Ubah Limbah Sabut Kelapa Jadi Cuan, Kisah Nasabah PNM Mekaar Berdayakan Warga Pesisir

Iga Analusya mengembangkan Farilla Craft dari limbah sabut kelapa dan melibatkan 15-20 pengrajin, mayoritas ibu rumah tangga di pesisir Padang.

Diterbitkan 30 September 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Iga Analusya, bergabung dengan PNM Mekaar tidak sekadar menjadi jalan untuk mendapatkan tambahan modal usaha. Perempuan 32 tahun asal pesisir Padang ini justru menemukan kesempatan untuk terus belajar, berinovasi, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar melalui usaha kerajinan Farilla Craft.

Usaha tersebut berawal dari kejelian Iga melihat potensi dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai. Di kawasan pesisir tempat tinggalnya, limbah sabut kelapa yang menumpuk justru diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual, seperti tas, dompet, pot, hingga dekorasi dengan nuansa natural.

Ide tersebut muncul setelah Iga mengikuti pelatihan pengolahan sabut kelapa pada 2021. Saat itu, sejumlah narasumber didatangkan untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat pesisir.

“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” ujar Iga, mengenang awal mula dirinya bersama sang suami yang turut berperan sebagai desainer produk mengembangkan usaha tersebut.

Dari Modal Usaha hingga Menggerakkan Warga Pesisir

Usaha itu sudah berjalan sebelum Iga menikah, namun baru benar-benar berkembang setelah ia bergabung dengan PNM Mekaar pada akhir 2023. Modal awal sebesar Rp3.000.000 ia gunakan untuk membeli bahan baku, sehingga produksi tak lagi bergantung pada pesanan yang datang lebih dulu. Kini plafon pinjamannya telah berkembang menjadi Rp8.500.000, sejalan dengan skala usaha yang terus tumbuh.

Kini Farilla Craft mampu memproduksi hingga 100 pinsil dalam sekali produksi, dengan waktu pengerjaan sekitar tiga minggu untuk pesanan dalam jumlah besar seperti dari instansi pemerintah. Usaha ini juga menggerakkan roda ekonomi warga sekitar, dengan melibatkan 15 hingga 20 orang pengrajin yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga di lingkungan pesisir tempat Iga tinggal.

Namun bagi Iga, pencapaian yang lebih berarti datang dari sisi lain PNM yang jarang disadari nasabah, yaitu pemberdayaan lewat pelatihan dan pendampingan. Keikutsertaannya dalam program Mekaarpreneur 2026, yang mengantarkannya masuk 120 besar, membuka wawasannya tentang pengelolaan usaha berbasis teknologi hingga strategi promosi di media sosial.

“Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” kata Iga.

Wawasan itu pula yang mendorongnya terus berinovasi menyesuaikan produk dengan selera pasar generasi muda, tanpa meninggalkan sentuhan tradisional yang menjadi ciri khas Farilla Craft. Iga menyebut kunjungan mahasiswa untuk studi banding ke tempat usahanya turut memberi inspirasi baru dalam mengemas produk secara lebih modern dan eksklusif.

Ingin Rangkul Lebih Banyak Anak Putus Sekolah

Direktur Utama PNM, Kindaris, mendorong ibu-ibu nasabah PNM Mekaar untuk jeli melihat peluang usaha dari hal sekecil apapun.

“Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan,” kata Kindaris.

Iga berprinsip bahwa pemanfaatan modal benar-benar direncanakan sejak awal. Ia selalu mencatat rencana penggunaan modal dari PNM sebelum pencairan, sehingga modal yang didapat langsung terarah untuk kebutuhan produksi dan tidak berujung pada pengeluaran konsumtif.

Ke depan, Iga berharap dapat memperluas galeri usahanya sekaligus merangkul lebih banyak anak putus sekolah dan ibu rumah tangga di sekitar pesisir Padang untuk turut berkarya bersama Farilla Craft.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6