Lewat Aksi Tanam 1.000 Kebaikan, Bank Raya Perkuat Implementasi ESG dan Dorong Inovasi Green Banking

Bank RAYA meluncurkan program bertajuk Mission VGNZ Program (MVP) Aksi Tanam 1.000 Kebaikan yang menggabungkan inovasi digital dengan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove.

Diterbitkan 31 Oktober 2025, 16:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PT Bank Raya Indonesia Tbk, bank digital bagian dari BRI Group, mempersembahkan program bertajuk Mission VGNZ Program (MVP) Aksi Tanam 1.000 Kebaikan. Inisiatif ini menjadi wujud nyata komitmen perusahaan terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR). Menariknya, Aksi Tanam 1.000 Kebaikan menggabungkan inovasi digital dengan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove.

Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan Sumber Daya Manusia (SDM) Bank Raya, Danar Widyantoro, menegaskan bahwa penerapan ESG bukan sekadar memenuhi regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tetapi juga langkah strategis untuk mengelola risiko dan menjaga keberlanjutan perusahaan di masa depan, serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam program ini, nasabah menjadi kunci utama. Mereka diajak berkontribusi menanam pohon mangrove setiap kali bertransaksi menggunakan QRIS atau melakukan top up e-wallet di aplikasi Raya. Melalui Mission VGNZ Program (MVP) Aksi Tanam 1.000 Kebaikan mulai 25-26  April dan 25-26 Mei 2025 dengan Total nasabah yang berkontribusi dalam program Aksi Tanam 1000 Kebaikan ini mencapai lebih dari 3.500 nasabah, sedangkan pada program MVP Vaganza berhasil mencatatkan volume transaksi pada QRIS dan Top Up e-wallet sebesar Rp 660,3 juta.

“Kami melibatkan nasabah untuk berpartisipasi dalam hal yang positif, seperti misalnya pelestarian lingkungan dengan kontribusi dalam program penanaman Mangrove di Tanam 1000 kebaikan ini. Dalam hal ini, kita kemas dengan program yang menarik yaitu program Mission Vaganza yang mendorong minat nasabah untuk bertransaksi menggunakan Aplikasi Raya,” ujar Danar di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Program penanaman mangrove Tanam 1000 Kebaikan ini dilaksanakan di Pantai Mangunharjo, Semarang, Jawa Tengah, bekerja sama dengan Yayasan Bakau Manfaat Universal (BakauMU) dan kelompok petani pesisir Ngebruk Lestari (KENARI). Program ini juga menjadi bagian dari inisiatif Pantura Green Belt Program yang berfokus pada mitigasi perubahan iklim dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Selain berfungsi mengurangi abrasi pantai, kegiatan ini turut menjadi sarana pemberdayaan masyarakat serta meningkatkan literasi keuangan melalui transaksi digital Bank Raya.

Berpotensi Serap Karbon Dioksida 2,3 Ton CO₂ per Tahun

Bank Raya mencatat, penanaman 3.500 pohon mangrove tersebut berpotensi menyerap sekitar karbondioksida 2,3 ton CO₂ per tahun, dengan jumlah serapan yang akan meningkat seiring pertumbuhan pohon.

Tak sekadar menanam, Bank Raya bersama BakauMU juga menerapkan sistem pemantauan berkelanjutan terhadap mangrove yang sudah ditanam, guna memastikan keberlanjutan dampak lingkungannya.

“Pemeliharaan menjadi sangat penting. Apabila ada yang mati akan disulam atau digantikan,” tambah Danar.

Menyusun Perhitungan Karbon dan Transparansi ESG

Selain program penanaman mangrove, Bank Raya juga tengah menyusun perhitungan karbon dari berbagai aktivitas operasional sebagai bagian dari climate stress testing yang diwajibkan regulator. Penghitungan tersebut mencakup efisiensi penggunaan air, listrik, dan kertas.

“Mudah-mudahan nanti hitungan kami selesai di akhir tahun ini. Beberapa sudah disampaikan, dan ini nanti akan coba kita sampaikan juga secara real time di aplikasi,” jelas Danar.

“Bahkan di inisiatif kami tahun depan, nanti di beberapa aplikasi kami — termasuk aplikasi Raya — akan kami tampilkan dashboard terkait peran serta penyerapan karbon yang sudah diinisiasi oleh Bank Raya,” ungkapnya.

Ketua Yayasan Bakau Manfaat Universal (BakauMU), Muhamad Nasir, menambahkan bahwa menanam mangrove berdampak signifikan dalam menekan emisi karbon.

“Seluruh dunia tentunya sudah bersepakat bahwa kita dalam situasi yang tidak baik-baik saja, sehingga dunia juga sudah bersepakat untuk membangun satu mekanisme yang bisa mengurangi dampak terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Nasir menekankan bahwa mangrove menjadi solusi paling efektif dalam mitigasi emisi, karena mampu mengurangi emisi lima kali lebih banyak dibandingkan tanaman di darat.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6