Hari Oeang: Dulu Repot Cari Uang Kembalian, Pedagang Kini Cermat Cek QRIS

Bagi pedagang kaki lima, kemudahan QRIS terasa nyata. Namun, perlu cermat juga saat memakainya.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 18:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembayaran dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini lazim dijumpai di gerobak pinggir jalan. Pembeli cukup memindai kode, tanpa perlu menunggu kembalian. Bagi pedagang kaki lima, kemudahan itu terasa nyata. Namun, di baliknya ada risiko yang tak selalu terlihat.

Hal itu dialami Sakinah (32), pedagang sate kaki lima di Menteng, Jakarta Pusat. Ia menempelkan QRIS di gerobaknya sejak tiga tahun lalu.

Alasannya sederhana. "Buat bayar, lebih mudah aja, Kak. Jadi enggak pakai tukar-tukaran gitu, biar enggak usah repot-repot kembalian," kata Sakinah.

Menurut dia, QRIS juga membuat dagangannya lebih ramai. Sebab, kini hampir semua orang membayar dengan QRIS.

Meski begitu, Sakinah punya satu kendala. Saat dagangannya diserbu pembeli, ia tak sempat mengecek bukti pembayaran satu per satu, sehingga ia pernah kecolongan. Seorang pelanggan menunjukkan bukti pembayaran yang ternyata tidak masuk ke rekeningnya.

"Kalau misalkan ada pelanggan kayak dilihat dulu harusnya. Karena berhubung yang beli udah numpuk, jadi enggak bisa [cek satu-satu]," curhatnya.

Sakinah mengaku sulit melacak setiap pembeli yang datang karena nama pelanggan tidak tampil utuh di notifikasi pembayaran maupun di riwayat transaksi.

"Karena enggak bisa dilihat juga namanya, hanya inisial saja. Jadi kalau misalkan sudah lost [bukti pembayarannya hilang], ya kita enggak bisa mastiin," kata dia.

Karena itu, Sakinah berharap nama pembayar ditampilkan utuh, tidak hanya inisial. "Enggak usah diinisialin, Kak. Kalau [tiap] transaksi kan biar ketahuan ada pembayaran dari siapa, itu atas nama siapa," ujar dia ketika ditanya bagaimana cara agar transaksi QRIS terjaga tetap aman.

 

QRIS Tidak Repot, Bagaimana dengan Penjualan?

Sementara, cerita lain datang dari Rosita (22), yang membantu kakaknya berjualan otak-otak, tahu, dan kentang bumbu di Stasiun Gondangdia.

Dagangannya dijajakan lewat gerobak, dengan QRIS yang ditempelkan agar pembeli bisa langsung memindai.

Menurut dia, hasil penjualan tidak jauh berbeda dengan atau tanpa QRIS. "Nggak jauh beda," katanya. Meski begitu, ia mengakui adanya QRIS tentu meringankan para penjual karena tidak repot.

"Bikin aja biar enggak repot," ucapnya ketika ditanya alasan menyediakan alternatif transaksi tersebut.

Dari gerobak sate di Menteng hingga gerobak otak-otak di stasiun, QRIS sudah menjadi bagian keseharian pedagang kecil. Di Hari Oeang ke-80, uang memang berganti rupa, tetapi kepercayaan dalam bertransaksi tetap menjadi kuncinya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6