Currency Swap Disiapkan demi Jaga Rupiah, Apa Itu?

Mengenal skema currency swap, salah satu strategi yang disiapkan pemerintah untuk menjaga kestabilan rupiah.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 20:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan rencana pemerintah untuk menerapkan currency swap. Tujuannya, untuk melawan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Barangkali ada yang belum tahu, mari kita mengenal istilah currency swap ini. Dilansir dari laman Bank Sentral Eropa, www.ecb.europa.eu, istilahnya dikenal dengan currency swap line adalah kesepakatan antara dua bank sentral untuk saling menukar mata uang. 

Mekanisme ini memungkinkan sebuah bank sentral memperoleh likuiditas dalam mata uang asing dari bank sentral yang menerbitkannya. Biasanya, karena likuiditas tersebut diperlukan untuk disalurkan kepada bank-bank komersial domestik. 

Misalnya, Indonesia butuh dolar AS. Lewat currency swap, Bank Indonesia bisa “meminjam” dolar AS dari bank sentral Amerika Serikat, yaitu Federal Reserve System. Sebagai gantinya, Indonesia kasih rupiah dengan nilai yang setara.

Jadi bukan tukar permanen, tapi lebih ke “pinjam dulu, nanti dibalikin”. Menurut European Central Bank, skema ini disebut currency swap line, yaitu kerja sama antar bank sentral untuk saling menyediakan mata uang jika dibutuhkan.

Jadi ketika Bank Indonesia butuh dolar AS, Bank sentral AS kasih dolar AS kemudian Bank Indonesia kasih rupiah sebagai jaminan. Dolar itu dipakai di dalam negeri misalnya untuk bank atau impor. Nanti setelah waktu tertentu, ditukar balik sesuai nilai awal.

Jadi ini bukan jual beli biasa, tapi lebih ke kerja sama biar masing-masing negara punya “cadangan darurat”.

 

Sudah Dipakai Sejak Lama

Ketika banyak orang atau perusahaan butuh dolar, entah untuk impor atau bayar utang luar negeri, maka permintaan dolar naik jadinya rupiah bisa melemah. Kalau begitu, lewat currency swap jadinya Indonesia bisa dapat pasokan dolar tambahan, terus mengurangi tekanan terhadap rupiah dan akhirnya pasar jadi lebih tenang dan stabil.

Makanya, kebijakan ini sering dipakai saat kondisi ekonomi global lagi tidak pasti. Kasus nyata waktu European Central Bank bekerja sama dengan Federal Reserve System. Bank sentral Eropa bisa dapat dolar dari The Fed dan sebagai gantinya, ECB kasih euro.

Kerja sama seperti ini sudah dipakai sejak lama, termasuk saat krisis keuangan global 2008 dan saat pandemi COVID-19. Jadi ini bukan hal yang baru, tapi tidak ada salahnya kita mengingat lagi.

Rupiah Tertekan, Pemerintah Siapkan Currency Swap dengan China hingga Jepang

Sebelumnya, Pemerintah menyiapkan skema currency swap dengan sejumlah negara mitra sebagai langkah antisipatif menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kebijakan ini diambil seiring meningkatnya kebutuhan dolar AS pada kuartal II, yang biasanya dipicu oleh musim ibadah haji dan pembagian dividen perusahaan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut China menjadi salah satu mitra utama dalam skema ini, disusul Jepang, Korea Selatan, serta negara lainnya.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” kata Airlangga di Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026).

Melalui skema tersebut, kebutuhan likuiditas tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Transaksi bilateral dapat dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara, sehingga tekanan terhadap permintaan dolar bisa ditekan.

Selain itu, pemerintah juga mulai menata ulang strategi pembiayaan dengan mempertimbangkan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang alternatif, seperti yuan dan yen.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan komposisi utang sekaligus mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar AS, sehingga stabilitas ekonomi domestik dapat lebih terjaga.

 

Dialami Banyak Negara

Airlangga menilai, pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara seiring penguatan dolar AS secara global.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat pada periode April hingga Juni. Selain kebutuhan valas untuk perjalanan haji, permintaan dolar juga naik karena perusahaan melakukan pembayaran dividen kepada investor asing.

“Permintaan terhadap dolar memang biasanya naik di kuartal kedua. Kita akan terus monitor, termasuk membandingkan dengan kondisi di negara lain,” ujar Airlangga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6