Transaksi QRIS Antarnegara Tembus Rp 6,2 Triliun, Pengguna Utama Turis Asing

BI mencatat transaksi QRIS antarnegara yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 6,2 triliun hingga 2026, mayoritas digunakan wisatawan asing.

Diterbitkan 26 September 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi QRIS antarnegara yang masuk ke Indonesia atau inbound mencapai 17,8 juta transaksi dengan nilai Rp 6,2 triliun hingga 2026. Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital lintas negara, terutama oleh wisatawan mancanegara.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan transaksi inbound tersebut berasal dari wisatawan sejumlah negara yang menggunakan QRIS saat melakukan pembayaran di Indonesia.

Enam negara yang telah terhubung dalam konektivitas QRIS antarnegara tersebut adalah Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

"Kalau kita lihat sekarang kita net inbound, artinya kita menerima banyak pembayaran dari turis-turis yang datang ke Indonesia. Lebih banyak dibandingkan orang Indonesia yang pergi ke enam negara tadi," kata Fili dalam acara FEKDI x IFSE 2026, dikutip dari Antara, Sabtu (26/9/2026).

Di sisi lain, transaksi QRIS antarnegara dari Indonesia ke luar negeri atau outbound tercatat sebanyak 5 juta transaksi dengan nilai Rp 1,85 triliun.

Dengan demikian, nilai transaksi inbound QRIS hingga 2026 tercatat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan transaksi outbound.

 

Menghubungkan Sistem dengan Enam Negara

Fili mengatakan perkembangan transaksi tersebut menjadi salah satu hasil dari penguatan konektivitas pembayaran lintas negara yang dilakukan BI bersama industri dan negara mitra.

Hingga 2026, QRIS antarnegara telah menghubungkan sistem pembayaran Indonesia dengan enam negara. BI juga terus memperluas konektivitas tersebut, antara lain melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Hong Kong dan Timor-Leste.

Menurut Fili, pengembangan QRIS antarnegara tidak hanya bertujuan memudahkan masyarakat ketika melakukan transaksi di negara lain. Konektivitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi antarnegara.

Konektivitas pembayaran dinilai dapat mendukung aktivitas perdagangan dan pariwisata. Selain itu, sistem tersebut berpotensi membuka akses pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar yang lebih luas.

"Pada akhirnya tujuan kita untuk membangun bukan hanya sekadar koneksi, tapi menciptakan nilai tambah dari koneksi tersebut," ujarnya.

Fili menilai perluasan QRIS antarnegara menjadi penting seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat antarnegara.

Perlu Terus Dikembangkan

 

Fili menyebut QRIS saat ini telah menjangkau 69,3 juta pengguna dan hampir 46 juta merchant. Dari jumlah merchant tersebut, sekitar 69 persen merupakan UMKM.

Besarnya jumlah pengguna dan merchant tersebut menunjukkan ekosistem QRIS telah berkembang tidak hanya sebagai sarana pembayaran domestik, tetapi juga memiliki peran dalam mendukung konektivitas ekonomi lintas negara.

Karena itu, menurut Fili, konektivitas pembayaran antarnegara perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai inovasi dalam sistem pembayaran. Pengembangan tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap inklusi keuangan dan inklusi ekonomi.

Kehadiran QRIS antarnegara memungkinkan wisatawan melakukan pembayaran dengan lebih mudah sekaligus memberikan peluang bagi pelaku usaha di Indonesia untuk melayani konsumen dari luar negeri.

"Konektivitas pembayaran harus kita lihat sebagai bagian dari economic connectivity dan antarnegara tadi sangat mendukung baik perdagangan, pariwisata dan juga membuka akses bagi UMKM," kata Fili.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6