Rupiah Sempat Sentuh 17.400, Data Inflasi Indonesia jadi Sorotan

Samuel Sekuritas Indonesia melihat ada kemungkinan komponen dalam perhitungan inflasi belum mencerminkan kondisi riil.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim, menyoroti data inflasi Indonesia yang dinilai terlalu rendah dibanding kondisi riil di lapangan. Menurut dia, angka inflasi Indonesia yang berada di kisaran 2,4% menimbulkan tanda tanya besar, terutama ketika masyarakat merasakan kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari dan rupiah terus mengalami pelemahan.

Tae Yong menilai, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tekanan terhadap rupiah semakin besar dan suku bunga berpotensi naik dalam waktu mendatang.

Ia mengatakan, inflasi Indonesia pada April 2026 yang berada di level 2,4% sulit dipahami jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi aktual yang dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan kenaikan harga makanan dan kebutuhan sehari-hari yang menurutnya jauh lebih tinggi dibanding angka inflasi resmi.

“Inflasi yang dirilis beberapa hari lalu berada di angka 2,4%, kan? Benarkah? Indonesia mengalami inflasi sebesar 2,4%? Maksud saya, lihat, inflasi yang saya rasakan, seperti ayam yang saya makan di KFC tahun lalu tidak sama dengan ayam yang saya makan sekarang, misalnya,” kata Tae Yong Shim dalam Media Connect 2026, di kantor Samuel Sekuritas Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, terdapat kemungkinan komponen dalam perhitungan inflasi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat. Ia juga menyoroti fakta inflasi Amerika Serikat justru berada di atas Indonesia. Padahal secara historis, inflasi Indonesia biasanya lebih tinggi dibanding AS.

"Inflasi Indonesia seharusnya lebih tinggi daripada AS? AS lebih tinggi daripada Indonesia. Apakah itu masuk akal? Saya sudah bilang sebelumnya 2,4% data terbaru 2,4, kan? AS 3,3%. Apakah itu masuk akal? Mungkin tidak,” ujarnya.

Tae Yong menilai rendahnya inflasi membuat suku bunga Indonesia ikut terlalu rendah. Padahal di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya tekanan harga, kebijakan suku bunga semestinya bergerak lebih tinggi.

Rupiah Melemah

Selain mengkritik data inflasi, Tae Yong juga menyoroti pelemahan rupiah yang kini kembali menyentuh level Rp 17.400 per dolar AS, tertinggi dalam sekitar 30 tahun terakhir.

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar gejolak jangka pendek, melainkan mencerminkan persoalan struktural yang telah berlangsung lama. Ia menjelaskan bahwa nilai tukar sangat dipengaruhi oleh selisih pertumbuhan ekonomi dan perbedaan suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat.

"Setelah 30 tahun, Rupiah kembali ke Rp 17.400. Ya, setelah 30 tahun. Dan ini adalah tren struktural, Anda tahu, ini tren yang sangat struktural. Ini bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam, ini adalah tren struktural yang sangat, sangat besar,” pungkasnya.

 

Purbaya Tepis Isu Fiskal Goyah Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Sebelumnya, isu pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh data, terutama jika melihat kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.

Purbaya menegaskan bahwa dalam konteks global yang penuh tekanan, Indonesia justru berada dalam posisi relatif kuat dibanding banyak negara lain. Ia merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menempatkan Indonesia dalam jajaran teratas ketahanan energi saat menghadapi potensi krisis global.

“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat.” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menyinggung perbandingan posisi Indonesia dengan negara besar lain, yang menurutnya menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih solid di tengah risiko global.

“Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purbaya membantah narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini justru masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, berbeda jauh dengan kondisi resesi yang terjadi sebelum krisis 1998.

Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data, serta menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil dan terkendali.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6