Kenapa Rupiah Hari Ini Melemah ke 18.184 per Dolar AS?

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berikut faktornya menurut para ekonom.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 21:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yaitu bergerak ke kisaran Rp 18.100-18.200 per dolar AS. Tekanan itu datang saat gejolak global bertemu situasi dalam negeri. Demonstrasi berlangsung hari ini, sementara isu MSCI belum reda.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu pekan ini melemah 28 poin atau 0,15% menjadi 18.184 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 18.156 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp 18.183 per dolar AS dari sebelumnya Rp 18.139 per dolar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut pelemahan ini punya banyak sumber. "Pelemahan rupiah terutama dipengaruhi kombinasi meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan di pasar keuangan domestik," kata Josua.

Dari luar negeri, konflik Timur Tengah menjadi pemicu. "Eskalasi konflik Timur Tengah yang mempertahankan harga minyak di atas US$ 115 per barel atau Rp 2 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.180) mendorong investor mencari aset yang lebih aman, terutama dolar AS," ujarnya.

Harga energi yang tinggi juga memicu risiko inflasi. Menurut Josua, hal itu meningkatkan ekspektasi bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) akan menahan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan.

Bagi Indonesia, minyak mahal berarti kebutuhan valuta asing untuk impor energi membengkak. Risikonya mengarah ke neraca transaksi berjalan dan beban subsidi energi dalam APBN.

Tekanan semakin bertambah karena investor asing masih mencermati pasar saham Indonesia pasca usulan MSCI untuk merubah klasifikasi Indonesia menjadi standalone market.

Eksternal atau Internal?

Josua menilai faktor eksternal masih dominan. "Faktor eksternal masih menjadi penyebab utama pelemahan rupiah dalam jangka pendek," ungkapnya.

Ia merujuk pada pelemahan sejumlah mata uang Asia lainnya. Namun, menurut dia, faktor domestik membuat rupiah lebih rentan. "Tekanan global menjadi pemicu utama, sedangkan persoalan kredibilitas pasar domestik memperbesar dampaknya," ucap dia.

 

Kestabilan Politik dan Konsistensi Kebijakan untuk Menguatkan Rupiah

Pandangan berbeda datang dari ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky. "Faktornya lebih dari internal, adanya demo hari ini dan berlanjutnya isu MSCI menyebabkan rupiah melemah cukup dalam," kata Riefky.

Perihal pengaruh demonstrasi dalam nilai rupiah, Riefky menjawab singkat, "Iya."

Sedangkan, Josua lebih berhati-hati. "Saya tidak melihat demonstrasi sebagai penyebab utama pelemahan rupiah saat ini," kata dia.

Dampaknya, menurut dia, cenderung sementara dan bergantung pada skala serta intensitasnya.

Demi menguatkan nilai rupiah, Riefky menyebutkan dua kunci. "Kestabilan politik dan kebijakan yang konsisten," ujar dia.

Josua menambahkan, penguatan mata uang rupiah akan terbuka jika ketegangan Timur Tengah mereda dan harga minyak turun di masa depan. Pemerintah, OJK, dan BEI juga perlu menunjukkan kemajuan nyata dalam reformasi tata kelola pasar modal.

Dengan cadangan devisa US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026 atau Rp 2.660 triliun, ia menilai "BI masih memiliki ruang untuk meredam gejolak". Namun, menurut dia, stabilisasi harus diarahkan agar dapat mencegah pergerakan yang berlebihan, bukan mempertahankan satu angka nilai tukar secara kaku.

Menanggapi melemahnya rupiah, Josua memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 masih menghadapi volatilitas relatif tinggi.

"Saya memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 masih menghadapi volatilitas relatif tinggi, dengan kecenderungan tekanan pelemahan yang belum sepenuhnya mereda," ungkap dia. Dalam skenario dasar, rupiah bergerak di Rp 18.000-18.400 per dolar AS.

Skenario optimistis membawa rupiah ke Rp 17.600-18.000, sementara skenario terburuk menekannya ke Rp 18.500–18.800. Di sisi lain, Riefky memperkirakan berada di kisaran Rp 17.900–18.300.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6