Harga Minyak Naik Tajam Usai AS Nilai Iran Tak Serius Akhiri Konflik

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% setelah AS menilai Iran tidak serius mencapai kesepakatan damai dan konflik kembali memanas.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari 3% pada perdagangan Rabu 22 Juli 2026 setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Kenaikan harga dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Iran tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik di Iran apabila Teheran menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (23/7/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik lebih dari 3% dan ditutup di level US$ 94,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat sekitar 3% menjadi US$ 86,83 per barel.

Sepanjang bulan ini, harga minyak telah melonjak lebih dari 20% seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Filipina, Rubio mengatakan Washington masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

"Amerika Serikat ingin mencapai penyelesaian secara diplomatik. Kami ingin mencapai kesepakatan jika hal itu memungkinkan dengan Iran," kata Rubio.

"Namun, pihak Iran tampaknya tidak benar-benar serius untuk mencapai sebuah kesepakatan," tambah dia.

 

Iran Langgar Komitmen

Rubio menambahkan, Iran telah membuat komitmen dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang disepakati bulan lalu. Namun, menurutnya, komitmen tersebut justru dilanggar hanya dalam waktu dua pekan.

"Iran membuat komitmen dalam nota kesepahaman yang dicapai bulan lalu, tetapi dalam waktu dua minggu mereka telah melanggarnya," ujar Rubio.

Ia juga menegaskan bahwa militer Amerika Serikat akan terus menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

"Kami akan terus melindungi jalur pelayaran. Kami juga berharap negara-negara lain bergabung dalam upaya tersebut. Presiden memiliki banyak pilihan jika mereka terus memilih untuk tidak bekerja sama," katanya.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan embargo terhadap kapal-kapal yang mengirim atau memuat barang di pelabuhan Arab Saudi. Langkah tersebut berpotensi mengganggu ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan ke Laut Merah sebagai kompensasi atas berkurangnya pasokan melalui Selat Hormuz.

 

Ancaman Trunp

Presiden Donald Trump juga kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran apabila kapal-kapal di Selat Hormuz kembali menjadi sasaran serangan.

"Mulai saat ini, setiap kali Republik Islam Iran menembaki sebuah kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, drone, maupun senjata lainnya, Amerika Serikat akan membombardir dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik, termasuk yang berada di dekat atau di ibu kota Teheran," tulis Trump.

Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 11 malam berturut-turut. Operasi tersebut menyasar pusat operasi militer, kemampuan maritim, hanggar pesawat, fasilitas penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer Iran.

Analis TD Securities Ryan McKay menilai harga minyak di kisaran US$ 90 hingga US$ 100 per barel masih mendapat dukungan dari kondisi fundamental pasar yang semakin ketat akibat terganggunya arus ekspor melalui Selat Hormuz dan meningkatnya risiko gangguan pengiriman di Laut Merah.

"Eskalasi terbaru dan pembatasan arus pasokan oleh Iran telah mempercepat penyesuaian harga di pasar. Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar pula peluang munculnya skenario yang mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi," ujar McKay.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6