BI Prediksi Penjualan Eceran Meningkat Desember 2025

Bank Indonesia (BI) melaporkan, indeks penjualan riil (IPR) tumbuh 6,3% pada November 2025.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan, kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 diperkirakan  tetap tumbuh. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 yang diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso menuturkan, kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

"Secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,0% (mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,5% (mtm),” ujar Ramdan dikutip dari laman BI.

Ia menuturkan, peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Makanan, Minuman dan Tembakau sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Pada November 2025, IPR secara tahunan tumbuh sebesar 6,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan IPR bulan sebelumnya sebesar 4,3% (yoy).

Ia mengatakan, pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi.

Secara bulanan, penjualan eceran pada November 2025 tumbuh sebesar 1,5% (mtm), didukung oleh peningkatan penjualan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang periode perayaan HBKN Natal dan Tahun Baru. 

Ramdan mengatakan, dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Februari 2026, diprakirakan meningkat, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Mei 2026, diprakirakan menurun.

Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang tercatat sebesar 168,6, lebih tinggi dibandingkan dengan 163,2 pada periode sebelumnya didorong oleh ekspektasi kenaikan harga menjelang periode Ramadan 1447 H. Sementara itu, IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar 161,7.

 

Bank Indonesia Tak akan Terbitkan BI-FRN Tenor di Bawah 12 Bulan

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) tidak akan menerbitkan Bank Indonesia Floating Rate Notes (BI-FRN) dengan tenor pendek kurang dari 12 bulan. Lantaran, pihak bank sentral wajib mengikuti aturan yang tertuang dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

"BI itu paling panjang bisa meng-issue FRN 1 tahun. Karena sesuai undang-undang, kita hanya bisa menerbitkan instrumen sampai dengan 1 tahun," jelas Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI, Arief Rachman dalam sesi temu media di Amanaia Menteng, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Terlepas dari regulasi yang ada, Arief mengatakan, Bank Indonesia sebenarnya punya keinginan untuk menerbitkan surat berharga dengan tenor lebih panjang, seperti dilakukan oleh bank sentral Thailand.

"Kalau BI boleh menerbitkan yang 2 tahun kayak Thailand,, saya keluarin yang 2 tahun. Kalau boleh 3 tahun, saya keluarin 3 tahun kayak di Thailand. Tapi karena undang-undang bilang kita hanya terbitkan maksimum yang 12 bulan," ungkapnya.

Menurut dia, penerbitan BI-FRN tenor pendek tidak diperlukan. Lantaran instrumen tersebut diterbitkan dengan tenor 12 bulan dengan kupon bersifat mengambang (floating), maka kebutuhan lindung nilai (hedging) tidak akan melampaui tenor tersebut.

"Hedging biasanya gak akan melebihi underlying-nya, jangka waktunya. Itu prinsip dasarnya," kata Arief.

Adapun penerbitan BI-FRN untuk mendorong pembentukan pasar Overnight Indeks Swap (OIS) di pasar keuangan Indonesia. Sehingga, perbankan mulai bertransaksi di pasar OIS dengan suku bunga mengambang.

"Kita juga issuance-nya enggak sebesar SRBI. Nanti ada yang bilang, BI absorpsi terus, enggak. Ini dikeluarkan dalam jumlah sangat terbatas. Hanya untuk men-trigger mereka bertransaksi di OIS," bebernya.

 

Setop JIBOR, Bank Indonesia Kenalkan Indonia Buat Acuan Bunga Antarbank

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) resmi telah menyetop publikasi Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) per 1 Januari 2026. Menggantikannya dengan Indonesia Overnight Index Average (Indonia) sebagai suku bunga acuan pengganti, yang dihitung berdasarkan transaksi aktual pinjam-meminjam antarbank.

"Mulai tanggal 1 Januari 2026 ini Bank Indonesia sudah full menggunakan Indonia, Indonesia Overnight Index Average," ujar Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI, Arief Rachman, dalam sesi temu media di Amanaia Menteng, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Dengan berbasis transaksi aktual, Arief menilai Indonia lebih akurat, objektif, dan mencerminkan kondisi likuiditas pasar secara riil. Sejalan dengan praktik global dalam melalukan reformasi suku bunga acuan, untuk memperkuat pendalaman pasar keuangan.

"Jadi kita harapkan Indonia dapat menjadi satu-satunya acuan harga di pasar keuangan yang kredibel berdasarkan harga transaksi yang terjadi di pasar," imbuh dia.

Adapun reformasi suku bunga acuan ini telah dipersiapkan oleh Bank Indonesia sejak jauh-jauh hari. Indonia sendiri sudah mulai dipublikasikan sejak 1 Agustus 2018, paralel dengan publikasi JIBOR.

Selanjutnya, kebijakan pengakhiran JIBOR diumumkan sejak 27 September 2024. Disertai dengan Panduan Transisi Pengakhiran JIBOR yang disusun oleh National Working Group on Benchmark Reform (NWGBR).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6