Pertumbuhan Ekonomi 5,29% Kuartal II 2026, Begini Kata Ekonom

Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 sebesar 5,29%, menurut ekonom, salah satunya didukung oleh belanja pemerintah.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 22:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi dan belanja pemerintah. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 itu melebihi konsensus ekonom di kisaran 5,1%. Lalu bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026?

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud mencatat nilai produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026 ini atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.552,1 triliun. Sedangkan, PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.576,2 triliun.

"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 dibandingkan dengan triwulan II 2025 atau secara year on year (yoy) tumbuh 5,29%," tutur Edy dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,4%. Realisasi pertumbuhan ekonomi itu di atas realisasi pertumbuhan ekonomi semester I 2025 mencapai 5%.

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui proyeksi 5,15%. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 lebih rendah dari kuartal I 2026 yang tercatat 5,61%. David menuturkan, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni belanja pemerintah.  

"Penggerak utamanya kalau kita lihat itu memang masih berkaitan dengan belanja pemerintah," ujar David saat dihubungi Liputan6.com.

Jika dilihat secara sektoral, belanja pemerintah berkontribusi 15,9%. Angka ini mendekati kuartal I 2026 yang berada 20%. Pendorongnya menurut David yakni program prioritas pemerintah

"Secara sektoral juga masih berkaitan dengan program prioritas pemerintah, jadi termasuk juga konstruksi. Konstruksi itu juga tumbuhnya lumayan tinggi. Dia kontribusi sekitar 0,83%. Banyak konstruksi koperasi, dapur, ini berpengaruh juga," David menambahkan.

Hal senada disampaikan dalam riset Syailendra Capital. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 5,29% YoY melebihi konsensus 5,1%.

Dalam riset Syailendra Capital menyebutkan, dari segi pengeluaran, ada sejumlah pos pendorong pertumbuhan ekonomi. Pertama, konsumsi rumah tangga berkontribusi 53% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tumbuh 5,06% YoY. Namun, melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 5,52% YoY. “Hal ini didorong oleh ada momentum libur dan hari besar keagamaan nasional,” demikian dikutip dari riset Syailendra Capital.

 

 

Kontributor Pertumbuhan Ekonomi

Kedua, belanja pemerintah berkontribusi 8% dari PDB, berhasil tumbuh 15,97% YoY melambat signifikan dibandingkan kuartal I 2026 yangn tumbuh 21,81% YoY. “Walaupun melambat, namun pos ini memiliki pertumbuhan tertinggi. Kenaikan didorong oleh naiknya realisasi belanja pegawai ditambah pembayaran gaji ke-13 dan peningkatan realisasi barang dan jasa untuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketiga, pengeluaran untuk barang modal (PMTB) berkontribusi 29% dari PDB, berhasil tumbuh 6,87% YoY, membaik dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 5,96% YoY. Hal ini sejalan dengan naiknya realisasi investasi BKPM sebesar 7,1% YoY.

Keempat, ekspor yang naik 4,13% YoY, membaik dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 0,90% YoY). Akan tetapi, impor tumbuh lebih tinggi 8,82% YoY, melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang tumbuh 6,43% YoY.

“Aktivitas konsumsi rumah tangga yang relatif masih stagnan diharapkan bisa mulai membaik seiring dengan masih masifnya belanja pemerintah sekaligus melandainya inflasi Juli ke level 2,88% dari sebelumnya 3,34%,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui konsensus pasar sebesar 5,10%, tetapi melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026.

“Meski demikian, capaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah perlambatan global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional,” demikian mengutip riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% YoY pada Semester I 2026, menjaga prospek pencapaian target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4%.

 

 

Gairah Investasi

Selain dari belanja pemerintah dan pembangunan nasional, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS)-Iran.

"Kita masih sangat bergantung juga dengan perkembangan eksternal. Jadi perkembangan eksternal terutama berkaitan dengan bagaimana kondisi perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Itu akan berpengaruh dengan harga minyak dan nilai tukar kita terutama," ujar dia.

Sementara itu, gairah investasi di Indonesia juga bergantung pada kondisi geopolitik. Harga yang tidak pasti membuat pelaku saham melakukan peningkatan inventori.

“Pelaku saham banyak yang menaikkan inventori, karena mereka khawatir harganya naik terus. Itu memicu juga pertumbuhan di kuartal II,” tutur dia.

Pertumbuhan ini, menurut David, jika dapat dipertahankan dalam jangka panjang, akan menarik perhatian investor dengan sentimen yang positif.

“Kalau kita lihat jarang negara yang bisa tumbuh di atas 5%. Ini memberikan sentimen positif asalkan bisa dipertahankan," ujar dia.

David membeberkan proyeksi perkembangan ekonomi pada kuartal III, di mana investasi diharapkan menjadi penggerak yang lebih kuat.

"Penopang masih dari program prioritas pemerintah, tapi mungkin kontribusinya akan lebih kecil. Kita berharap dari realisasi investasi agar bisa lebih kuat,” ucap David.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6