Kawasan Pantura Jawa Hadapi Ancaman Serius, Begini Gambarannya

Ancaman serius kini dihadapi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.

Diterbitkan 04 Mei 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyoroti ancaman serius yang dihadapi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.

Menurut AHY, fenomena penurunan tanah terjadi di berbagai wilayah Pantura dengan tingkat yang bervariasi, bahkan mencapai 1 hingga 20 sentimeter per tahun di sejumlah daerah seperti Jakarta dan Semarang. Kondisi ini semakin memperparah kerentanan kawasan pesisir terhadap banjir rob dan genangan air laut.

Ia menjelaskan bahwa situasi tersebut diperburuk oleh kenaikan permukaan air laut yang terus berlangsung akibat perubahan iklim global. 

“Di saat yang bersamaan bisa dikatakan ini sebagai twin pressure tekanan ganda terjadi kenaikan permukaan air laut,” ujar AHY dalam acara Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura, Senin (4/5/2026).

AHY menegaskan bahwa kombinasi dua faktor ini menjadi ancaman nyata yang harus segera ditangani melalui langkah konkret dan terukur. Tanpa intervensi yang tepat, dampaknya tidak hanya merusak infrastruktur dan permukiman, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan pesisir.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa risiko yang ditimbulkan tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang biasa terjadi. 

“Dan ini semua jangan sampai benar-benar menjadi norma yang kemudian kita anggap sebagai takdir kita,” katanya.

Menurutnya, ancaman tersebut dapat memicu bencana yang lebih besar di masa depan jika tidak diantisipasi sejak dini, termasuk potensi kerusakan lingkungan yang semakin meluas serta meningkatnya kerugian sosial ekonomi.

 

Pendekatan Terintegrasi

Karena itu, AHY menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan Pantura, baik melalui pembangunan infrastruktur yang adaptif maupun langkah mitigasi berbasis lingkungan. 

“Tetapi kita harus melawan dalam cara petik dengan upaya, dengan ikhtiar, sekuat tenaga, melalui pendekatan infrastruktur maupun pendekatan sosiologis dan juga ekologis yang tepat sasaran,” tuturnya.

Ia menambahkan, upaya tersebut harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar mampu mengurangi risiko jangka panjang dan menjaga keberlanjutan kawasan Pantura sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6