BTN Bangun Dapur Umum di Pidie Jaya Aceh, Siapkan 1.000 Porsi Makanan per Hari

Dapur umum yang dibangun BTN menjadi pusat penyediaan makanan siap saji bagi para pengungsi dan relawan di lokasi bencana.

Diterbitkan 18 Desember 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dengan membangun dapur umum serta menyerahkan berbagai bantuan darurat untuk mendukung kebutuhan pengungsi.

Bantuan yang disalurkan BTN meliputi pembangunan satu tenda dapur umum dengan kapasitas penyediaan hingga 1.000 porsi makanan per hari, satu tenda posko kesehatan yang dilengkapi dengan dua dokter dan dua perawat, serta delapan tenda pengungsian untuk masyarakat terdampak.

Direktur Utama Nixon LP Napitupulu mengatakan dapur umum yang dibangun tersebut menjadi pusat penyediaan makanan siap saji bagi para pengungsi dan relawan di lokasi bencana. Selain itu, kehadiran posko kesehatan diharapkan dapat memberikan layanan medis dasar secara cepat dan berkelanjutan bagi para korban terdampak banjir.

"Kami juga terus berkoordinasi dinas terkait di Pidie Jaya untuk memastikan bantuan yang diberikan dapat meringankan beban para korban terdampak banjir terutama untuk mendapatkan kebutuhan dasar mulai dari makanan, layanan kesehatan, hingga tempat berlindung," ujar Nixon dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/12).

Nixon juga menegaskan BTN berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi kemanusiaan dalam menghadapi berbagai situasi darurat di Indonesia.

Selain di Pidie Jaya, BTN juga akan membangun dapur umum di Kabupaten Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Kabupaten Bireuen untuk mempercepat penyaluran bantuan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat terdampak banjir.

Sebelumnya, karyawan hingga Direksi BTN turun langsung ke Sumatera untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir. Kehadiran BTN diharapkan membawa dukungan moril bagi para korban banjir di masa yang sulit tersebut.

BTN Relaksasi Kredit 22.879 Nasabah Terdampak Bencana Sumatera

Sebelumnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memberikan relaksasi kredit khusus kepada 22.879 nasabah kredit konsumer yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera.

Kebijakan ini diberikan melalui skema restrukturisasi kredit yang disesuaikan dengan tingkat dampak bencana, guna menjaga keberlangsungan kemampuan bayar debitur pascabencana sekaligus mendukung pemulihan ekonomi di daerah terdampak.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah bencana yang dialami masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera.

“Kami sangat prihatin atas musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk para nasabah yang menerima kredit konsumer BTN. Dalam situasi seperti ini, yang terpenting adalah memastikan masyarakat memiliki ruang untuk pulih tanpa terbebani tekanan finansial yang berlebihan,” ujar Nixon dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025).

Nixon menegaskan bahwa relaksasi kredit diberikan sebagai bentuk keberpihakan BTN kepada nasabah kredit konsumer yang terdampak langsung bencana, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian perbankan.

“Relaksasi kredit kami berikan secara terukur dan berbasis kondisi riil di lapangan kepada nasabah kredit konsumer. Kami ingin memastikan nasabah terdampak tidak kehilangan kesempatan untuk bangkit, sekaligus tetap dapat menjalankan kewajiban kreditnya secara berkelanjutan,” ujarnya.

 

 

Hasil Pemetaan

Berdasarkan hasil pemetaan dan klasifikasi tingkat kerusakan, BTN mencatat 22.879 nasabah kredit konsumer terdampak banjir dan tanah longsor yang tersebar di wilayah kantor BTN di Banda Aceh (BSN), Medan, Padang, dan Pematang Siantar, dengan total nilai baki debet kredit konsumer mencapai Rp 1,93 triliun.

“Data jumlah nasabah terdampak ini masih akan terus bergerak seiring dengan perkembangan kondisi di lapangan. Karena itu, relaksasi kredit kami berikan secara bertahap dan adaptif, sesuai kondisi terbaru di masing-masing wilayah terdampak,” ujar Nixon.

Nixon menjelaskan bahwa relaksasi kredit diberikan berdasarkan tingkat dampak bencana yang dialami nasabah kredit konsumer. Nasabah dengan kategori terdampak ringan memperoleh masa tenggang pembayaran angsuran hingga 6 bulan, kategori terdampak sedang hingga 9 bulan, dan kategori terdampak berat hingga 12 bulan. Kebijakan restrukturisasi ini berlaku hingga tiga tahun sejak ditetapkan pada 10 Desember 2025, serta dapat diperpanjang sesuai kebutuhan dan hasil evaluasi bank.

“Kami melakukan klasifikasi dampak secara menyeluruh agar kebijakan relaksasi benar-benar tepat sasaran. Setiap nasabah kredit konsumer mendapatkan perlakuan sesuai kondisi yang dialami, bukan disamaratakan,” jelas Nixon.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6