Rupiah Hari Ini Tembus 18.009 per Dolar AS, Analis Ungkap Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan pada Senin, (27/7/2026) dipengaruhi sentimen internal dan eksternal.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tembus 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, (27/7/2026). Analis menilai, rupiah hari ini loyo terhadap dolar AS seiring peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 46 poin atau 0,26% menjadi 18.009 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.963 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak melemah di level Rp 17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.973 per dolar AS.

"Potensi kenaikan (suku bunga-red) tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi the Fed yang cenderung hawkish,” ujar dia dikutip dari Antara, Senin pekan ini.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September 2026. Adapun pada pertemuan 28-29 Juli 2026, The Fed diprediksi mempertahankan suku bunga.

Sentimen lain berasal dari gangguan rantai pasok akibat perang AS dengan Iran dan Houthi Yaman dengan Arab Saudi yang membuat jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang melambat.

Dari dalam negeri, sentimen berasal dari mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti akan menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan.

 

Intip Gerak Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Usai Gubernur BI Mundur

Sebelumnya, Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bukan karena pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai lebih banyak dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan tantangan ekonomi domestik.

Mengutip Antara, kurs rupiah turun 9 poin atau 0,05% menjadi 17.972 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.963.Sementara itu, berdasarkan data RTI, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.980.

Ibrahim mengatakan konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan Eropa Timur terus meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Siapapun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit untuk membuat rupiah kembali mengalami penguatan. Kenapa? Karena masalah geopolitik, sementara perekonomian di dalam negeri juga sedang menghadapi berbagai tantangan,” kata Ibrahim di Jakarta, Senin (27/72026).

 

 

Sentimen Rupiah

Menurut Ibrahim, pemerintah menargetkan rupiah kembali menguat ke kisaran Rp 16.500 per US$. Namun, target tersebut tidak mudah dicapai karena tekanan eksternal masih tinggi dan kondisi fiskal domestik menghadapi tantangan akibat berbagai program belanja pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.

Ibrahim menilai Perry Warjiyo telah berupaya menjaga stabilitas nilai tukar selama menjabat sebagai Gubernur BI. Namun, tekanan global membuat ruang gerak kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.

“Perry Warjiyo sudah begitu kerja keras untuk menahan agar rupiah kembali mengalami penguatan, tetapi sampai saat ini masih belum bisa mengangkat nilai tukar rupiah,” ujarnya.

 Ibrahim mengapresiasi keputusan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri secara sukarela. Menurut dia, langkah tersebut memberikan kesempatan bagi regenerasi kepemimpinan di Bank Indonesia tanpa mengganggu keberlangsungan kebijakan moneter.

Ibrahim menambahkan tantangan terbesar bagi kepemimpinan baru Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6