Rupiah Kembali Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini 21 April 2026, Sentuh Level Segini

Sentimen ekonomi domestik mendukung penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (21/4/2026).

Diterbitkan 21 April 2026, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan penguatan pada Selasa, (21/4/2026). Penguatan rupiah terhadap kurs dolar AS didukung ketangguhan ekonomi Indonesia di tengah sentimen geopolitik.

Mengutip Antara, Selasa pekan ini, rupiah menguat 25 poina tau 0,15% menjadi 17.143 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di 17.168 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak menguat ke level 17.142 per dolar AS dari sebelumnya 17.176 per dolar AS

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi ketangguhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan situasi geopolitik.

"Pemerintah berupaya meningkatkan investasi dengan memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target dan menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasinya demi menciptakan perbaikan kondisi ekonomi secara berkelanjutan," tutur dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Saat ini, Indonesia disebut tengah menggeser fokus pembangunan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Transformasi ini didorong melalui tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan produktivitas.

Ibrahim menuturkan, kinerja ekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, ditopang oleh pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang terjaga.

Ketahanan ini berasal dari peran anggaran pendapatan belanja negara (APBN) sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat, dengan tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN," kata dia.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Indonesia

Di tengah penyesuaian harga global, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turut relatif meningkat, tetapi tetap berada dalam asumsi pemerintah.

Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia.

"Meski Indonesia mencatat arus keluar devisa sebesar 1,8 miliar dolar AS dan depresiasi rupiah, namun defisit fiskal Indonesia tetap di bawah 3 persen dan cadangan devisa tetap memadai, yang membuktikan bahwa kredibilitas makro finansial berfungsi di saat yang paling penting, termasuk dalam memperkuat ketahanan energi," ungkap Ibrahim.

Situasi Geopolitik

Adapun situasi geopolitik yang terjadi saat ini ialah ketidakpastian masa depan kesepakatan damai antara AS dengan Iran.

Di satu sisi, Presiden AS mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan lebih lanjut pada pekan ini.

Di sisi lain, para pejabat Iran mengatakan pembicaraan tampaknya tak mungkin selama AS mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap negara tersebut.

Namun, laporan menunjukkan, Teheran telah mengkonfirmasi kepada mediator regional bahwa mereka mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan.

"Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran akan berakhir pada hari Rabu (22/4/2026) ini, dengan Trump memberi sinyal bahwa perpanjangan kesepakatan tampaknya tidak mungkin. Pasar juga tegang karena aksi militer lebih lanjut di Timur Tengah setelah AS menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran pada akhir pekan," kata Ibrahim.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6