Krisis Ekonomi Memburuk, Menteri Negara Ini Mundur

Pengunduran diri menteri ini jadi sorotan karena Iran disebut-sebut tengah menghadapi kondisi krisis ekonomi, di mana inflasi yang mencapai 85 persen.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 11:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri beberapa hari setelah muncul tuduhan lembaga perantara yang menangani penjualan minyak negara tersebut ke luar negeri berutang jutaan dolar.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian diketahui telah menerima pengunduran diri Paknejad, yang menyebut alasan pribadi sebagai penyebab kepergiannya.

Pengunduran dirinya jadi sorotan karena Iran disebut-sebut tengah menghadapi kondisi krisis ekonomi, di mana inflasi yang mencapai 85 persen.

Melansir theguardian.com, Selasa (7/10/2026), penurunan penerimaan dari minyak menyebabkan anjloknya pendapatan valuta asing dan menjadi salah satu penyebab penurunan nilai rial terbesar sejak Revolusi Iran pada 1979.

Nilai tukar rial telah melemah lebih dari 10 persen dibandingkan sebulan lalu, terutama akibat blokade laut Amerika Serikat yang menghambat Iran menjual minyak, yang merupakan sumber utama penerimaan pemerintah.

Pertemuan darurat pemerintah yang digelar sepanjang akhir pekan untuk mengatasi krisis tersebut belum menghasilkan kemajuan nyata.

Sementara itu, semakin banyak laporan mengenai pengunduran diri besar-besaran dari kalangan kelas menengah profesional, terutama guru dan perawat, karena gaji mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan harga.

Bank sentral Iran menyatakan bahwa tugasnya bukan mempertahankan nilai tukar pada tingkat tertentu, melainkan mengelola fluktuasi nilai tukar.

Perekonomian Iran mengalami kontraksi sebesar 10 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini. Di tengah kekhawatiran bahwa sanksi yang terus berlanjut dapat memicu aksi protes.

Para diplomat Iran tidak berencana memberikan konsesi baru setelah proposal untuk mempercepat proses perundingan nuklir ditolak oleh Donald Trump sepekan lalu.

 

Dugaan Korupsi di Industri Minyak

Iran selama ini menggunakan jaringan informal 'trustees' untuk menghindari sanksi AS dan memulangkan pendapatan minyak.

Laporan dari media Farhikhtegan, menuding sebuah trust yang dibentuk di bawah pengawasan Paknejad berutang hampir US$ 2 miliar atau Rp 35,7 triliun (asumsi kurs dolar As terhadap rupiah 17.880) kepada National Iranian Oil Company (NIOC).

Tiga trustee individu yang diberi kontrak minyak dituding masing-masing berutang ratusan juta dolar kepada NIOC. Juru bicara komisi energi parlemen, Reza Sepahvand, mengumumkan dimulainya penyelidikan dugaan ini.

Laporan soal manajemen yang longgar atau kemungkinan korupsi dinilai tidak banyak memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Kondisi ini terjadi di saat sebagian besar warga Iran menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara, sejumlah menteri Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa minyak kini mengalir lewat Selat Hormuz mendekati tingkat sebelum blokade. Jumlah serangan terhadap kapal di rute selatan selat tersebut meningkat, termasuk empat serangan dalam 48 jam terakhir.

Jalur pipa timur-barat Arab Saudi juga dilaporkan terpaksa ditutup kembali setelah serangan lanjutan. Rata-rata ekspor minyak mentah kawasan itu mencapai 18,5m barel per hari pada 1 Oktober, mendekati level sebelum perang.

Pekan ini, dolar diperdagangkan pada 269,000 toman, rekor tertinggi, naik 12% sejak 9 September. Upah minimum bulanan sebesar 166m rial kini hanya bernilai sekitar US$ 66 atau Rp 1,1 juta, sementara inflasi pangan mencapai 130%.

Wali Kota Teheran Alireza Zakani mengumumkan pembekuan harga 12 bahan pokok, termasuk gula, beras, minyak, dan deterjen, selama enam bulan. Sejumlah menteri juga menyebut kemungkinan kenaikan gaji sektor publik kedua demi meredam tekanan ekonomi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6