Harga Minyak Melesat Usai Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran

Harga minyak mentah Brent yang merupakan harga patokan internasional melonjak.

Diterbitkan 06 April 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik pada hari Minggu (Senin waktu Jakarta), di mana  minyak mentah Amerika Serikat (AS) menembus angka USD 114 per barel. Hal ini setelah Presiden AS Donald Trump memberi Iran waktu hingga Selasa untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya.

Dikutip dari CNBC, Senin (6/4/2026), harga minyak mentah Brent yang merupakan harga patokan internasional melonjak 2,35% menjadi USD 114,16 per barel. Sedangkan harga minyak mentah AS naik 1,72% menjadi USD 110,91 per barel.

Pada hari Minggu, Trump memperingatkan dalam sebuah unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar bahwa Iran akan “hidup di neraka” jika mereka tidak membuka selat tersebut. Trump mengancam akan membom pembangkit listrik dan jembatan negara itu.

Trump kemudian memposting “Selasa, 8:00 PM Waktu Bagian Timur!” tanpa penjelasan lebih lanjut.

Iran secara efektif menutup Selat tersebut melalui serangan terhadap kapal tanker minyak. Jalur laut ini menghubungkan Teluk Persia ke pasar dunia. Sekitar 20% pasokan global melewati Selat tersebut sebelum perang.

Penutupan Selat tersebut telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Harga minyak mentah, bahan bakar jet, solar, dan bensin telah melonjak sejak perang dimulai.

Trump mengatakan dalam pidato nasional Rabu lalu bahwa perang akan berlanjut selama dua atau tiga minggu.

Menurut TD Securities, hampir 1 miliar barel akan hilang hingga akhir bulan, yang terdiri hingga 600 juta barel minyak mentah dan sekitar 350 juta barel produk olahan.

“Dengan konflik yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan April, perhitungan produksi barel menjadi semakin suram,” kata Ahli Strategi Komoditas Senior TD Securities Ryan McKay.

 

Total Kerugian

Rapidan Energy memperkirakan total kerugian bersih sebesar 630 juta barel minyak dan produk pada akhir Juni, setelah memperhitungkan pengalihan aliran melalui jalur pipa, pelepasan stok darurat, dan pengurangan persediaan.

Kedelapan anggota OPEC+ pada hari Minggu sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada bulan Mei, meskipun belum jelas bagaimana minyak tersebut akan mencapai pasar global mengingat Selat Taiwan masih tertutup.

Kuwait Petroleum Corporation mengatakan pada hari Minggu bahwa beberapa fasilitas operasionalnya diserang oleh drone dan mengalami kerusakan yang signifikan.

OPEC+ memperingatkan bahwa perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan Iran membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama, sehingga memengaruhi ketersediaan pasokan secara keseluruhan. Delapan anggota OPEC+ tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6