Harga Perak Antam 27 Oktober 2026 Naik Rp 150

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia turun pada Selasa, (27/10/2026).

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 12:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Selasa, (27/10/2026). Harga perak Antam hari ini berlawanan dengan harga perak dunia yang melemah.

Mengutip laman logam mulia, harga perak Antam hari ini naik menjadi Rp 37.750 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dibanderol Rp 36.600.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram dan 500 gram. Perak batangan dipatok Rp 9.587.500 dan perak batangan 500 gram dibanderol Rp 18.375.000.

Bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,79% menjadi US$ 53,53.

Harga perak stabil di kisaran US$ 54 per ons pada Selasa pekan ini setelah menyentuh level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan harga minyak serta aksi beli saat harga menjelang keputusan kebijakan the Federal Reserve (the Fed) mendukung harga perak.

Harga minyak mentah turun selama dua sesi berturut-turut di tengah upaya diplomatik baru untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran, yang membantu mengurangi kekhawatiran inflasi dalam jangka pendek. Meski demikian, harga energi tetap tinggi, sehingga risiko inflasi tetap menjadi perhatian dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut terus bertahan, kondisi yang dapat menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (yield).

Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga tidak berubah minggu ini, dengan pasar kini tertuju pada panduan kebijakan (forward guidance) dari para pengambil kebijakan untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek suku bunga ke depan.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar kurang lebih 82%. Para investor juga akan memantau data PDB AS dan indeks harga PCE yang akan segera dirilis untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut mengenai prospek ekonomi serta arah kebijakan Federal Reserve.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas menguat pada Senin, 26 Oktober 2026. Harga emas dunia bangkit dari level terendah dalam lebih dari tiga bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga emas ini terjadi seiring dengan penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan the Federal Reserve (the Fed) pekan ini.

Mengutip CNBC, Selasa (27/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US$ 4.020,60 per ons pada pukul 14.09 EDT setelah menyentuh US$ 3.975 pada Jumat pekan ini, level terendah sejak 20 Juli 2026.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,8% ke level US$ 4.038,40 per ons.

"Terjadi sedikit penurunan pada harga minyak mentah yang turut membantu emas, di samping adanya aksi beli saat harga rendah," ujar Analis StoneX, Bob Haberkorn.

"Menurut saya, aktivitas perdagangan akan cenderung sepi, dan harga kemungkinan akan bertahan di kisaran US$ 4.000 hingga pengumuman dari The Fed keluar,” ia menambahkan.

Harga minyak turun setelah sempat melonjak pekan lalu, namun tetap berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan, di tengah harapan meredanya ketegangan antara AS dan Iran.

 

 

Koreksi Harga Minyak

Penurunan harga minyak telah mengurangi kekhawatiran inflasi, meskipun pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan baru yang dapat memicu kembali tekanan harga.

Keputusan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) dijadwalkan pada Rabu. Pasar secara luas memperkirakan adanya jeda kenaikan suku bunga setelah kenaikan pada September, sementara ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada Desember berada di angka 80%, menurut perangkat FedWatch dari CME.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil.

Para pengambil kebijakan di The Fed telah mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga jangka pendek AS minggu ini. Namun, karena kekhawatiran inflasi masih menjadi perhatian utama, para investor meyakini bahwa jeda kenaikan suku bunga ini tidak akan berlangsung lama.

 

Investor Menanti Rilis Data Ekonomi

Investor juga menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS yang akan dirilis pada Kamis, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga. Perhatian juga tertuju pada pemilihan umum paruh waktu AS tanggal 3 November, di mana para investor tengah menilai bagaimana hasilnya dapat memengaruhi kebijakan fiskal dan sentimen pasar secara lebih luas.

"Kami tidak terlalu berfokus pada hasil pemilu itu sendiri, melainkan lebih kepada implikasinya terhadap kebijakan fiskal, tarif, pengeluaran geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan. Hal-hal ini dapat berdampak pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), nilai tukar dolar, dan harga emas," ungkap para analis di OCBC dalam sebuah catatan.

Di antara logam lainnya, harga perak di pasar spot naik 0,2% menjadi US$ 54,01 per ons, sementara harga platinum turun 1,2% menjadi US$ 1.532,55 setelah sempat menyentuh level terendahnya sejak November 2025.

Harga paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.048,70. Perusahaan asal Rusia, Nornickel, produsen paladium terbesar di dunia sekaligus produsen utama nikel olahan menyatakan, rencana perombakan besar-besaran pada tanur (tungku peleburan) mereka berpotensi mengurangi produksi logam-logam utamanya pada 2027-2028.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6