasi IHSG yang sempat tertekan di level 5.185 sebelum ditutup menguat di 5.282 pada Rabu (28/10/2026).

Penjelasan Soal Pencadangan Laba

Di sisi kinerja keuangan, Taspen membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,04 triliun pada 2025, terkoreksi dari Rp 1,24 triliun pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama Taspen, Rony Hanityo Aprianto menjelaskan, penurunan laba bukan disebabkan oleh kegagalan investasi, melainkan keputusan perseroan memperbesar alokasi pencadangan penurunan nilai (impairment) hingga Rp 1,82 triliun pada 2025, melonjak dibanding 2024 yang tercatat Rp 288 miliar. 

Pencadangan ini disiapkan sebagai langkah konservatif untuk mengantisipasi potensi risiko pada sejumlah instrumen obligasi BUMN karya yang sedang menghadapi tantangan.

"Sebagai bentuk kehati-hatian dan konservatif kita dalam mengelola Taspen, ada satu pos yang mengurangi laba cukup tinggi yaitu pos impairment," tegas Rony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Ia menambahkan, nilai pencadangan ini dapat dipulihkan kembali (reversal) apabila kondisi instrumen investasi tersebut membaik di masa depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6