Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah Terus Tergerus, Sektor Ini Bisa Jadi Penolong

Tak hanya daya beli, jumlah kelas menengah Indonesia juga terus menyusut setiap tahun

Diterbitkan 04 Maret 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sektor manufaktur atau padat karya dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan daya beli masyarakat kelas menengah di Indonesia. Di saat, ketidakpastian ekonomi global yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir menggerus kepercayaan konsumen dan menekan kelas menengah di negara ini.

Ini diungkapkan ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwijaya. "Uncertainty high bahkan record high. Nah, hubungan dengan kaum menengah apa, ini kalau sebenarnya erosi confidence middle income yang biasanya terjepit. Mereka tidak bisa mendapatkan terlalu banyak insentif dan pemerintah, tapi mereka diharapkan berdiri sendiri dengan kakinya," ujar dia dalam UOB Media Editors Circle bertajuk How the Middle Class Thrives in Economic Volatility di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, indeks ketidakpastian global saat ini berada pada level tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal dalam 20 tahun terakhir. Kondisi yang ikut mempengaruhi kelas menengah di Indonesia. 

Jumlah kelas menengah Indonesia juga terus menyusut setiap tahun. Daya beli dari kelas ini pun turut melemah.

Dalam satu survei Apindo, menemukan jika sektor manufaktur bisa menjadi kunci untuk mengembalikan permintaan atau daya beli dari kelas menengah terutama dalam menyerap tenaga kerja dan mendorong konsumsi.

Sektor ini, kata dia, sempat booming sekitar tahun 2012, mulai dari industri tekstil, sepatu, dan garmen. Setelah sebelumnya, komoditi mentah seperti batubara menjadi primadona, di era 2008-2011.

Namun dalam satu dekade terakhir, kontribusi sektor padat karya tersebut terus menurun dan tergerus. "Confidence, yang menyebabkan demand itu turun di kelas menengah, kita harus membalikkan dengan kembalikan sektor manufaktur itu menjadi tulang punggung suatu negara," ujar dia.

Kontribusi ke Ekonomi Nasional

Executive Director Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, mengungkapkan bahwa jumlah kelas menengah terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak momen Covid-19.

Data dari BPS menyebutkan, jumlahnya turun menjadi 46,7 juta dari sebesar 57,3 juta. Padahal, kontribusi dari kelas menengah ini sangat besar, termasuk dari sisi konsumsi.

"Kalau kita lihat kontribusinya itu 81,5% terhadap total ekonomi di Indonesia. Dan kalau kita lihat, yang paling penting lagi, sebenarnya ada di sisi usia yang disebut sebagai kelas menengah ini mayoritas ada di usia produktif antara 17-40 tahun," tambah dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6