Purbaya Target Rupiah Balik ke 15.000 per Dolar AS Pakai Cara Ini

Menteri Keuangan Purbaya menargetkan nilai tukar rupiah kembali ke level Rp 15.000 per dolar AS.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 18:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetlan nilai tukar rupiah bisa kembali masuk ke level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Intervensi ke pasar obligasi, hingga menarik mata uang asing ke RI menjadi caranya.

Dia membawa optimisme nilai tukar rupiah kembali menguat. Meskipun saat ini rupiah sempat tembus ke level Rp 17.700 per dolar AS. Pada posisi ini, dia pun meminta para pemilik valuta asing (valas) untuk segera menjualnya. Pasalnya, nilai tukar rupiah akan segera menguat kedepannya.

"Kalau saya bilang pemain valas cepat-cepat jual lah, kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15 ribu. Kata Pak Preside, 'kalau Purbaya masih senyum, ekonomi aman', ini senyum terus nih," kata Purbaya dalam Jogja Financial Festival 2026, dikutip daring, Jumat (22/5/2026).

Beberapa upaya yang dilakukan dengan menarik dolar ke Indonesia, salah satunya melalui instrumen penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Kebijakan DHE SDA ini wajib diparkir di bank BUMN mulai 1 Juni 2026.

Cara lainnya, kata Purbaya, yakni melalui intervensi pemerintah lewar obligasi untuk mengendalikan yield surat utang pemerintah.

"Kita juga membantu (stabilisasi) nilai tukar dari sisi pemerintah. Saya masuk ke pasar obligasi supaya yield-nya gak naik terlalu tinggi, artinya asing tidak terpaksa harus keluar dari Indonesia karena rugi. Ini sudah berdampak," ungkap dia.

Dia menjelaskan, meski rupiah melemah terhadap dolar AS, tapi yield obligasi cenderung turun sepekan terakhir karena pemerintah membeli obligasi di pasar sekunder. Dampaknya diklaim sudah positif.

"Jadi teman-teman gak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998, nanti Juni akan ada supply dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi rupiah akan menguat," tegas Bendahara Negara.

 

Bos BI Pede Rupiah Menguat

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan menguat secara bertahap mulai Juli 2026, bulan depan. Dia melihat ada faktor musiman yang mendorong penguatan tersebut.

Perry mengungkapkan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpengaruh oleh kondisi global. Salah satu cara untuk mengembalikannya melalui penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen.

"Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, May, Juni tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus," ungkap Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (20/5/2026).

 

Rupiah Menguat Bertahap

Dia mengatakan, hingga Juni 2026 nanti masih cukup banyak permintaan valuta asing (valas) di Indonesia sehingga nilai rupiah cenderung melemah. Kenaikan permintaan ini salah satunya dipengaruhi pembayaran utang luar negeri hingga pencairan dividen perusahaan.

Penyesuaian BI Rate dan bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan mampu mengembalikan stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, berkurangnya permintaan atas valas juga akan turut berpengaruh pada penguatan rupiah.

"Dengan berkurangnya permintaan valas dalam negeri di bulan Juni, kenapa kami meyakini ini akan stabil di bulan Juni dan akan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus," jelas Perry.

 

BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah ini diambil untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan berbagai pertimbangan sebelum menaikkan BI Rate tadi. Menurutnya, kondisi ekonomi global dan domestik masuk pertimbangan untuk menaikkan suku bunga.

"Berdasarkan berbagai assesment menyeluruh, kondisi ekonomi global, kondisi ekonomi Indonesia dan juga berbagai risiko-risiko yang tadi kami sampaikan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 19 dan 20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, suku bunga deposit facility naik sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen, dan suku bunga lending facility naik sebesar 50 basis poin menjadi 6 persen," ungkap Perry dalam konferensi Pers RDG Bulanan Mei 2026, Rabu (20/5/2026).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6