Investor Borong Saham BUMN, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat

Kepala BP BUMN, Dony Oskaria menuturkan, momentum positif menandakan kebijakan yang dijalankan berada di jalur tepat.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 15:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan ke level 6.000 pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Saham-saham BUMN disebut memiliki peran dalam penguatan IHSG tersebut.

Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria menuturkan, kenaikan IHSG itu juga sejalan dengan menguatnya nilai tukar rupiah ke level 17.900-an per dolar Amerika Serikat (AS). Dia bilang, penguatan ini tak terlepas dari peran perusahaan pelat merah.

​"Melihat pergerakan IHSG yang melesat hijau menembus 6.000 dan nilai tukar Rupiah yang kembali menguat hari ini, kita patut bersyukur dan bangga. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelaku pasar," ujar Dony dalam keterangan resminya, Jumat (12/6/2026).

Dia mencatat, kinerja positif dicatat BUMN, seperti pada sektor pertambangan yang melesat hingga di kisaran 7 persen, sektor perbankan pelat merah (Himbara), dan Telkom. Sejak awal sesi perdagangan, saham-saham BUMN mencatatkan volume akumulasi beli yang masif dari investor domestik maupun asing.

"Ini adalah bukti nyata bahwa investor global maupun domestik menaruh kepercayaan penuh pada ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, khususnya pada portofolio BUMN kita," ucap Chief Operating Officer (COO) Danantara ini.

​Dony menegaskan, dominasi saham BUMN dalam mendorong laju IHSG adalah refleksi nyata dari kualitas fundamental bisnis yang sehat berkat transformasi berkelanjutan. Lebih jauh, dia mengajak masyarakat untuk terus merawat optimisme, karena stabilitas ini akan berdampak langsung pada ekonomi riil.

​"Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci menarik kemitraan strategis bernilai tinggi. Bagi masyarakat luas, stabilitas ini memastikan biaya kebutuhan pokok terkendali, dan aliran investasi akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru yang lebih luas. Hilangkan keraguan, mari bersama-sama kita jaga optimisme," tuturnya.

 

 

Penyesuaian BI Rate

Dony memandang, kebangkitan IHSG dan rupiah hari ini tidak lepas dari sinergi langkah cepat dan strategis pemerintah bersama otoritas terkait. Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah taktis dengan menyesuaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

​Langkah ini diperkuat dengan konsolidasi yang diinisiasi Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad. Dalam sepekan terakhir, Dasco menggelar rangkaian pertemuan intensif untuk menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter.

Dimulai pada 6 Juni dengan pertemuan tertutup bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan pimpinan Komisi XI DPR. Konsolidasi berlanjut pada 9 Juni dengan mempertemukan perwakilan Danantara, Himbara, BPJS, hingga asuransi BUMN.

 

 

 

 

Minta Publik Tak Khawatir

​Menyikapi sinergi tersebut, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, meminta publik untuk tetap tenang dan tidak khawatir karena instrumen pengaman ekonomi Indonesia bekerja dengan sangat baik dan fundamental perbankan terbukti kuat.

​"Alhamdulillah, sesungguhnya fundamental ekonomi kita, khususnya dari sisi perbankan, sangat kuat," kata Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan.

​Prasetyo juga secara khusus mengapresiasi kolaborasi para pelaku pasar negara. Termasuk didalamnya Himbara, Taspen, BPJS, hingga INA. "Kita akan terus bekerja keras mengatasi tantangan ekonomi demi menciptakan kondisi yang stabil sebagaimana harapan kita bersama," ia menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6