Harga Minyak Hari Ini Naik 5% Usai AS Serang Iran

Harga minyak WTI dan Brent kembali menguat hingga tembus di atas US$ 90 usai ketegangan AS dan Iran meningkat.

Diterbitkan 02 September 2026, 08:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak kembali naik pada Selasa, 1 September 2026 (Rabu pagi Jakarta) seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan baru yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Mengutip CNBC, Rabu (2/9/2026), harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 4,5% menjadi US$ 94,52 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik sekitar 5% menjadi US$ 90,03 per barel, mencapai tingkat harga yang belum pernah terlihat sejak 24 Juli.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi laporan sebelumnya pada Selasa pasukan AS mulai menyerang target-target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Serangan ini merupakan respons atas upaya serangan yang baru-baru ini dilakukan IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan terhadap personel militer Amerika yang ditempatkan di wilayah tersebut.

Sebuah kapal tanker dihantam oleh tiga proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz pada Senin, menurut laporan insiden dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

UKMTO juga menyebutkan, kapal tanker tersebut sedang berlayar di jalur pelayaran selatan dekat pantai Oman. UKMTO juga menambahkan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Iran melancarkan serangan terhadap dua pangkalan Amerika di Yordania pada hari Senin sebagai balasan atas serangan AS di Pulau Larak. Pasukan Amerika menargetkan dua peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu yang dilaporkan menewaskan tiga orang dengan alasan Teheran berniat meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke arah Selat Hormuz.

 

 

Aksi Saling Serang

Pulau kecil yang terletak di selat tersebut telah menjadi titik kendali militer dan pelayaran yang krusial bagi pasukan Iran, memungkinkan mereka mempertahankan kendali ketat atas lalu lintas kapal di salah satu jalur maritim paling vital di dunia.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai pada Selasa Teheran akan segera mengambil langkah balasan yang setara jika Washington bersedia kembali mematuhi komitmen dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni, menurut laporan Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA).

Aksi saling serang ini menandai kali pertama AS dan Iran terlibat baku serang dalam kurun waktu lebih dari sebulan.

Meskipun kedua belah pihak tampaknya tidak ingin kembali ke perang berskala penuh, keduanya mengisyaratkan kesiapan untuk merespons serangan lanjutan. "Kami akan menghantam mereka dengan keras," ujar Presiden Donald Trump kepada Fox News pada hari Senin, seraya menegaskan bahwa "akan ada respons" terhadap serangan Iran yang menyasar pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Sebagian besar analis memandang serangan AS terhadap Pulau Larak sebagai upaya untuk memecah kebuntuan, bukan sebagai perubahan strategi.

"Dengan menyasar peluncur rudal alih-alih infrastruktur militer Iran yang lebih luas, AS tampaknya sedang menghukum tindakan spesifik tertentu, dan bukan setidaknya untuk saat ini memperluas tujuan perangnya," kata Deputy Program Director International Crisis Group, Ali Vaez.

 

Adu Ketahanan

Sementara itu, Policy Director of United Against Nuclear Iran, Jason Brodsky menuturkan, langkah ini merupakan penegakan blokade.

Ia menambahkan, tujuan pemerintahan Trump adalah untuk semakin melemahkan kemampuan Teheran dalam menebar ranjau di Selat Hormuz, sembari tetap berfokus pada langkah-langkah tekanan ekonomi menjelang pemilihan umum paruh waktu.

Washington telah meningkatkan tekanan untuk menghimpit perekonomian Iran yang kondisinya sudah compang-camping melalui "sanksi sekunder" yang menghukum negara maupun perusahaan pembeli minyak mentah Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin, di sela-sela pertemuan menteri keuangan G20, Iran mulai "melakukan tindakan kinetik sebagai reaksi keras" karena sanksi baru tersebut telah berdampak buruk terhadap perekonomiannya.

Berbicara dari Ruang Oval pada Senin, Trump dilaporkan mengatakan sistem keuangan, angkatan bersenjata, dan pemerintahan Iran telah sangat melemah. "Bukan berarti kami tidak akan menghantam mereka untuk melihat apa yang terjadi," ujar Trump.

Perang yang kini telah memasuki bulan ketujuh tersebut telah mengganggu pasokan energi global dan memicu guncangan di pasar keuangan dunia.

"Pada dasarnya, ini adalah adu ketahanan," kata Brodsky.

Ia menambahkan, Trump telah menunjukkan sikap "sulit ditebak" yang semestinya membuat pihak Iran khawatir, dan Teheran mungkin akan melancarkan tindakan militer yang lebih agresif seiring meningkatnya tekanan ekonomi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6